Kehilangan Anak, Wanita Ini Sebar Kebaikan dengan Internet Gratis Bagi Pelajar

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 11:45 WIB
Yogyakarta -

Bermula dari kehilangan anaknya yang meninggal dunia, seorang ibu di Yogyakarta tergerak menyebarkan kebaikan dengan mendampingi orang tua pasien hingga memberikan akses internet gratis kepada para pelajar.

Sore itu suasana di Balai Pertemuan warga Dukuh Mesan, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak sepi. Sejumlah anak-anak berkumpul untuk belajar bersama secara daring.

Mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Ada yang membaca buku, dan ada pula yang memegang gawai.

"Hari ini kita mau belajar dan mengerjakan tugas sekolah menggunakan internet gratis," kata seorang perempuan mengawali obrolan dengan anak-anak.

"Wifi-nya bisa digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah," imbuhnya, sebagaimana dilaporkan wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan, untuk BBC News Indonesia.

Febfi Setyawati nama perempuan itu. Dia adalah pendiri Komunitas Untuk Kawan yang sore itu memberikan akses internet gratis bagi anak-anak yang sedang belajar dan mengerjakan tugas sekolah secara daring.

Anak-anak yang hadir membawa gawai dan langsung menghubungkannya ke wifi.

Febfi mempersilahkan anak-anak dan siapa saja yang berada di lokasi untuk mengakses internet secara gratis.

Anak-anak diminta menggunakan layanan internet itu untuk menyelesaikan tugas sekolah atau mencari informasi penting seputar pengetahuan umum.

"Misalnya informasi seputar arti COVID-19, sungai terpanjang, atau nama-nama pahlawan. Tapi jangan untuk bermain," kata Febfi kepada anak-anak.

Alif, seorang murid kelas 2 Sekolah Dasar tersenyum setelah membereskan tugas sekolah.

Alif tak datang sendirian, dia ditemani ibunya, Dian Fitriana. Menurut Dian, kendala utama belajar secara daring adalah jaringan internet. Dia bersyukur ada akses internet gratis sehingga kuota yang dimilikinya bisa dihemat.

"Inginnya setiap hari ada. Ini membantu karena tidak usah membeli pulsa," katanya seraya tersenyum.

Sarana pemulihan diri

Dulu, kegiatan Febfi bersama Komunitas Untuk Kawan bukanlah layanan internet gratis, melainkan membantu orang-orang yang mengalami kesulitan di rumah sakit.

Upayanya ini dipicu pengalaman pribadinya yang mengalami kesulitan karena ketidaktahuannya saat menemani anak di rumah sakit.

"Bermula ketika anak saya yang berkebutuhan khusus menjalani perawatan di rumah sakit sampai berbulan-bulan," ujar Febfi.

Dari situ dia mengamati, banyak orang yang mengalami kesusahan baik karena ketidaktahuan atau karena persoalan ekonomi.

Ketika anaknya meninggal dunia, Febfi tetap ingin di rumah sakit membantu orangtua dan anak-anak yang mengalami kesulitan.

"Ini sarana saya untuk healing. Saya ingin tetap di rumah sakit dan membantu mereka," katanya.

Sejak itu, Febfi mendirikan Komunitas Untuk Kawan yang khusus memberikan pendampingan dan bantuan pembiayaan bagi pasien di Rumah Sakit agar bisa melanjutkan pengobatan.

"Ibu-ibu yang di sini (Komunitas Untuk Kawan), mereka punya anak yang berkebutuhan khusus juga," kata Febfi soal komunitas yang dia dirikan. "Jadi awalnya kita pemerhati difabel dan kegiatannya di Rumah Sakit," imbuhnya.

Pada masa pandemi COVID-19, hubungannya dengan rumah sakit terpaksa berhenti untuk menghindari risiko penularan COVID-19. Karena ingin tetap bisa membantu, Febfi mengalihkannya ke masyarakat terdampak COVID-19.

Febfi melihat tak sedikit masyarakat yang mengalami kesulitan karena kehilangan lapangan pekerjaan. Terlebih dengan adanya sistem pembelajaran daring, padahal banyak orangtua yang penghasilannya berkurang.

"Kita berinisiatif membagikan sembako dan juga membuat internet keliling," katanya.

Dari warung bubur kacang hijau ke Volkswagen

Awalnya, layanan internet gratis Komunitas Untuk Kawan berlangsung di sebuah warung Bubur Kacang Hijau yang terletak di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Namun layanan tersebut tidak berjalan maksimal karena tidak langsung menyentuh orang yang benar-benar membutuhkan layanan internet.

Lalu pada awal Agustus, Febfi mengontak Hendy Kurniawan yang punya gerakan perpustakaan keliling benama Aksara Bergerak dengan menggunakan kendaraan VW Combi.

Perpustakaan keliling yang Hendy kelola menyediakan buku-buku koleksi pribadi Hendy dan koleksi istri serta anaknya, agar bisa dibaca orang banyak secara gratis. Koleksi buku mereka mencakup buku-buku novel dan sejarah, cerita anak, buku parenting dan buku-buku pendidikan.

Febfi kemudian mengajak Hendy untuk mendatangi lokasi-lokasi di Yogyakarta yang membutuhkan layanan internet gratis serta buku-buku bacaan untuk membantu anak-anak yang sedang mengerjakan tugas dari sekolah.

"Tujuan kita sama, memberikan pembelajaran gratis dan dia [Hendy] bergerak di perpustakaan keliling. Jadi kita berkeliling, dia [Hendy] memfasilitasi buku-buku dan kita memfasilitasi internetnya," kata Febfi.

Alat untuk memberikan layanan akses internet yang Febfi gunakan pun sangat praktis. Bentuknya kotak persegi panjang berwarna putih. Untuk mendapatkan alat itu, dia harus membelinya di Jakarta karena di Yogyakarta belum ada. Caranya cukup diisi pulsa dan langsung bisa difungsikan sebagai wifi.

"Bisa dipakai sampai 62 orang. Sinyalnya juga stabil. Pulsanya kadang habisnya cepat kadang juga irit, tergantung pemakaian," katanya.

Internet gratis keliling

Sejak itu, Febfi bersama komunitasnya serta Hendy mulai berkeliling. Biasanya, mereka keliling setiap Rabu.

Lokasinya sesuai permintaan masyarakat setempat. Misalnya, ketika Febfi ke Dukuh Mesan, itu karena permintaan dari Karang Taruna Desa Sinduadi.

"Kami dapat info ada layanan internet gratis yang berkeliling, lalu kami minta untuk di desa kami," kata Wisnu Adhi Suryo Nugroho, Ketua Karang Taruna Sinduadi.

Menurut Wisnu, keberadaan layanan internet gratis di masa pandemi ini sangat membantu terutama warga terdampak.

Wisnu mencontohkan, tak sedikit warga yang kehilangan mata pencaharian tapi mereka harus tetap membelikan paket data internet untuk anaknya agar tetap bisa belajar secara daring.

Padahal, lanjut Wisnu, tidak semua warga terdampak bisa membeli.

"Dengan adanya layanan yang memberikan fasilitas internet gratis ini, kami sangat berterima kasih karena dapat meringankan beban adik-adik yang kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan internet," jelas Wisnu.

Lokasi lain yang pernah dikunjungi Febfi bersama perpustakaan keliling Aksara Bergerak adalah Dukuh Gatak, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, DIY, pada Rabu (09/09)seminggu sebelum ke Dukuh Mesan.

Anak-anak yang hadir juga terlihat antusias dengan kedatangan layanan internet gratis dan buku-buku bacaan. Mereka langsung memanfaatkan layanan internet untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

Desilia Norisa Ratih, murid kelas 1 SMP, ini, mengaku sering mendapat tugas secara daring dari sekolahnya. "Kadang susah sinyal dan kuotanya boros," katanya.

Kehadiran internet gratis dan layanan buku membuatnya senang karena bisa dapat layanan internet gratis, Desilia juga bisa membaca-baca buku yang jarang dia temukan di sekolah.

Melihat antusiasme anak-anak yang terlihat senang dengan kehadiran layanan internet gratis dan fasilitas bacaan buku-buku perpustakaan Aksara bergerak, senyum Febfi mengembang.

Dirinya tambah girang apabila aparat setempat terpicu untuk bergerak memberikan akses internet.

"Waktu itu Pak Lurah yang ikut hadir menyatakan akan memberikan layanan internet gratis kepada warganya," ujar Febfi. "Hal seperti itu yang kami harapkan, banyak orang tergerak melakukan gerakan serupa," imbuhnya.

Menyediakan relawan pengajar

Febfi dengan komunitasnya tak hanya memberikan akses jaringan internet gratis. Dia juga menyediakan relawan yang menjadi guru pendamping untuk membantu murid-murid mengerjakan tugas sekolah.

"Jadi pernah ada murid yang bertanya soal matematika, kami nggak bisa," kenang Febfi.

Belajar dari pengalaman itu, Komunitas Untuk Kawan akhirnya menyediakan relawan sebagai guru pendamping matematika untuk membantu murid-murid mengerjakan tugas sekolah.

"Mereka (relawan) sukarela. Kami tidak bisa membayar, hanya bisa memberikan ganti bensin," katanya.

Untuk pendanaan, Febfi bersyukur banyak orang baik yang ikut berdonasi untuk kegiatan komunitasnya. Dan dia sangat senang bisa membantu masyarakat yang memang membutuhkan layanan jaringan internet.

"Tinggal hubungi kami, selagi kami mampu, kami jadwalkan untuk datang. Tapi saat ini mungkin lingkupnya Yogyakarta saja dulu," katanya.

Febfi juga meminta kepada mereka yang ingin didatangi layanan internet gratis dan perpustakaan Aksara Bergerak, untuk benar-benar mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan jangan lupa cuci tangan.

Tapi sayangnya, ketika di lapangan, susah diwujudkan. Apalagi ketika tempatnya kecil dan anak-anak yang datang banyak sekali.

"Pesertanya banyak, melebihi ruangan. Sulit untuk melakukan jaga jarak, tapi mereka semua pakai masker. Dan nanti kalau kami mengadakan lagi, kami siapkan tempat yang lebih lapang," kata Wisnu Adhi Suryo Nugroho, Ketua Karang Taruna Sinduadi.

Febfi dengan Komunitas Untuk Kawan dan Hendy dengan Aksara Bergerak akan terus berkeliling menyebarkan layanan internet gratis dan buku-buku bacaan kepada siapa saja yang membutuhkan. Tinggal hubungi saja mereka melalui website Komunitas Untuk Kawan.

Febfi berharap gerakannya bisa menginspirasi siapa saja untuk saling berbagi dan meringankan beban.

"Kegiatan kami kan hanya satu hari, tidak sampai berhari-hari. Yang saya harapkan, dapat menginspirasi warga untuk berbagi. Ketika punya kemampuan untuk memberi, kenapa tidak?"

(nvc/nvc)