Suhu di September 2020 Terhangat dalam Catatan di Seluruh Dunia

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 08 Okt 2020 17:14 WIB
Meningkatnya pemanasan global berkontribusi pada kebakaran terbesar dalam sejarah di California. (Getty Images)
Jakarta -

Suhu sepanjang September 2020 adalah yang terhangat dalam catatan di seluruh dunia, menurut layanan cuaca Copernicus.

Temperatur pada bulan tersebut 0,05 derajat celsius lebih panas dari September tahun lalu, yang sebelumnya mencetak rekor suhu tertinggi.

Para ilmuwan mengatakan ini adalah indikasi jelas dari kenaikan suhu yang didorong oleh emisi dari peradaban manusia.

Copernicus, program pemantauan Bumi yang dijalankan oleh Uni Eropa, mengatakan kehangatan di Arktik Siberia terus mencapai jauh di atas rata-rata.

Dan mereka mengonfirmasi bahwa luas es di laut Arktik berada pada tingkat kedua terendah sejak catatan satelit dimulai.

Suhu tahun ini diproyeksikan sebagai yang terhangat di Eropa, meski suhu di wilayah itu mendingin sejak sekarang.

Peningkatan panas global berkontribusi pada kebakaran hutan di California dan Australia.

Fenomena ini juga menyebabkan hari terpanas dalam catatan sejarah - sampai 54,4C di Death Valley.

Dan ia juga punya andil dalam hujan deras yang membanjiri Prancis selatan, dengan curah hujan lebih dari setengah meter dalam sehari.

Kantor pemantau cuaca di Prancis mengatakan hujan lebat seperti ini diprediksi terjadi sekali dalam 100 tahun tapi sudah terjadi dua kali dalam seminggu.

Samantha Burgess, dari Copernicus, berkata kepada BBC News: "Beberapa peristiwa ini luar biasa meskipun kita tidak boleh membuat harapan palsu bahwa suhu akan naik dari tahun ke tahun.

"Iklim dan cuaca sangat bervariasi. Tetapi kami memprediksi bahwa peristiwa semacam ini akan terjadi, mengingat efek [aktivitas] kita pada iklim."

Rekor cuaca selalu dipecahkan secara alami, namun para ahli meteorologi berkata mereka merasa terganggu oleh beberapa peristiwa ekstrem baru.

Inggris baru saja menikmati Musim Semi paling cerah dalam catatan; pada bulan Agustus, terdapat paling banyak hari yang suhunya melebihi 34C; dan kota Reading baru saja mengalami periode terbasah mereka selama 48 jam.

Ed Hawkins, dari Reading University, berkata: "Kami sudah mengatakan ini selama puluhan tahun - semakin banyak gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan semakin besar."

Orang berkerumun di pantai

Warga Inggris berbondong-bondong datang ke pantai di musim panas. (PA Media)

Dia memperingatkan peristiwa-peristiwa ini dialami hanya dengan satu derajat pemanasan global di atas rata-rata, sementara dengan laju dekarbonisasi saat ini dunia sedang menuju peningkatan sebesar tiga derajat.

"Satu derajat pemanasan berbahaya bagi sebagian orang, seperti yang kita lihat," ujarnya. "Dua derajat lebih berbahaya, dan tiga derajat jauh lebih berbahaya. Kami benar-benar tidak ingin mencari tahu akan seperti apa jadinya."

Laporan-laporan itu dirilis saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan Inggris akan memerangi perubahan iklim dengan menjadi penghasil energi angin.

Pidatonya disambut baik oleh para pecinta lingkungan, tetapi para pengkritik berkata dia perlu mendukung janji-janjinya dengan kebijakan dan anggaran.

(ita/ita)