Perang Armenia-Azerbaijan, Warga Sebut Situasinya Mengerikan Tapi Dunia Diam

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 19:31 WIB
Banyak pengungsi terperangkap di tengah konflik di Nagorno-Karabakh. (Vladimir Komissarov / BBC)
Jakarta -

Armenia and Azerbaijan terus saling tuduh atas serangan dan penembakan yang dilakukan satu sama lain.

Otoritas Armenia mengatakan, Stepanakert, ibu kota Nagorno-Karabah (wilayah yang menjadi sengketa kedua negara) telah dibom, sementara Azerbaijan mengeklaim kota terbesar kedua di negara itu, Ganja, telah luluh lantak.

Tim BBC Rusia mengunjungi sejumlah kota di Nagorno-Karabakh dan menjadi saksi pertempuran antara kedua kubu, serta bertemu warga sipil yang terperangkap di tengah konflik.

Kami melakukan perjalanan melalui Lachin, sebuah kota yang dekat dengan perbatasan antara Nagorno-Karabakh dan Armenia.

Di sana, terdengar bunyi sirene yang menjadi peringatan kemungkinan adanya penembakan.

Militer Azerbaijan telah menyerang jembatan di kota ini selama tiga hari berturut-turut, berusaha memutus jalur transportasi antara Armenia dan Karabakh.

Ada dua jalan raya yang menghubungkan Armenia ke Karabakh. Wilayah utara, di tepi Danau Sevan, berdekatan dengan wilayah yang dikuasai Azerbaijan.

Jembatan di Lachin ini berulang kali diserang.Vladimir Komissarov / BBCJembatan di Lachin ini berulang kali diserang.

Sejak hari-hari pertama konflik, jalan itu terputus.

"Koridor Lachin" adalah rute utama dari ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, ke ibu kota Armenia, Yerevan.

Kami berhasil menuju Stepanakert pada hari Minggu pagi, tetapi pada malam hari jembatan menjadi tidak terlalu aman untuk dilintasi.

Pekerja jalan menuangkan kerikil ke lubang yang dangkal sehingga mobil dapat melaju melintasi jalan.

Serangan udara yang memekakkan telinga

Saat kami berkendara melalui pusat Lachin, pengeboman baru dimulai dan sirene serangan udara memekakkan telinga.

Sebuah mobil polisi berlomba di jalan, terdengar suara berteriak melalui pengeras suara, mendesak orang-orang untuk berlindung secepat mungkin.

Bagi kru BBC, tempat penampungan terdekat adalah gudang bawah tanah sebuah supermarket.

Pemiliknya, seorang perempuan bernama Nelly, menghabiskan 17 tahun tinggal di California, Amerika Serikat, sebelum memutuskan untuk pulang ke kampung halaman bersama keluarganya.

Ruang bawah tanah hotel ini digunakan sebagai tempat perlindungan para warga dari serangan kedua kubu.Vladimir Komissarov / BBCRuang bawah tanah hotel ini digunakan sebagai tempat perlindungan para warga dari serangan kedua kubu.

Dua ruangan berisi peti berisi tomat, kantong beras, botol brendi dan sekop, perlahan-lahan terisi orang.

Ada penduduk lokal di sini dan mereka yang, seperti kita, sedang melakukan perjalanan melalui Lachin, yang kebetulan berada di jalan ini.

Beberapa dari orang-orang ini sedang dalam perjalanan dari Stepanakert, mencoba melarikan diri dari pertempuran.

Yang lainnya sedang menuju ke sana.

Nelly menawarkan kopi dan makanan untuk semua orang, yang kemudian dia buat di sini, di ruang bawah tanah.

Seorang artis dan seorang petempur

Seorang pria kurus dengan rambut beruban mengenakan rompi dan kardigan wol terlihat bukan dari sini. Pikiran pertama kami - dia pasti sesama jurnalis.

Tapi ternyata pria bernaa Grachik Armenakian itu seorang seniman.

Ketika perang pertama memperebutkan Karabakh, dia adalah seorang pelajar.

Pada 2016, ketika babak terakhir pertempuran sengit terjadi, dia tinggal di Moskow.

Seniman ini berpikir militer akan memanggil orang-orang untuk berperang, meski mereka tidak memiliki pengalaman bertempur.Vladimir Komissarov / BBCSeniman ini berpikir militer akan memanggil orang-orang untuk berperang, meski mereka tidak memiliki pengalaman bertempur.

Dia kini tinggal di Yerevan. Dia menuturkan bahwa dirinya tidak menghiraukan pendapat teman atau keluarganya keitka dia akan ikut bertempur dalam perang ini.

"Mereka akan mengatakan kepada saya bahwa itu bukan urusan saya! 'Mengapa kamu harus pergi ke sana? Tetap di rumah!' Saya hanya memberi tahu semua orang bahwa saya harus pergi ke Karabakh dan saya pergi pagi ini," katanya kepada kami.

Kami tidak dapat menahan diri untuk bertanya apa yang Grachik rencanakan di Nagorno-Karabakh, karena dia belum pernah berperang sebelumnya.

Apakah dia akan menjadi sukarelawan sebagai tentara?

"Saya pikir saya bisa menjadi penunjuk arah artileri," katanya.

"Kami, seniman, memiliki rasa ruang dan jarak yang baik."

Jalan ini menghubungkan Armenia dan Nagorno-Karabakh.Vladimir Komissarov / BBCJalan ini menghubungkan Armenia dan Nagorno-Karabakh.

Grachik sama sekali tidak pernah mengikuti latihan kemiliteran, tapi dia berharap dia akan mendapatkan pelatihan.

Dia juga berpikir segala dukungan adalah sangat penting dalam perang, baik bantuan moral, bantuan fisik dan "bantuan talenta", katanya.

Kedatangan

Keputusannya untuk bertempur di Nagorno-Karabakh tampak unik dan aneh, namun kami menyaksikan sendiri warga Armenia dari penjuru dunia kini menuju Karabakh via Moskow.

Selain pesawat kecil dengan rute Yerevan-Moskow, ada pesawat Boeing 777 - jenis pesawat yang biasanya menerbangkan turis-turis di destinasi liburan populer, seperti New York dan Thailand - yang kini melayani rute tersebut.

LachinVladimir Komissarov / BBCKru BBC melewati kota Lachin.

Akan tetapi, pandemi virus corona telah mengubah rute para turis dan perang semakin memperparah kondisi.

Kini, puluhan pria berusia sekittar 50-an dan 60-an terbang menggunakan pesawat ini menuju Nagorno-Karabakh. Banyak dari mereka telah melakukan ini sebelumnya pada 30, 20 atau bahkan empa tahun lalu.

Khawatir

Seorang perwakilan pihak berwenang, Gevorg Mnatsakan, mengatakan bahwa Lachin bukan satu-satunya kota yang penting bagi masa depan Karabakh.

"Semua kota sama pentingnya bagi kami."

Dia berkata bahwa belum ada penembakan atau kerusakan serius di Lanchin sejauh ini.

Gevorg MnatsakanVladimir Komissarov / BBCGevorg Mnatsakan berkata kepad BBC semua kota di Nagorno Karabakh sama pentingnya.

Percakapan kami terus-terusan diiinterupsi oleh beberapa pria dengan seragam militer.

Jika pada awal pertempuran antara kedua kubu kali ini militer menghendaki keberadaan jurnalis untuk meliput konflik yang terjadi, kini mereka terlihat lebih khawatir.

Mereka tidak menghendaki adanya siaran langsung, baik melalui internet atau siaran televisi, karena mereka khawatir itu akan menunjukkan detail lokasi wawancara.

Kami hanya bisa merekam mereka dengan latar belakang polos, sehingga tak ada lanskap di latar belakang yang bisa menunjukkan keberadaan kami.

Pengungsi dan relawan

Kembali ke ruang bawah tanah, kerumunan orang semakin banyak seiring ketika kami menunggu serangan tembakan berakhir.

Ada banyak orang di sini: jurnalis yang baru saja meninggalkan Stepanakert, beberapa pengungsi dari desa-desa dekat dengan perbatasan Azerbaijan, relawan dalam perjalanan menuju zona perang.

Beberapa perempuan menangis, sedih karena kehilangan rumah. Sementara lainnya lebih tenang dan berdiskusi secara tenang kapan mereka mungkin bisa kembali.

Stepanakert dilihat dari Shusha.Vladimir Komissarov / BBCStepanakert dilihat dari Shusha.

Beberapa pria merokok di pintu ruang bawah tanah, berpura-pura tidak merasa takut.

Mereka mengeklaim bahwa meski diberitahu untuk berlindung, tapi pemboman sebenarnya jauh di Stepanakert.

Tak lama setelah mereka menuntaskan perkataannya, sebuah bom meledak tak jauh dari kami berada.

Mereka langsung bersembunyi di ruang bawa tanah bersama yang lain.

'Ini adalah situasi yang mengerikan, namun dunia diam'

Sebuah kota kuno Shusha berjarak sekitar 10-15 menit perjalanan dari Stepanekaret.

Ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, terletak di lembah, semenara Shusha berada di dataran tinggi.

Kota itu lebih jarang dibom, namun ketika terjadi pengeboman, sangat sulit untuk mencari perlindungan.

Pada Minggu, sebuah pusat budaya di Susha tempat beberapa pengungsi bersembunyi terkena peluru.

Pihak berwenang Nagorno-Karabakh mengklaim bahwa setidaknya empat warga sipil tewas hari itu, di Shusha dan Stepanakert.

Anda dapat melihat Stepanakert dari Shusha dengan sangat baik.

Kami mengambil gambar di sini selama beberapa jam dan selama kami di sini tidak ada penembakan.

Tetapi kita tahu bahwa setiap pagi dan setiap malam Stepanakert dibom tanpa henti.

Kolega jurnalis kami yang tinggal di Stepanakert mengatakan bahwa keadaan semakin buruk setiap hari.

Di Shusha kami bertemu dengan orang-orang, kebanyakan sudah sangat tua, yang datang dari desa-desa yang dekat dengan perbatasan Azerbaijan.

Para pengungsi berlindung dari serangan bom di ruang bawah tanah.Vladimir Komissarov / BBCPara pengungsi berlindung dari serangan bom di ruang bawah tanah.

Raya Gevorkian adalah seorang guru dari Rusia. Dia mendapat telepon dari otoritas lokal bahwa dia disuruh pergi.

"Mereka ingin menghindari korban warga sipil sebanyak yang mereka bisa. Sekitar 50 orang telah pergi," tuturnya kepada kami.

Pada 1988 dia terpaksa meninggalkan Azerbaijan. Pada 1992 dan 2016, dia harus meninggalkan Nagorno-Karabakh untuk sementara.

Dia memiliki dua pria yang bertugas di garda depan dan dia belum mendapat kabar apakah keduanya masih hidup karena dia tidak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Perempuan lain dalam kelompok pengungsi adalah Aida Melkanian, yang juga merasa khawatir akan orang terdekatnya.

Putranya telah menjalani wajib militer pada usia 18 tahun, dan dia juga memiliki saudara laki-laki yang secara sukarela bertempur.

Aida mengatakan dia mendengar dari kakaknya beberapa hari yang lalu: dia mengatakan padanya bahwa dia sedang diserang dan sekarang mencoba pergi ke Stepenakert dengan berjalan kaki. Tidak ada transportasi.

"Dia bilang dia tidak terluka tapi saya tahu dari suaranya ada yang tidak beres," katanya.

"Ini adalah situasi yang mengerikan, namun dunia diam. Ini adalah abad ke-21 dan warga sipil dibom, itu tidak manusiawi!," ujarnya.

'Kami hanya bisa mengandalkan diri sendiri'

Nagorno-Karabakh tidak diakui sebagai negara yang independen, bahkan oleh Armenia.

Republik yang tidak diakui ini memiliki perwakilan di Yerevan, namun bukan kedutaan.

Perwakilan Sergey Gazarian mengatakan rasio orang-orang Armenia dan Azeri di garda depan adalah 13 banding 1, dengan orang-orang Azerbaijan mendominasi.

Namun, ujarnya, setelah pertempuran selama satu pekan, peran Azerbaijan tidak signifikan.

Apakah Stepanakert mengharapkan bantuan dari Rusia, kami bertanya, termasuk bantuan militer? Dia tersenyum lelah.

Orang-orang di Lachin menyelatkan diri ke ruang bawah tanah saat terjadi pengeboman.Vladimir Komissarov / BBCOrang-orang di Lachin menyelatkan diri ke ruang bawah tanah saat terjadi pengeboman.

"Kami tidak bisa menunggu. Untuk apa dan untuk berapa lama? Kami hanya bisa mengandalkan diri kami sendiri."

"Jika pertempuran tak terhindarkan, Anda harus menyerang lebih dulu. Baku telah mempersiapkan perang ini selama berbulan-bulan. Armenia tidak punya alasan untuk memulainya."

Pertempuran telah berlangsung selama lebih dari sepekan sekarang.

Ada tanda-tanda bahwa untuk pertama kalinya dalam 30 tahun Azerbaijan didukung oleh Turki, pemain regional yang kuat yang memiliki ikatan etnis dan bahasa dengan Azerbaijan.

Negara-negara lain dan badan-badan internasional - Rusia, Prancis, Amerika Serikat, Uni Eropa, PBB, NATO, dan OSCE - menuntut agar pertempuran dihentikan dan agar perundingan damai - dimulai lagi.

Tapi kali ini baik Turki dan Azerbaijan mengatakan negosiasi akan dimulai kembali hanya setelah Armenia menghentikan "pendudukan Nagorno-Karabakh".

Mereka juga menghendaki kekuatan republik yang tidak diakui dan Armenia meninggalkan wilayah yang menjadi milik Azerbaijan berdasarkan hukum internasional.

(ita/ita)