Nyanyian Burung Pipit di AS Makin 'Manis dan Seksi' Selama Lockdown

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 12:45 WIB
Getty Images
Jakarta -

Seperti yang dikatakan banyak orang, nyanyian burung memang terdengar berbeda selama masa karantina wilayah, menurut sebuah penelitian ilmiah.

Dengan menganalisis suara burung pipit yang direkam selama beberapa dekade, para ilmuwan mengkonfirmasi perubahan dalam vokal burung saat kota menjadi sunyi saat lockdown.

Burung-burung meningkatkan kualitas nyanyian mereka, saat mereka mempertahankan wilayah mereka dan memikat pasangan.

Meskipun di telinga manusia suara burung terdengar semakin nyaring, sebenarnya burung pipit bernyanyi lebih pelan.

Lagu-lagu yang lebih manis dan lembut ini dibawakan lebih jauh menyusul kebisingan kota yang makin berkurang.

Dr Elizabeth Derryberry dari departemen ekologi dan biologi evolusi di Universitas Tennessee di Knoxville, AS, telah mempelajari bagaimana polusi suara mempengaruhi kicau burung selama bertahun-tahun.

"Orang-orang benar bahwa burung memang terdengar berbeda selama lockdown dan mereka mengisi ruang suara yang pada dasarnya telah kita tinggalkan," katanya kepada BBC News.

"Saat kita keluar dari ruang suara itu, burung-burung ini masuk dan saya pikir hal ini memberitahu kita tentang seberapa besar pengaruh manusia terhadap kicau dan komunikasi burung, terutama di perkotaan."

Apa hasil temuannya?

Berkat studi jangka panjang terhadap nyanyian burung pipit mahkota putih yang hidup di sekitar area Teluk San Francisco, para ilmuwan dapat membandingkan suara burung sebelum dan selama lockdown.

Apa yang mereka temukan ternyata sedikit mengejutkan.

Pada sebagian besar waktu, burung pipit jantan bernyanyi, dan selama keheningan kota, burung meningkatkan performa vokal mereka dan menyanyikan lagu-lagu "seksi" dengan amplitudo rendah untuk mempertahankan wilayah mereka dan merayu betina.

"Ketika tingkat kebisingan turun selama lockdown, nyanyian mereka sebenarnya terdengar lebih seksi bagi burung lain dalam populasinya," kata Dr Derryberry.

Ini menunjukkan betapa cepatnya alam pulih dari efek polusi suara manusia, tambahnya.

"Studi ini menunjukkan bahwa ketika Anda mengurangi polusi suara, ada efek langsung pada perilaku satwa liar dan itu benar-benar menarik karena beberapa hal yang kita lakukan untuk memperbaiki lingkungan membutuhkan waktu yang lama."

'Silent spring'?

Lockdown pada dasarnya merupakan eksperimen alami tentang bagaimana satwa liar merespons suara yang dihasilkan manusia.

Kepadatan lalu lintas di Jembatan Golden Gate turun ke tingkat yang mirip dengan tahun 1950-an dan dilaporkan di media sosial ada yang melaporkan bahwa coyote terlihat berkeliaran.

Banyak yang telah ditulis tentang hubungan yang dirasakan manusia dengan alam selama lockdown.

Studi ini memberikan beberapa bukti bahwa satwa liar dan manusia mendapat manfaat dari kebisingan yang berkurang.

"Ketika Anda dapat mendengar lebih banyak burung, itu dapat memperbaiki kesehatan mental Anda. Lockdown menunjukkan hal itu dan penelitian ini memberikan beberapa data untuk mendukungnya," kata Dr Derryberry.

Apa yang kita ketahui tentang nyanyian burung pipit?

Burung gereja mahkota putih, yang memiliki garis kepala putih dan hitam yang khas, ditemukan di banyak tempat di AS dan Kanada, dan lagu-lagu mereka telah dipelajari secara luas.

Sub-spesies yang berbeda di seluruh negeri menyanyikan lagu-lagu yang sedikit berbeda, yang dikenal dengan intro berupa suara yang manis dan siulan, dilanjutkan dengan rangkaian siulan yang campur aduk, lalu suara seperti getaran di akhir.

Suara burung pipit di daerah Teluk San Francisco telah direkam sejak tahun 1970-an, sebuah catatan langka tentang nyanyian burung.

Sudah diketahui umum bahwa burung yang hidup di kota harus menyesuaikan nyanyian mereka dalam beberapa dekade terakhir, sama seperti orang yang harus berbicara lebih keras di pesta yang ramai.

Ini secara ilmiah dikenal sebagai Lombard, atau efek pesta koktail.

Studi yang dipublikasikan di Science, dilakukan bekerja sama dengan para ahli di Texas A&M University-San Antonio dan George Mason University, Fairfax.

Ikuti Helen di Twitter..

(ita/ita)