Kisah Anak Pemetik Teh di Sri Lanka, Sempat Jadi Pembantu Kini Bisa Kuliah

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 09:22 WIB
Jakarta -

Sri Lanka adalah salah satu negara pengekspor teh terbesar di dunia. Dedaunan teh di sana dipetik oleh para perempuan yang berasal dari India bagian selatan.

Mereka tinggal di perkebunan yang terpencil dalam kondisi yang terpuruk, sedangkan anak-anak mereka memiliki akses terbatas ke pendidikan tinggi.

Meski demikian, di sebuah perkebunan terpencil di Kandaloya, sekelompok perempuan menorehkan pencapaian dengan menempuh pendidikan di universitas.

'Hidup terasa sulit di sini'

Salah satu anak pemetik daun teh yang dapat kuliah di universitas adalah Theresa.

"Semua orang melakukan pekerjaan ini. Ini bukanlah pekerjaan yang tidak terhormat, tapi terkadang terasa seperti itu. Pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari kondisi ini. Kami akan menciptakan era baru."

Di perkebunan-perkebunan teh di Sri Lanka, para pekerjanya mayoritas perempuan Tamil yang berasal dari wilayah selatan India. Mereka diperkirakan datang ke Sri Lanka hampir 200 tahun lalu. Kondisi hidup pemetik teh di perkebunan-perkebunan di Sri Lanka terpuruk, meskipun ekspor teh menyumbang sekitar 1,67 miliar dolar AS setiap tahunnya bagi pendapatan negara.

"Nenek saya pemetik teh. Ibu saya pemetik teh. Ayah juga bekerja di perkebunan. Gaji mereka rendah tapi kerjanya keras. Hidup terasa sulit di sini," ujar Theresa.

Di perkebunan teh, fasilitas sanitasi dan ketersediaan air bersih sangat minim. Standar pendidikan juga rendah. Theresa mengatakan bahwa di perkebunan teh tempat orangtuanya bekerja, hanya ada satu sekolah dasar.

Sekolah Menengah Atas baru dibangun di wilayah tempat tinggal Theresa pada 2006, sehingga memberi peluang bagi anak muda untuk kuliah.

"Di tahun-tahun awal sekolah dasar, saya belajar di sebuah pabrik tua. Orang dulu berpikir perempuan tidak perlu belajar. Beberapa perempuan cuma sekolah selama beberapa tahun. Yang lainnya tidak sekolah sama sekali. Sekolah inilah yang mengubah semuanya," kata Theresa.

Harus putus sekolah

Selain akses ke pendidikan yang terbatas, anak-anak para pemetik teh di Sri Lanka juga dihadapkan pada masalah lain seperti kekerasan di rumah dan kecanduan alkohol.

Menurut lembaga amal dan pembangunan global, World Vision, 85% pria di perkebunan teh kecanduan alkohol. Riset University of Colombo, sebuah universitas di Sri Lanka, menyebutkan 83% perempuan pemetik teh mengalami kekerasan rumah tangga.

Oleh karenanya, ibu Theresa, Pushpamary Sathiyamuthu, berharap anaknya dapat mengubah keadaan setelah ia lulus kuliah.

"Theresa harus putus sekolah untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga ketika ia remaja. Namun guru-gurunya ingin dia kembali sekolah dan membujuk kami untuk menyekolahkannya lagi. Kami lalu rela memetik teh di tengah cuaca panas, hujan, dan digigit lintah. Ketika anak saya menjadi guru, saya harap dia bisa membangun kembali komunitasnya," ujar Pushpamary.

Selama masa liburan kuliah, Theresa menjadi guru sukarelawan di sekolahnya dulu. Baru-baru ini mereka ditemui BBC World Service ketika tengah berlatih teater.

Salah satu dialog dalam latihan tersebut berbunyi: "saya tidak mau bekerja sebagai pembantu. Tolong jangan kirim saya bekerja di pabrik garmen."

Menurut World Vision, para pemetik teh di Nuwara Eliya, salah satu wilayah perkebunan teh di Sri Lanka, para pemetik teh hanya dibayar tujuh rupee Sri Lanka, atau lima ratus rupiah, per kilo.

Dalam budaya Hindu dan Tamil para perempuan harus memberikan upah mereka ke suami atau ayah-ayahnya, meskipun mereka telah bekerja keras seharian. Para pria yang biasanya memotong pohon atau mengoperasikan mesin-mesin perkebunan, dibayar lebih banyak dari perempuan, yaitu 115 rupee, dan mereka selesai bekerja pada pukul setengah dua siang.

Oleh karenanya, Theresa mengatakan pendidikan berperan penting bagi kemajuan warga desanya.

"Ibu saya hanya bisa membaca dan menulis, tapi saya diberi kesempatan untuk belajar di universitas. Kita bukan hanya harus belajar, tapi juga harus mengajarkan orang lain, baru semuanya bisa berubah. SMA ini memberi identitas bagi desa kami dan membuka dunia baru bagi kami," pungkas Theresa.

(ita/ita)