Oposisi Kirgistan Rebut Kekuasaan, Bagaimana Nasib Presiden?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 12:09 WIB
Ribuan pengunjuk rasa berdemo di Bishkek menentang kecurangan hasil pemilu. (EPA)
Jakarta -

Oposisi di Kirgistan dilaporkan telah merebut kekuasaan setelah mereka mengklaim pemilihan legislatif berjalan curang pada Minggu (04/10).

Sadyr Japarov ditunjuk sebagai perdana menteri, beberapa jam setelah pengunjuk rasa membebaskannya dari penjara.

Presiden Sooronbai Jeenbekov telah mengisyaratkan bahwa dia siap untuk mundur.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa dia "siap memberikan tanggung jawab kepada para pemimpin yang kuat", tetapi menolak untuk mengatakan siapa sosok tersebut.

Pengunjuk rasa melakukan demonstrasi pada Senin (05/10) dipicu atas dugaan kecurangan dalam pemilihan umum legislatif.

Beberapa dari mereka kemudian menyerbu gedung-gedung pemerintah dan parlemen.

Pada Selasa (06/10) pagi, sejumlah tahanan politik terkenal juga telah dibebaskan, termasuk Japarov, yang telah menjalani hukuman 11 tahun karena menculik seorang gubernur daerah dalam demonstrasi yang dilakukan oposisi tujuh tahun lalu.

Mantan presiden Almazbek Atambayev, yang menjalani hukuman 11 tahun penjara karena korupsi, juga dibebaskan.

Map

Hanya empat dari 16 partai politik yang lolos ambang batas untuk masuk ke parlemen dalam pemilihan hari Minggu.

Tiga dari empat partai tersebut memiliki hubungan dekat dengan Presiden Jeenbekov.

Presiden telah menyatakan siap untuk membatalkan hasil pemilu itu, sebelum pengumuman resmi dari KPU Pusat yang menyatakan telah membatalkan hasil pemilu "dengan mempertimbangkan situasi politik di negara tersebut".

Fire engine outside parliament building in Bishkek on 6 October 2020

Sejumlah bagian di gedung parlemen dibakar oleh pengunjuk rasa. (Reuters)

Apa yang terbaru?

Parlemen menggelar rapat luar biasa di sebuah hotel di ibu kota Bishkek untuk mengganti pemerintahan, ketika pengunjuk rasa melempari batu ke kaca hotel, menyerukan pencopotan penjaga lama.

Seorang koresponden BBC di Bishkek mengatakan pihak oposisi mengendalikan pasukan keamanan.

Opposition protesters against the parliamentary election results storm the gates of the Government House in central Bishkek, Kyrgyzstan, 5 October 2020

EPA

Apa yang dikatakan presiden?

"Tujuan utama para pengunjuk rasa bukanlah untuk membatalkan hasil pemilihan tetapi untuk menggulingkan saya dari kekuasaan," kata Presiden Jeenbekov kepada BBC Kirgistan dalam wawancara telepon eksklusif dari tempat persembunyian rahasia.

Ia mendesak semua pihak untuk kembali ke "cara yang sah" dan bekerja sama menghindari gejolak politik di masa lalu.

"Untuk mengatasi masalah ini, saya siap memberikan tanggung jawab kepada pemimpin yang kuat, tidak peduli kelompok mana mereka. Saya bahkan siap membantu mereka," tambahnya.

Dalam pidato video sebelumnya, presiden menuduh "kekuatan politik tertentu" menggunakan hasil pemilu sebagai alasan untuk "melanggar ketertiban umum".

President Sooronbai Jeenbekov

Dua partai yang masing-masing mendapat seperempat suara, memiliki hubungan dekat dengan Presiden Jeenbekov. (Reuters)

"Mereka tidak mematuhi penegak hukum, memukuli petugas medis, dan merusak bangunan," katanya.

Para pengamat mengatakan tampaknya Jeenbekov, yang terpilih pada 2017, telah kehilangan semua pengaruh politiknya - namun belum jelas siapa yang akan menggantikannya.

Para pemimpin oposisi telah membentuk Dewan Koordinasi tetapi ada laporan bahwa mereka terpecah, memperdebatkan siapa yang mendapat posisi yang berpengaruh.

Bagaimana kekerasan terjadi?

Sekitar 5.000 orang melakukan unjuk rasa di alun-alun Ala-Too di ibu kota Bishkek pada Senin (05/10) untuk menentang hasil pemilu.

Sebagian besar demonstrasi berjalan damai hingga pada sore hari, sekelompok pengunjuk rasa berupaya menerobos gerbang masuk ke gedung parlemen.

Polisi kemudian menggunakan meriam air, granat kejut, dan gas air mata untuk mencoba mengurai kerumunan massa dari alun-alun dan jalan-jalan sekitarnya.

Tetapi para demonstran kemudian membanjiri kembali alun-alun sebelum menyerbu gedung parlemen, yang dikenal sebagai Gedung Putih.

Rekaman video yang dibagikan di media sosial menunjukkan pengunjuk rasa bisa memasuki kompleks parlemen, beberapa dengan memanjat pagar dan lainnya dengan membuka gerbang utama.

Belakangan, asap terlihat mengepul dari gedung.

Kementerian kesehatan mengatakan hampir 700 orang terluka, dengan sembilan orang dalam perawatan intensif, dan seorang pria berusia 19 tahun tewas.

Protester stands on a fire engine in Bishkek on 6 October 2020

Getty Images

Apa yang kita tahu tentang pemilu di sana?

Dari 16 partai yang memperebutkan 120 kursi di Dewan Tertinggi, hanya empat partai yang melewati batas 7% untuk pemilihan.

Dua partai yang masing-masing mendapat seperempat suara, Birimdik dan Mekenim Kyrgyzstan, keduanya memiliki hubungan dekat dengan Presiden Jeenbekov.

Tak satu pun dari partai oposisi yang mapan mendapatkan kursi di parlemen dan pada Senin (05/10) seluruh 12 partai oposisi bersama-sama menyatakan mereka tidak akan mengakui hasil pemungutan suara.

Opposition protesters against the parliamentary election results storm the gates of the Government House in central Bishkek, Kyrgyzstan, 5 October 2020

(EPA)

Mereka menuduh partai-partai yang dekat dengan presiden melakukan pembelian suara dan intimidasi pemilih - klaim yang menurut pengawas internasional "dapat dipercaya" dan menimbulkan "perhatian serius".

Beberapa pengamat mengaku pernah melihat, pada jam-jam pertama pencoblosan, beberapa warga dengan topeng bertanda sedang menyerahkan surat suara yang telah diisi.

Ada juga dugaan pemilih disuap dan melakukan pencoblosan ke tempat-tempat di mana mereka bisa mengayunkan hasil.

Lima fakta tentang Kirgistan

  • Negara kedua terkecil dari lima negara bagian Asia Tengah, berbatasan dengan Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan dan Cina
  • Dikenal sebagai Republik Sosialis Soviet Kirghiz ketika menjadi bagian dari Uni Soviet
  • Memperoleh namanya yang sekarang - secara resmi bernama Republik Kirgis - setelah mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1991
  • Pemberontakan sebelumnya menyingkirkan Presiden Askar Akayev dari kekuasaan pada 2005, dan pada 2010 menggulingkan Presiden Kurmanbek Bakiyev
  • Memiliki reputasi menyelenggarakan pemilu yang semi-bebas dan adil dibandingkan dengan tetangganya
(ita/ita)