Akibat Pandemi Corona, Kemiskinan Ekstrem di Dunia Melonjak Sejak 1998

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2020 16:46 WIB
Getty Images
Washington DC -

Bank Dunia menyebut negara-negara perlu membuat kebijakan ekonomi yang berkelanjutan untuk mengatasi ancaman kemiskinan ekstrem.

Akibat pandemi virus Corona, kemiskinan ekstrem diprediksi akan meningkat pada tahun ini, yakni sekitar 115 juta orang masuk ke kategori kemiskinan tersebut.

Kenaikan angka kemiskinan ekstrem ini tercatat menjadi yang pertama kali terjadi sejak tahun 1998 atau dua dekade terakhir. Ketika itu, krisis keuangan negara-negara Asia mengguncang ekonomi global.

Dalam situasi ini, Bank Dunia menyatakan akan terus menyediakan pinjaman hingga ribuan triliun rupiah untuk negara-negara berkembang.

Bank Dunia mendefinisikan orang yang mengalami kemiskinan ekstrem sebagai orang yang hidup dengan uang kurang dari US$ 1,9 atau Rp 28.000 sehari.

Bank Dunia juga menyebut pandemi memicu beragam konflik, termasuk yang berkaitan dengan isu perubahan iklim. Dampak pandemi itu mereka sebut memperlambat upaya mengurangi kemiskinan.

Pada 2021, menurut Bank Dunia, jumlah orang miskin ekstrem bisa meningkat menjadi total 150 juta orang.

Padahal sebelum pandemi melanda, angka kemiskinan ekstrem diperkirakan turun menjadi 7,9% pada 2020.

Namun sekarang kemiskinan itu justru akan mempengaruhi antara 9,1% dan 9,4% dari populasi dunia tahun ini. Persentase itu muncul dalam Laporan Kemiskinan dan Kesejahteraan Bersama Bank Dunia.

Poverty

BBC

Di sisi lain, kekayaan miliuner di berbagai negara justru mencapai rekor tertinggi selama pandemi ini. Pimpinan puncak perusahaan teknologi dan industri manufaktur adalah mereka yang mendapatkan keuntungan terbanyak.

Kekayaan orang terkaya di dunia naik 27,5% menjadi US$ 10,2 triliun (Rp 150.266 triliun) dari April hingga Juli tahun ini, menurut laporan dari bank yang berbasis di Swiss, UBS.

'Kemunduran serius'

Sejak 2013, Bank Dunia mengklaim berupaya agar mereka yang hidup hanya dengan Rp 28.000 sehari tidak lebih dari 3% populasi dunia pada tahun 2030.

Namun, mereka kini menyebut target itu tidak akan tercapai tanpa kebijakan yang cepat, signifikan, dan substansial.

Laporan Bank Dunia menemukan bahwa banyak orang miskin baru berada di negara-negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Sekitar 82% dari total orang miskin itu diperkirakan berada di negara-negara berpenghasilan menengah.

Bank Dunia menilai upaya mengurangi kemiskinan global sebenarnya melambat sebelum krisis COVID-19.

Antara tahun 2015 dan 2017, sekitar 52 juta orang mampu keluar dari kategori miskin, tapi penurunan selama periode itu kurang dari 0,5% per tahun.

Penurunan angka kemiskinan itu kurang cepat dibandingkan periode antara 1990 dan 2015. Ketika itu kemiskinan global turun dengan laju sekitar 1% setahun.

"Pandemi dan resesi global dapat menyebabkan lebih dari 1,4% populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem," kata presiden Grup Bank Dunia, David Malpass.

Malpass menyebut bahwa upaya untuk membalikkan 'kemunduran serius' itu, negara-negara perlu mempersiapkan strategi ekonomi yang berbeda setelah pandemi. Siasat itu, kata dia, adalah memindahkan modal, tenaga kerja, dan inovasi ke sektor bisnis baru.

Namun, Malpass berjanji Bank Dunia akan terus membantu negara-negara berkembang yang disebutnya berupaya menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Bank pemberi pinjaman yang berbasis di Washington, Amerika Serikat itu menawarkan hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai $160 miliar (Rp 2.357 triliun) untuk membantu lebih dari 100 negara miskin mengatasi krisis ekonomi ini.

(nvc/nvc)