2 Perusahaan Ingin Ciptakan ASI di Laboratorium, Amankah Bagi Bayi?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 15:16 WIB
Air susu ibu seperti sidik jari yang mengidentifikasi pola makan ibu dan bayi. (Getty Images)
Jakarta -

Jika Anda memiliki anak - atau tengah berpikir ingin memiliki anak - Anda mungkin pernah mendengar bahwa "ASI adalah yang terbaik". Tapi bagaimana jika ibu dan bayinya tidak bisa menyusui?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ASI adalah sumber nutrisi dan energi penting bagi para bayi. ASI juga dapat menyokong kekebalan tubuh terhadap penularan penyakit, membantu mengurangi resiko obesitas, dan berpotensi meningkatkan IQ anak ketika tumbuh besar.

Bagi para ibu yang tidak bisa atau tidak mau menyusui, alternatif utamanya adalah susu formula.

Namun, perusahaan perintis bernama TurtleTree Labs dan Biomilq kini berupaya mengubah hal tersebut dengan membuat ASI nyata, tanpa bantuan payudara.

'ASI saya tidak pernah ada'

Deepa KulkarniDEEPA KULKARNI'Anda harus menerima bahwa Anda tidak bisa menyusui dan bukan berarti Anda gagal'.

Deepa Kulkarni, ibu dua orang anak, masih ingat sulitnya menyusui anak-anaknya.

"Saya memiliki kolostrum dengan anak pertama saya, ia bisa mengonsumsinya tapi sesudahnya ASI saya tidak ada, dan dengan anak-anak saya yang lain ASI saya tidak pernah ada," katanya.

Kolostrum adalah cairan yang dihasilkan oleh payudara ibu dalam beberapa hari setelah melahirkan. Kolostrum memiliki konsistensi yang tebal dan biasanya berwarna kuning emas.

"Kami mencoba memeras susu selama satu bulan dan saya bahkan tidak bisa menghasilkan setengah ons susu dalam satu hari, setelah beberapa lama payudara saya kering. Jadi, saya harus memilih antara melanjutkan upaya menyusui dan membiarkan bayi saya kelaparan atau memberi makan bayi saya."

Sebagai ibu baru, Deepa bukan hanya kewalahan menjadi orang tua untuk pertama kalinya, tapi ia juga awalnya sulit memenuhi harapan sosial.

"Anda harus menerima bahwa Anda tidak bisa menyusui namun bukan berarti Anda gagal."

Pendekatan baru

Susu formula bayi seringkali terbuat dari susu sapi yang telah diformulasikan dengan khusus untuk menjadikan lebih layak dikonsumsi bayi. Susu formula juga menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang.

Namun susu formula tidak menyediakan semua keuntungan yang ada dalam air susu ibu - dan itulah yang menginspirasi perusahaan-perusahaan perintis ini.

TurtleTree Labs memanfaatkan sel stem yang didonasikan dari air susu ibu. Sel-sel tersebut lalu diproses melalui bioreaktor, di mana mereka diubah menjadi sel kelenjar susu.

Sel-sel kelenjar susu dicampur dengan formula khusus yang menyebabkan sel-sel itu berlaktasi dan susu ini disaring sebelum dijadikan produk akhir.

Secara teori, teknik ini dapat dipakai untuk menghasilkan susu dari mamalia apapun, selama sel stemnya tersedia.

Start-up asal Amerika Serikat Biomilq, yang dipimpin oleh ilmuwan makanan Michelle Egger dan ahli biologi sel Leila Strickland, memakai teknik yang berbeda untuk menghasilkan sel kelenjar susu.

Ilmuwan mengatakan ASI terbuat dari ribuan komponen, seperti protein, asam lemak, hormon, bakteri, dan gula.

Bagaimanapun, para ahli mengatakan kompleksitas ini menjadikan ASI buatan sulit diproduksi.

"ASI dihasilkan oleh elemen-elemen yang bersumber dari darah, sistem pencernaan, sistem kekebalan, dan sistem kekebalan payudara ibu, tapi juga dari asam lemak yang telah diuraikan oleh ibu yang lalu masuk ke dalam susu," kata Dr Natalie Shenker, periset ASI di Imperial College London.

Dr Shenker juga salah satu pendiri Human Milk Foundation, atau Yayasan ASI, sebuah organisasi yang didirikan untuk mendukung menyusui di tengah kurangnya bank susu di Inggris. Lewat yayasan ini, orang dapat menyumbang ASI ke orang lain yang membutuhkan.

Apakah ASI buatan sama seperti ASI asli?

Ilmuwan mengatakan hanya bisa berharap ASI buatan laboratorium dapat meniru beberapa elemen ASI, terutama imunitas dan respons antar manusia yang mempengaruhi komposisinya.

Biomilq dan TurtleTree Labs mengatakan tujuan mereka bukan untuk menggantikan ASI, melainkan menciptakan opsi jangka panjang yang lebih bernutrisi ketimbang formula bagi orang tua.

"ASI sejauh ini adalah hal terbaik bagi bayi dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Saya tidak yakin hal itu akan tercapai, apapun teknologi yang digunakan karena ASI sangat personal, dan karakter ASI tergantung kepada lingkungan sang ibu, di mana dia tinggal, nutrisi mereka," kata Max Rye, salah satu pendiri TurtleTree Labs.

"Apa yang kami ingin lakukan adalah memproduksi sesuatu yang dapat membantu meningkatkan opsi yang telah ada selama ini, dan itu pada dasarnya adalah bubuk susu sapi yang dicampur dengan segenap ekstrak sayuran dan hal-hal lainnya yang sangat, sangat jauh berbeda dari ASI."

Dalam beberapa puluhan tahun terakhir, riset ilmiah telah mengindikasi bahwa ASI dibuat berbeda untuk setiap anak oleh ibu mereka masing-masing.

Kandungan ASI dipengaruhi oleh level imunologis dan genetika ibu. Kandungan gula dalam ASI bahkan dapat bervariasi antara satu ibu dengan ibu lainnya dan bayi mereka.

"ASI seperti sidik jari yang secara unik mengidentifikasi pola makan ibu dan bayi," kata Dr Shenker.

"Ini adalah proses dua arah, ada interaksi antara apa yang para ibu alami dalam lingkungannya, namun juga sebaliknya. Jika ibu terekspos oleh bakteri atau virus, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi, yang lalu diarahkan ke payudara dan masuk ke ASI, melindungi bayi terhadap patogen tertentu."

WHO merekomendasikan ibu menyusui bayi yang baru lahir selama setidaknya enam bulan pertama.

Di dunia, hanya 40% bayi berusia di bawah enam bulan yang diberi ASI eksklusif.

Bayi tersenyum

'ASI buatan tidak akan dijual tanpa pengujian ekstensif' (Getty Images)

Deepa kini tinggal bersama keluarganya di Delhi, India. Ia mengatakan anak-anaknya tidak terpengaruh buruk karena diberi susu formula ketika bayi.

"Setelah 18 tahun, saya tidak melihat perbedaan antara keterikatan saya dengan putri atau putra saya dan saya tidak melihat ada perbedaan dalam kesehatan mereka," ujarnya.

Apakah ASI buatan bisa sukses dipasarkan?

Dr Shenker berpendapat pembuatan alternatif bagi susu formula dan ASI menghadapi sejumlah tantangan, seperti apakah hal itu akan dapat sukses secara komersil.

"Darah dan susu sebenarnya tidak terlalu berbeda sebagai cairan," ujarnya.

"Susu telah berkembang selama jutaan tahun untuk menjadi sumber nutrisi dan dukungan kekebalan serta pengembangan organ bayi, sehingga [membuat] susu [buatan] sebenarnya lebih rumit dibanding darah [buatan].

"Meskipun darah buatan telah diriset selama lebih dari 70 tahun untuk memecahkan tantangan donasi darah, belum ada produk darah buatan yang tersedia secara komersil di pasar yang aman dan efektif, dan itu setelah darah buatan dikembangkan swasta secara teliti.

"Jika Anda melihat dari perspektif tersebut, peluang untuk memproduksi sesuatu yang sangat mirip dengan ASI, menurut saya, akan tidak mungkin. Namun itu bukan berarti bahwa beberapa elemen ASI tidak bisa ditiru dalam beberapa aspek."

Pada Juni, Biomilq menerima pendanaan sebesar 3,5 juta dolar AS dan TurtleTree Labs menerima 3,2 juta dolar AS.

Kelompok-kelompok dan dokter-dokter menyusui mengatakan bahwa investasi yang diberikan ke dua perusahaan itu lebih baik dialokasikan bagi upaya-upaya untuk mendukung ibu menyusui atau menyediakan akses yang lebih baik ke bank-bank susu.

TurtleTree Labs, yang menerima pendanaan dari pemerintah Singapura, mengatakan ibu-ibu menyusui dan ibu-ibu yang tidak bisa atau memilih untuk tidak menyusui perlu lebih didukung dengan pendanaan yang lebih besar.

"Saya pikir kita tidak harus memilih antara satu sama lain," kata Rye.

"Menurut saya harus ada upaya dari kedua sisi, di mana para ibu yang tidak bisa menyusui memiliki akses ke susu formula bayi dengan kualitas yang lebih baik atau tinggi dan sejumlah dana yang signifikan bisa digunakan untuk mempromosikan edukasi dan membantu ibu menyusui."

TurtleTree Labs berencana menjual teknologinya kepada pembuat susu formula, ketimbang menjual produk langsung ke konsumen, sementara Biomilq berencana menjual langsung ke konsumen.

"Teknologi bergerak sangat cepat dan hal paling menggembirakan terkait apa yang bisa kita lakukan adalah skalanya. Kami menargetkan paling cepat tahun depan kami bisa menjual beberapa produk kami di pasar," kata Rye.

Meski tujuan mereka adalah menyediakan produk dengan harga terjangkau, TurtleTree Labs mengatakan awalnya harga produk mereka akan tinggi.

"Produk pertama selalu berharga sangat mahal namun setelah satu tahun, akan ada produk lebih banyak di pasar sehingga harga akan turun drastis," kata Rye.

"Kami mengantisipasi hal yang sama akan terjadi dengan produk ini, tapi awalnya harga produk ini mungkin ultra-premium."

'Keselamatan adalah kekhawatiran terbesar saya'

Shireen FridayShireen Friday'Saya mungkin akan tetap memakai susu formula'

Shireen Friday memberi ASI eksklusif ke anak pertamanya selama 15 bulan tadi tidak bisa memberi hal yang sama ke putri keduanya karena urusan pekerjaan.

"Ketika saya memiliki putri pertama saya 10 tahun lalu di Grenada, opsi satu-satunya yang saya tahu adalah memberinya ASI atau susu formula," ujarnya.

Shireen mengakui bahwa sebagai ibu muda, ia tidak tahu semua opsi yang tersedia seperti memeras ASI dan saat itu norma umumnya adalah memberi ASI eksklusif bagi bayi yang baru lahir.

Dengan putri keduanya, ia memakai formula dari awal sehingga ia bisa menjalani transisi kembali bekerja dengan lancar. Namun ketika putrinya berusia enam bulan, ia berhenti mengonsumsi susu formula.

"Saya mencoba semuanya, tapi ia tidak mau minum apapun selain ASI, jadi saya harus memeras ASI untuk pertama kalinya seumur hidup saya. Kini ia berusia 16 bulan dan masih menyusui," katanya.

"Perjalanan memeras ASI saya sangat susah; itu sangat membuat saya menyendiri dan lelah secara mental, karena seringkali saya hanya duduk dan menghabiskan 30 menit, tergantung berapa banyak ASI yang saya punya. Menurut saya memeras ASI lebih menyakitkan dari menyusui karena ditarik terus menerus."

Shireen mengatakan ia ragu-ragu mencoba ASI yang direkayasa sebagai alternatif bagi susu formula atau ASI.

"Saya pikir, seperti semua ibu, saya pasti memiliki kekhawatiran soal keamanan, terutama dengan semua hal yang dibuat di lab. Bayi yang baru lahir sudah sangat rentan, jadi kalau mereka mengatakan produk ini aman 100%, saya tidak akan merasa nyaman. Saya mungkin akan tetap memakai susu formula."

TurtleTree Labs mengatakan bagian dari tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah mengedukasi orang tentang produksi susu mereka. Mereka mengatakan cara-cara pengambilan dan pembuatan selnya tidak mengandung bahan kimia sintetis apapun.

"Medium atau solusi yang kita pakai untuk menyimpan sel tepat seperti simulasi dalam tubuh manusia atau sapi. Itu dapat dikonsumsi oleh manusia tanpa masalah apapun," kata Rye.

Kritikus telah mengangkat kekhawatiran soal regulasi dan transparansi produk-produk baru ini. TurtleTree Labs mengatakan sebagian besar informasi seputar susu, produk akhir, dan proses pembuatannya akan diterbitkan sebelum setiap produk dijual di pasar.

"Tak ada satupun produk yang akan dijual di pasar tanpa tes dan pengujian yang ekstensif, terutama karena kami bekerja dengan perusahaan formula bayi raksasa yang sudah dipercaya konsumen," ujarnya.

(ita/ita)