Perjuangan Menyelamatkan Gedung Cantik Peninggalan Kekaisaran Utsmaniyah

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 18:52 WIB
Jakarta -

Fotografer Joseph Khoury dan arsitek Gabriela Cardozo menghabiskan lima tahun demi mendokumentasikan rumah-rumah peninggalan era Kekaisaran Utsmaniyah dan kolonial Prancis, yang kini berisiko dihancurkan.

Lima hari setelah ledakan dahsyat di Beirut yang menewaskan lebih dari 220 orang dan menyebabkan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal, Joseph Khoury dan istrinya Gabriela Cardozo melakukan perjalanan ziarah ke Gemmayzeh dan Mar Mikhael, dua kawasan bersejarah yang berlokasi dekat pelabuhan.

Mereka membawa 30 lembar kartu pos - setiap foto dalam serial mereka Bouyout Beirut (Houses of Beirut) yang merekam keindahan arsitektur Beirut di masa kekuasaan Kekaisaran Utsmaniyah dan Prancis.

Menyusuri puing-puing, dan mencari di antara fasad-fasad yang terlihat asing lantaran kerusakan dahsyat, mereka melacak 25 bangunan.

Di masing-masing bangunan itu, mereka meninggalkan selembar kartu pos - sebagai pengingat dari apa yang mereka pertaruhkan.

"Kami bahkan tidak tahu apa yang akhirnya akan kami lakukan. Itu terjadi begitu saja ketika kami berujar, 'Oke, kita punya berbagai kartu pos dan tampaknya sangat berbeda, biarkan saja begitu, dan barangkali orang-orang akan ingat bagaimana bentuknya,'" ujar Cardozo, seorang arsitek yang pindah ke Beirut dari Venezuela enam tahun silam.

Di tengah-tengah reruntuhan, mereka tidak dapat mengidentifikasi lima bangunan terakhir.

"Sulit mengenali beberapa dari bangunan itu, karena ada beberapa di antaranya yang benar-benar hancur," paparnya.

Setelah ledakan pada 4 Agustus, yang disebabkan 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan kota, berkembang kekhawatiran perihal bagaimana menjaga sisa-sisa warisan arsitektur Beirut.

Ribuan bangunan bersejarah telah hilang dalam hampir tiga dekade semenjak perang saudara berakhir, lemahnya perlindungan negara memungkinkan para pengembang menghancurkan bangunan-bangunan itu dan menggantinya dengan gedung pencakar langit modern.

Saat ini banyak yang merasa khawatir kerusakan akibat ledakan itu dapat dimanfaatkan sebagai alasan untuk menghancurkan beberapa bangunan tersisa.

Serangkaian foto yang memperlihatkan Khoury dan Cardozo sedang memegang kartu pos mereka di depan bangunan yang hancur telah dibagikan oleh lebih dari 1.500 orang yang merasa khawatir akan keberadaan gedung-gedung tersebut.

Kawasan Gemmayzeh dan Mar Mikhael yang bersejarah itu berada di antara wilayah yang terparah akibat ledakan.

Beberapa bangunan roboh. Ada lubang di dinding dan langit-langit di sejumlah gedung lainnya.

Balkon-balkon yang terbuat dari beton melesak ke bawah, menghancurkan mobil-mobil; genteng-genteng terlempar berhamburan dari atap hingga hancur di jalan-jalan di bawahnya; pinggiran balkon berornamen besi tempa menjadi melengkung, dan daun jendela kayu yang bercat indah berubah karena hantaman ledakan mematikan.

UNESCO, yang telah berjanji menggalang upaya restorasi berskala internasional, melaporkan bahwa ada 640 bangunan bersejarah yang rusak dalam ledakan itu. Lalu ada sekitar 60 bangunan yang berisiko runtuh.

Total biaya restorasi saat ini diperkirakan mencapai $300 juta atau sekitar Rp4,4 triliun.

Krisis yang datang di akhir tahun yang sulit bagi Lebanon. Protes masif anti pemerintah yang dmulai akhir Oktober lalu, berlanjut selama berbulan-bulan, karena keruntuhan ekonomi Lebanon dan nilai mata uang pound Lebanon jatuh sampai 80%.

"Revolusi dimulai pada 17 Oktober - setelah itu ada pandemi, lalu ledakan - jadi lebih dari setengah tahun Anda dihajar oleh faktor eksternal," kata Cardozo, yang merasa khawatir bahwa para penghuni gedung-gedung yang rusak tidak akan mendapat dana untuk memperbaikinya.

Dia dan Khoury memulai proyek Bouyout Beirut pada 2016, dengan menciptakan tiga serial karya fotografi yang menampilkan rumah-rumah bersejarah di Gemmayzeh dan Mar Mikhael.

Dua kawasan itu kaya dengan aneka ruang budaya dan studio milik para seniman di Beirut, begitu pula butik-butik kecil dan restoran-restoran serta bar-bar tersohor.

Karya foto mereka mengabadikan pesona yang telah pudar dari bangunan-bangunan kuno, dari bingkai jendela yang bengkok serta jendela pecah, hingga bekas lubang menganga akibat terjangan muntahan peluru selama perang saudara, yang melanda negeri itu dari 1975 hingga 1990.

Bahkan sebelum terjadi ledakan, beberapa gedung sudah ditinggalkan dan dibiarkan merana dalam kehancuran.

"Kami biasanya melihat kartu pos yang sama dari Beirut Semuanya sangat bagus dan rapi. Tapi kami perlu memperlihatkan Beirut apa adanya. Mentah. Kadang-kadang berantakan. Tetapi ini sangat nyata - penuh kontras," kata Cardozo.

Khoury, yang tumbuh dan berkembang dengan mendengarkan keindahan Lebanon sebelum perang, tidak hanya melihat gedung-gedung sebagai simbol masa lalu Lebanon, tetapi juga masa depan Lebanon.

"Gedung-gedung itu merupakan bagian dari identitas Beirut. Mereka merupakan representasi dari kepentingan umum dan kemungkinan-kemungkinan seperti apa kita nantinya," katanya.

"Gedung-gedung itu memberi kita harapan dan mengingatkan kita hari-hari ketika Beirut berkembang."

Keindahan yang rapuh

Gemmayzeh dan Mar Mikhael merupakan sebagian dari kawasan pertama yang dibangun setelah Beirut mulai berkembang melampaui tembok kota kunonya, jelas Antoine Atallah, arsitek dan perencana kota, yang juga wakil pimpinan sebuah LSM lokal Save Beirut Heritage.

"Mereka beruntung dapat selamat dari perang saudara dan hiruk pikuk real estate yang menghancurkan begitu banyak gedung bersejarah dan memecah belah begitu banyak kawasan bersejarah," katanya.

Tidak seperti gedung-gedung lain peninggalan masa Kekaisaran Utsmaniyah dan kekuasaan Prancis yang tersebar di seluruh Beirut, yang sering kali terisolasi di antara gedung-gedung apartemen modern bertingkat tinggi, "bangunan-bangunan [di dua kawasan] itu merupakan struktur perkotaan lengkap, yang masih aman dan utuh serta koheren".

Kedua wilayah tersebut terdiri dari arsitektur Utsmaniyah dari paruh kedua abad ke 19, termasuk vila dua lantai yang luas dengan atap genteng berwarna merah dan ruangan besar di tengah bangunan yang menonjolkan tiga jendela melengkung.

Gedung-gedung yang dibangun antara 1920 sampai 1945, ketika Lebanon berada di bawah penjajahan Prancis, juga memiliki nilai sejarah yang sama.

Berderet dan membentuk bangunan yang memanjang, kebanyakan gedung-gedung itu bertingkat tiga atau empat, dengan menampilkan tambahan balkon dengan pagar besi tempa yang dekoratif.

Menurut Atallah, gedung-gedung dari masa Utsmaniyah biasanya rentan dari daya kejut ledakan.

"Ruangan tengah dan tiga jendela lengkung itu pada dasarnya membagi fasad menjadi dua dan Anda hanya akan mendapatkan kolom marmer sangat tipis dan halus, yang menyangga keseluruhan fasad," jelasnya.

"Anda punya jendela-jendela besar Anda punya banyak void (ruang kosong yang berada di antara lantai atas dan lantai bawah) - semua ini terbuat dari batu pasir yang tipis.

"Sehingga, bukan hanya menciptakan arsitektur yang rupawan, tetapi juga arsitektur yang relatif rapuh, yang tidak dibangun untuk menahan kekuatan ledakan semacam itu," paparnya.

Banyak yang mengkhawatirkan kerusakan gedung-gedung itu dapat dijadikan alasan untuk meruntuhkan bangunan dan bukannya memperbaikinya.

"Ada desas desus bahwa para pemilik ditawari segepok uang agar mau menjualnya Ada risiko bahwa siapapun yang akan membeli gedung-gedung itu hanya akan menghancurkannya dan membangun gedung-gedung pencakar langit demi mengambil keuntungan dari lahan itu, menghasilkan lebih banyak uang, lebih banyak keuntungan," kata Khoury.

Sebuah keputusan yang dikeluarkan oleh kementerian keuangan pada 12 Agustus bertujuan untuk mencegah 'eksploitasi' setelah ledakan itu, dengan mencegah penjualan bangunan bersejarah tanpa izin kementerian kebudayaan.

Tetapi Atallah mengatakan bahwa masih ada ancaman lainnya yang harus ditangani sesegera mungkin, termasuk risiko pengabaian dari pemilik yang tidak memiliki duit untuk merehabilitasi bangunan mereka.

"Selama perang saudara kami tidak pernah mengalami kejadian warga meninggalkan rumah-rumahnya, gedung-gedung miliknya, dan tidak kembali lagi. Kami tidak menginginkan hal itu terjadi," katanya.

Ancaman lainnya adalah banyaknya keluarga yang mengungsi sementara, beberapa orang hanya melakukan perbaikan seefisien dan secepat mungkin, menutup jendela bersejarah berbentuk lengkung itu untuk menyediakan tempat perlindungan dari hujan musim dingin yang akan datang.

Para relawan terus bekerja untuk meyakinkan para pemilik dan penyewa bahwa bantuan segera mengalir.

"Mereka tidak sendiri dalam perjuangan ini Begitu sistem yang benar ada, akan ada jalan untuk membiayai renovasi gedung-gedung bersejarah yang rusak karena ledakan.

"Ini benar-benar sesuatu yang sangat serius dikerjakan oleh banyak organisasi internasional," kata Atallah.

"Seharusnya mereka tidak putus asa - meski mereka punya banyak alasan untuk putus asa. Bagi kami ini benar-benar penting Kami ingin menyelamatkan bukan hanya gedung-gedung, tetapi juga tatanan sosial yang membuat gedung-gedung ini hidup."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini The battle to save Beirut's beautiful buildings di BBC Culture.

(ita/ita)