Tersesat di Sungai Penuh Buaya, Paus Bungkuk Berhasil Kembali ke Laut

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 13:31 WIB
Jakarta -

Paus bungkuk

Paus bungkuk ini ditemukan di East Alligator River. (NT GOVERNMENT)

Seekor paus bungkuk yang tersesat selama hampir sepekan di sungai "penuh buaya" di Australia, telah kembali ke laut dengan selamat.

Satu dari tiga paus bungkuk yang "salah belok" itu berhasil menemukan jalan keluarnya pada akhir pekan lalu saat air tengah pasang, kata Taman Nasional Australia.

Pihak berwenang Australia telah mengawasi paus tersebut dari dekat sejak pertama kali terlihat 30 kilometer dari muara sungai oleh sejumlah orang berperahu.

Kawasan sungai itu penuh buaya dan sempat dikhawatirkan paus akan terjebak di perairan dangkal atau menabrak perahu.

Pihak berwenang pun telah melarang perahu beroperasi di sepanjang jalur sungai itu.

Dua paus lainnya sempat masuk ke sungai, namun hanya sebentar sebelum kembali ke jalur migrasi laut tahunan mereka.

"Tidak mungkin kami bisa mengangkat paus bungkuk setinggi 12-16 meter dan itu berpotensi memicu reaksi buaya," kata ilmuwan Carole Palmer kepada Australian Broadcasting Corporation pekan lalu.

"Kami tidak ingin tabrakan antara perahu dan paus di perairan banyak buaya dengan visibilitas di bawah air nol," kata Taman Nasional Australia menambahkan dalam sebuah pernyataan.

Pada Senin (21/09), sejumlah pejabat mengatakan paus itu tampak dalam kondisi sehat saat berenang menuju Teluk Van Diemen.

"Ini adalah hasil terbaik yang kami harapkan," kata Palmer, yang bekerja untuk pemerintah Negara Bagian Northern Territory, kepada ABC.

Para ahli meyakini, paus-paus itu melakukan migrasi laut tahunan ketika beberapa dari hewan mamalia tersebut "salah belok."

Ini merupakan pertama kalinya seekor paus terlihat di sungai yang penuh buaya di Australia.

Mengingat perkiraan panjangnya yang mencapai 16 meter, paus bungkuk dianggap tidak mungkin diganggu oleh buaya-buaya itu.

Namun seorang pejabat pada Senin (14/09) mengatakan, risiko bisa meningkat jika paus itu terdampar di perairan dangkal.

Apa yang terjadi?

Paus-paus tersebut terlihat pekan lalu di East Alligator River oleh orang-orang yang berperahu di Taman Nasional Kakadu - taman nasional terbesar di Australia dan terdaftar sebagai situs Warisan Dunia.

Pemandangan hewan yang berenang di sepanjang kelokan sungai yang berlumpur - jauh dari perairan terbuka - membuat penduduk setempat takjub.

Sungai

Paus itu berenang sejauh 30 kilometer ke hulu. (NT GOVERNMENT)

"Ini adalah sesuatu yang belum pernah tercatat sebelumnya - tidak hanya di wilayah utara - namun (di) Australia. Ini benar-benar tidak biasa," kata Carole Palmer, seorang ilmuwan ekosistem laut untuk pemerintah wilayah itu.

Sulit untuk menentukan apakah lebih dari satu paus membutuhkan bantuan karena "air sungai cokelat keruh", tambahnya.

Bagaimana paus-paus itu bisa sampai di sana?

Palmer mengatakan bahwa para ahli tidak yakin "mengapa paus ini salah belok" ke lepas pantai utara negara itu.

Diperkirakan mereka menuju selatan ke Antartika, namun keliru memasuki muara yang membawa mereka lebih jauh ke hulu sungai.

Paus-paus bermigrasi ke perairan yang lebih hangat di lepas pantai Australia selama musim semi untuk melahirkan sebelum kembali ke Antartika untuk mencari makan.

Apakah di sana berbahaya?

Meski sungai itu dipenuhi buaya air asin, para ilmuwan berharap di sana tidak terjadi pertarungan.

Namun jika paus terperangkap di perairan dangkal dan terdampar di tepi sungai "mereka menjadi santapan mudah," kata Palmer kepada ABC.

"Tidak mungkin kita bisa mengangkat paus bungkuk sepanjang 12-16 meter dari gundukan pasir dan berpotensi membuat buaya-buaya itu keluar."

Apa saja yang dilakukan pihak berwenang untuk membantu?

Untuk memandu paus menuju laut, sejumlah perahu dilarang berlayar di sepanjang sungai.

Diharapkan paus tersebut akan pergi dengan sendirinya, tetapi paus itu tetap berada di sekitar bagian sungai yang paling dalam - sekitar 20 kilometer dari laut.

Paus bungkuk

Petugas taman nasional berupaya mengangkat paus dari sungai. (NT GOVERNMENT)

Palmer mengatakan pihak berwenang tengah mempertimbangkan beberapa cara untuk menariknya keluar, seperti memanfaatkan "suara bising" dari perahu-perahu yang berlayar di sekitar sungai atau rekaman suara paus bungkuk.

"Ini memang cukup rumit, namun semua orang benar-benar berupaya untuk memindahkannya dengan cara yang positif," katanya.

(ita/ita)