WHO: Kematian Corona Global Mungkin Capai 2 Juta Sebelum Vaksin Dipakai Luas

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 08:36 WIB
Para penggali kubur di Jakarta memakai APD lengkap untuk menguburkan jenazah yang meninggal akibat COVID-19. (Getty Images)
Jenewa -

Jumlah kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia "sangat mungkin" mencapai dua juta orang sebelum vaksin digunakan secara efektif dan meluas, sebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mike Ryan, kepala kedaruratan WHO, mengatakan jumlah tersebut dapat menembus angka yang lebih tinggi tanpa aksi internasional yang terkoordinasi.

Berdasarkan angka yang dihimpun Universitas Johns Hopkins di Amerika Serikat, jumlah kematian akibat COVID-19 per Sabtu (26/09) mencapai 985.748 orang.

Adapun jumlah kematian akibat COVID-19 di Indonesia hingga Jumat (25/09) telah mencapai 10.218 orang.

Jumlah ini tercapai sembilan bulan setelah wabah bermula di Wuhan, China.

Penularan virus Corona terus meningkat. Jumlahnya menembus 32 juta kasus di seluruh dunia.

Sejauh ini, Amerika Serikat, India, dan Brasil mencatat kasus terbanyak. Jika digabungkan, kasus di ketiga negara tersebut mencapai 15 juta kasus.

Namun, akhir-akhir terjadi peningkatan penularan di Eropa sehingga banyak kalangan menyerukan karantina nasional seperti yang pernah diterapkan pada gelombang pertama.

"Secara keseluruhan di kawasan sangat besar ini kami menyaksikan peningkatan penyakit yang mengkhawatirkan," kata Dr Ryan, merujuk pertambahan kasus di Eropa.

Mike Ryan juga mendesak masyarakat Eropa merenungkan apakah mereka telah menempuh langkah-langkah yang cukup untuk menghindari karantina wilayah atau lockdown.

Dia mempertanyakan apakah semua opsi telah diterapkan, seperti melakukan tes dan melacak kontak, karantina, isolasi, penjarakan sosial, memakai masker, serta mencuci tangan.

Grafik kasus virus corona di Indonesia.

BBC

Apa yang dia katakan mengenai jumlah kematian?

Ditanya apakah mungkin dua juta orang meninggal dunia sebelum vaksin tersedia, Dr Ryan menjawab: "Bukan tidak mungkin."

Namun, tambahnya, rata-rata kematian menurun seiring dengan membaiknya langkah pengobatan pasien.

Bagaimanapun, pengobatan yang baik dan vaksin yang efektif mungkin tidak cukup untuk mencegah angka kematian mencapai dua juta, katanya.

"Apakah kita siap untuk melakukan apa yang harus dilakukan untuk menghindari angka itu?" tanya Dr Ryan, seraya menyeru kepada semua negara untuk mengerahkan upaya demi mengendalikan penyebaran COVID-19.

"Kecuali kita melakukan semua hal, jumlah yang Anda bicarakan itu bukan hanya bisa terbayangkan, namun sayangnya dan sedihnya, sangat mungkin terjadi."

Area chart showing global cases and deaths since January 2020

BBC

Bagaimana perkembangan di dunia?

Di berbagai tempat di dunia, pembatasan sosial secara ketat baik kepada masyarakat maupun dunia usaha diberlakukan untuk mencegah gelombang kedua.

Di Spanyol, pemerintah ibu kota Madrid menerapkan pembatasan ketat di delapan distrik yang berdampak pada satu juta penduduk.

Di Prancis, para pekerja bar dan restoran di Kota Marseille memprotes penutupan tempat kerja mereka yang mulai berlangsung pada Sabtu (26/09).

Kemudian di Inggris, pembatasan sosial yang ketat diumumkan di beberapa daerah seiring dengan pertambahan angka kasus positif COVID-19.

Adapun Israel mengetatkan pembatasan pada dunia usaha dan perjalanan, sepekan setelah negara itu menjadi salah satu yang pertama dalam memulai lockdown kedua.

Namun, hal sebaliknya terjadi di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, yang mencabut pembatasan terhadap dunia usaha walau jumlah kasus nasional terus meningkat.

Dr Anthony Fauci, pakar utama penyakit menular di S, mengatakan gelombang pertama pandemi di AS belum berakhir karena jumlah kasus belum menurun secara signifikan sejak pandemi terjadi.

"Ketimbang mengatakan 'gelombang kedua', mengapa kita tidak katakan 'apakah kita siap atas tantangan pada musim gugur dan musim dingin?'," kata Dr Fauci kepada CNN.

(nvc/nvc)