Kepala Mayat Menciut dan Tengkorak Suku Amazon Ditarik dari Museum Oxford

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 12:05 WIB
Melepas kulit dari kepala jenazah merupakan bagian penting dalam proses kuno menciptakan tsantsa atau kepala menciut. (Pitt Rivers Museum, University of Oxford)
London -

Selama 80 tahun terakhir, perhatian pengunjung Museum Pitt Rivers di Oxford, Inggris, kerap tertuju pada koleksi yang menurut sejumlah orang mengejutkan sekaligus mengerikan.

Barang-barang yang dipamerkan itu, antara lain tengkorak manusia yang dijadikan bukti kemenangan perang masa lalu dan kepala manusia seukuran jeruk.

Dua koleksi museum itu dikumpulkan penjelajah asal Eropa dalam ekspedisi mereka ke India dan Benua Amerika.

Namun terhitung per Selasa (22/09), Museum Pitt Rivers akan melakukan perubahan.

Dalam rangka 'proses dekolonikasi', sekitar 120 bagian tubuh manusia yang mereka koleksi akan ditarik dari ruang pameran.

Satu dari ratusan koleksi itu adalah tsantsa, istilah yang merujuk penggalan kepala manusia yang dikumpulkan suku-suku di Amazon dari tubuh musuh mereka. Kumpulan kepala itu diproses sedemikian rupa agar ukurannya menciut.

Koleksi berupa tengkorak para tawanan suku Naga di kawasan utara India juga ditarik oleh pengelola museum.

Ratusan benda tadi sebenarnya merupakan koleksi yang paling menarik perhatian para pengunjung.

Namun bukannya memberikan pemahaman mendalam tentang tradisi dan budaya, koleksi tadi selama ini justru melekatkan stigma barbar, primitif, dan kejam kepada kelompok masyarakat tertentu.

Pernyataan itu diutarakan pimpinan Museum Pitt Rivers, Laura Van Broekhoven.

Shrunken heads on display

Kepala menciut atau tsantsa dibuat dalam ritual beberapa suku di wilayah Amazon yang kini masuk wilayah administratif Peru dan Ekuador. (Pitt Rivers Museum, University of Oxford)

"Pertanyaannya, banyak hal terjadi, bahkan dalam jarak 200 meter dari kita. Laki-laki Inggris diburu dan jasadnya dipotong-potong, tapi kami tidak pernah memajangnya di museum," ucapnya.

"Perempuan Inggris dibakar hidup-hidup dan kami juga tidak menampilkannya," kata Van Broekhoven.

"Jadi mengapa selalu, jika seseorang bertanya, yang dianggap kekejaman dari budaya lain yang kami pajang? Dan mengapa sangat sedikit kekejaman budaya kita yang ditampilkan di museum?" ujarnya.

Menjual 'tradisi perburuan kepala'

Sejarah munculnya kebiasaan mengoleksi potongan kepala manusia, sebagaimana keputusan untuk berhenti memamerkanya di museum, rumit.

Tsantsa merupakan kepala musuh yang dipenggal dan diciutkan ukurannya oleh kelompok suku Amazon di wilayah Peru dan Ekuador. Ritual itu biasa dilakukan oleh suku Shuar.

Prosesnya, tengkorak kepala dilepaskan. Kulit dan daging kepala manusia itu kemudian direbus sampai menciut. Bentuk wajahnya lalu dibentuk menggunakan kerikil panas, sementara rambutnya ditanam kembali.

A shrunken head in the Upper Amazon basin of Brazil, circa 1960

Penjelajah Eropa dulu menukar satu kepala menciut dengan sepucuk senjata api. (Getty Images)

Walau kepala menciut itu bukan simbol kemakmuran, tsantsa belakangan menjadi komoditas yang bernilai.

Meski tradisi ini telah bertahan bertahun-tahun, hasrat kolektor dari Eropa belakangan mendorong sebuah siklus perburuan dan jual-beli yang aneh.

Seiring waktu, kekayaan yang dihasilkan dalam perdagangan ini membuat orang-orang Shuar jauh lebih kuat daripada musuh mereka.

Situasi itu memicu perang suku, bahkan kata Van Broekhoven, lebih banyak pembunuhan.

Tsantsa palsu pun kemudian semakin banyak dibuat dari kepala kukang dan monyet. Penyebabnya, permintaan dari Eropa meningkat tajam.

"Orang-orang mulai membuat banyak tiruan.Tidak satupun tiruan itu yang dibuat oleh orang Shuar. Itu pekerjaan orang kota yang akan mencuri jasad dari kamar mayat, lalu mengecilkan kepala jasad itu," kata Van Broekhoven.

Ritual sakral

British explorer Lady Richmond Brown reviews her collection of shrunken heads, obtained from the Tibolo and Jivaro tribes of South America, circa 1925.

Hingga akhir dekade 1960-an, sekelompok orang Inggris memborong seluruh hasil 'buruan kepala' yang didapatkan Suku Shuar. (Getty Images)

Salah satu kritik terhadap pemalsuan itu merujuk tsantsa yang asli bukan tentang 'membunuh orang atau tetangga Anda secara acak'.

Van Broekhoven berkata, menciutkan kepala musuh merupakan bagian dari upacara sakral dengan makna yang mendalam.

Ritual menciutkan kepala adalah perlakuan yang hanya dilakukan untuk pemimpin kelompok musuh yang paling sengit.

Melalui ritual itu orang-orang Shuar diyakin dapat menangkap kekuatan satu dari banyak jiwa kawan suku mereka yang meninggal dan saingan mereka, suku Achuar.

Kelompok adat Shuar saat ini mengklaim, nenek moyang mereka terkadang menciutkan kepala kepala mereka sendiri. Tujuannya untuk menjadikan kepala mereka sebagai kenang-kenangan bagi anak-cucu.

Kelopak mata dan mulut jenazah dari suku Shuar dijahit dengan benang kapas. Ini merupakan cara menjaga jiwa mereka.

Sebuah ritual lalu digelar untuk menenangkan jiwa jenazah itu. Proses tersebut menjadikan jiwa itu bagian dari kelompok mereka. Ritual itu, oleh karenanya, 'menghubungkan musuh, baik yang hidup maupun yang mati'.

Namun ketika pemerintah Ekuador mengakhiri siklus perdagangan ini pada dekade 1960-an, keberadaan kepala menciut di Eropa terlanjur terikat pada konotasi yang sangat berbeda.

'Stereotip buas'

Poster of the 1933 film 'Savage Gold' about an expedition into the Amazon jungle to find an archaeologist who had vanished three years previously

Di negara Barat, banyak suku di Amazon dilekatkan dengan stigma pemburu kepala. (Getty Images)

Saat itu, suku Shuar menukar semua kepala menciut yang mereka miliki dengan imbalan barang.

Budaya populer Barat, dalam medium film ataupun buku, menggambarkan orang-orang Shuar dan suku Amazon lainnya sebagai makhluk mengerikan, pembunuh, sekaligus orang yang tidak beradab.

Van Broekhoven berkata, aktivitas mengumpulkan jenazah manusia dapat dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan kolonialisme.

Mengoleksi jasad dilakukan untuk membuktikan superioritas Barat atas kelompok lain, sekaligus membenarkan kolonialisme.

"Menurut proyek akademis waktu itu, ada sekelompok orang liar. Kelompok di atasnya adalah orang-orang barbar, lalu kelompok orang beradab."

"Di atas kelompok itu itu adalah orang-orang yang menggerakkan koloni. Jadi, ada penjajah yang beradab dan yang barbar atau biadab adalah orang yang terjajah," kata Van Broekhoven.

Simbol memenangkan perang

A Naga chief shows a collection of skulls secretly hidden under stones in 1998, despite an order from the Indian government to destroy them

Suku Naga percaya bisa mendapatkan kekuatan dari tengkorak musuh yang mereka kumpulkan. (Getty Images)

Tsantsa bukan satu-satunya koleksi Museum Pitt Rivers yang menggambarkan hubungan antara tradisi suku-suku pedalaman dengan orang-orang Barat.

Salah satu contoh lainnya adalah tengkorak kepala yang dikumpulkan selama perang oleh suku Naga. Suku ini hidup di India utara dan di seberang perbatasan di Myanmar.

Suku Naga percaya pada kekuatan tersembunyi dari kepala manusia. Prajurit pasukan tempur Naga memajang tengkorak musuh mereka karena percaya itu akan memberinya kemakmuran.

Para akademisi Inggris era kolonial menyebut suku Naga yang hidup di wilayahnya sendiri sebagai kelompok manusia 'terbelakang' dan 'sangat rendah dalam skala peradaban'.

Namun seorang pakar yang mendalami isu ini, Tezenlo Thong, menyatakan tidak ada bukti bahwa Suku Naga benar-benar berburu kepala.

Pemenggalan kepala, kata dia, hanya diterapkan dalam konteks ritual peperangan. Ia menilai ritual itu semestinya dilihat sebagai pengecualian ketimbang aturan.

Ritual pemenggalan kepala pun menurut Thong tidak mendefinisikan budaya orang-orang Naga.

A member of one of the Naga tribes during an inter-tribal festival in India, 2015

Suku Naga hingga kini masih mendapat stigma sebagai suku pemburu kepala. (Getty Images)

Invasi kolonial ke wilayah suku Naga dianggap sebagai salah satu bagian paling kejam dalam sejarah penaklukan Inggris atas Asia selatan.

Namun persepsi dalam tulisan-tulisan era kolonial dan upaya pengumpulan objek dari era itu adalah stigma terhadap 'para pemburu kepala'. Cara pandang itu bertahan hingga hari ini.

"Ada sekelompok orang di masyarakat yang melihat sejarah sebagai fakta. Tapi sejarah ditulis oleh individu," kata Van Broekhoven.

"Sejarah kepala menciut, piala kemenangan perang Suku Naga, dan banyak benda yang kami koleksi ditulis oleh kolektor yang sebagian besar berkulit putih. Mereka pergi menjelajah untuk membuktikan perspektif dalam benak mereka."

Percakapan sensitif

Skulls being taken to storage

Van Broekhoven menyebut museum semestinya tidak menyembunyikan diri dari percakapan sensitif tentang koleksi mereka. (Pitt Rivers Museum)

Jadi, koleksi yang sensitif itu diletakkan sementara di ruang penyimpanan Museum Pitt Rivers.

Pimpinan museum tengah berdiskusi dengan perwakilan masyarakat adat tentang cara terbaik mengkurasi benda-benda itu, termasuk kemungkinan mengembalikan koleksi itu ke tempat awalnya.

Kontroversi yang muncul saat ini berfokus pada setiap koleksi itu, termasuk tentang peran museum dalam menawarkan pola pandang terhadap 'budaya lain' kepada pengunjung.

Banyak museum di negara Barat, antara lain Auschwitz dan Sobibor, dianggap sebagai tugu peringatan atas tindak kekejaman.

Namun Van Broekhoven berkata, "Itu dasar bagaimana museum seperti Pitt Rivers dibangun. Terdapat perbedaan besar."

Pitt Rivers merupakan salah satu museum antropologi, etnografi, dan arkeologi 'terbaik' dunia.

Mereka mengoleksi lebih dari setengah juta barang dan hanya sekitar 10% di antaranya yang dipajang untuk umum.

Museum ini dikunjungi 500.000 pengunjung setiap tahun.

Pitt Rivers

Museum Pitt Rivers memiliki koleksi lebih dari 500.000 benda, yang mayoritas di antaranya, berkaitan dengan invasi Inggris era kolonial. (Pitts River Museum, University of Oxford)

Namun Van Broekhoven menegaskan mereka tidak dapat menghindar dari percakapan sulit tentang keberadaan sekitar 120 koleksi yang terkait erat dengan ekspansi kerajaan Inggris.

Van Broekhoven mengatakan, keputusan untuk memindahkan koleksi itu dari ruang pameran disambut reaksi beragam di media sosial.

Generasi muda, kata dia, jauh lebih bisa melihat pesan bernuansa rasial di balik keputusan itu.

Sebaliknya, Van Broekhoven menyebut generasi yang lebih tua lebih cenderung bereaksi negatif.

"Ini semacam hak yang aneh. Mengapa Anda merasa berhak melihat kepala yang menciut dan memahaminya sebagai sesuatu yang mengerikan?"

(nvc/nvc)