Makan 'Semut Pantat Besar' Demi Umur Panjang, Seperti Apa Rasanya?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 11:34 WIB
Jakarta -

Setiap tahunnya, warga Barichara, Kolombia berlomba-lomba berburu semut ratu. Satu kilogramnya dapat dijual seharga 300.000 peso (Rp1,2 juta). Semut ini dianggap bisa memperpanjang usia.

Hari terpenting di Barichara, kota kolonial Kolombia, bukanlah Natal, Tahun Baru atau Paskah. Penduduk setempat menyebut hari itu dengan penuh semangat: La Salida, atau "Keluar".

Ketika hari itu tiba, rasa tak sabar terasa muncul di jalan-jalan berbatu dan bangunan bercat putih di Barichara. Penyapu jalan dan pembersih rumah meletakkan peralatan mereka saat bekerja, anak-anak menyelinap keluar dari sekolah dan pemilik toko menghilang tanpa jejak.

Mereka semua mencari 'hormigas culonas', atau semut "pantat besar", yang dianggap sangat berharga seperti kaviar di wilayah Santander tengah utara Kolombia. Setiap musim semi saat jutaan serangga berpantat lebar ini menetas di pedesaan sekitarnya, kegilaan panen tahunan pun terjadi.

"Siapa cepat, dia dapat," kata Margarita Higuera, yang pindah ke Barichara pada tahun 2000. "Jika Anda bisa meletakkan ember di atas sarang semut, maka semutnya adalah milik Anda, tak peduli siapa pemilik tanahnya.

La Salida terjadi sekitar bulan Maret atau April, saat matahari bersinar cerah setelah hujan lebat dan ketika bulan purnama. La Salida menandai awal musim kawin tahunan semut, yang dapat berlangsung hingga dua bulan. Selama waktu itu, penduduk setempat berebut mengumpulkan semut ratu sebanyak mungkin.

Kembung dengan telur dan siap untuk bereproduksi, ratu semut warna coklat berukuran sebesar kecoa ini dihargai karena pantatnya yang bundar. Rasanya seperti kacang, popcorn atau bahkan bacon renyah saat dipanggang dan diasinkan.

"Menurut saya, rasanya unik," kata Higuera, sambil mencabut sayap tipis dari semut yang memenuhi panci kecil di atas meja dapurnya.

"Ini mengingatkan saya pada masa lalu saya. Saya ingat suatu ketika kakek saya membeli satu tong penuh berisi semut, dan bisa terdengar bagaimana mereka semua merangkak di dalam. Seluruh keluarga duduk mengelilinginya dan menyianginya satu per satu."

Semut ratu dinikmati sebagai makanan lezat dan dikunyah sebagai camilan di sudut jalan, digoreng di atas kompor rumah warga kelas pekerja, dan hadir pada menu di restoran kelas atas di seluruh Kolombia.

Faktanya, 1 kg serangga ini dapat dijual seharga 300.000 peso (Rp1,2 juta), beberapa kali lebih berharga daripada kopi Kolombia yang terkenal di seluruh dunia. Maka, semut juga menjadi sumber pendapatan yang lumayan bagi penduduk setempat.

"Sehari mengumpulkan hormigas, saya bisa mendapatkan uang setara gaji seminggu," kata Federico Pedraza, pembersih jalan di Barichara. "Tapi ini adalah pekerjaan yang berat. Koloni semuat tidak membiarkan ratunya diambil dengan mudah."

Semut ratu yang dipanggang, goreng, atau diasinkan ini dianggap sebagai kaviar di wilayah Santander, Kolombia. (Peter Yeung)

Pengumpul semut bisanya mengenakan sepatu bot karet dan baju lengan panjang untuk perlindungan. Mereka harus bekerja dengan cepat karena prajurit semut yang bertugas melindungi ratu dari bahaya, dapat menyerang dengan gigitan menyakitkan yang bisa membuat berdarah.

Penduduk desa yang menyebar di ladang menyimpan para ratu yang menggugah selera itu ke dalam wadah apa pun yang ada: tas, kendi, pot, karung. Mereka bekerja dengan panik sepanjang siang, untungnya, imbalannya cukup besar.

Selain sebagai sumber protein yang baik, spesies atta laevigata (juga dikenal sebagai semut pemotong daun Amerika Selatan) kaya akan asam lemak tak jenuh, yang mencegah kolesterol tinggi.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition mengungkapkan bahwa semut mengandung antioksidan tingkat tinggi dan rutin mengkonsumsi semut dapat membantu mencegah kanker.

"Itulah alasan mengapa kami barichara (sebutan penduduk setempat) biasanya berumur panjang dan sehat," kata Cecilia Gonzlez-Quintero, seorang penjaga toko yang telah mengawetkan dan menjual semut dalam toples kaca selama 20 tahun. "Semut memberi kita kekuatan khusus, [terutama] semut dengan pantat besar."

Hormigas culones telah dikonsumsi di dan sekitar Santander selama kurang lebih 1.400 tahun. Menurut catatan sejarah, penduduk asli Guane di Kolombia tengah pertama kali membudidayakan dan memasak serangga pada abad ke-7. Mereka menggunakan jepitan tajam semut sebagai jahitan untuk menyembuhkan luka. Belakangan, penjajah dan perampok Spanyol mengadopsi kebiasaan itu.

Mungkin karena ditangkap saat sedang berada pada titik puncak reproduksi bergelora, semut ini juga dianggap sebagai afrodisiak. Semut yang dikemas dalam pot keramik sering diberikan sebagai hadiah pernikahan. Kebiasaan ini sangat umum di antara komunitas adat Andes yang dikenal sebagai pati amarillos, atau orang "kaki kuning", dinamai sesuai dengan tanah kuning-oranye tempat mereka berjalan dan warna tanah yang dipakai membangun rumah adobe tradisional mereka.

Di kota Bucaramanga, patung logam sangat besar didirikan untuk menghormati serangga ini. Mural semut warna-warni dapat dilihat di dinding di sekeliling kota. Sopir taksi mengemil segenggam hormigas panggang yang renyah, dan anak-anak bermain dengan mainan semut berbulu kecil.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya nafsu memakan kuliner khusus ini membuat para semut yang semula hanya makanan regional menjadi bahan makanan mewah.

Setiap musim semi, para pemanen mengirim truk berisi ratu semut ke seluruh Kolombia. Bahkan restoran eksperimental dan kelas atas di ibu kota negara, Bogot, menyajikannya secara musiman. Di Mini-Mal, misalnya, semut disajikan bersama ikan pirarucu Amazon asap atau sebagai bagian dari saus lada hitam campur semut dengan daging sapi panggang, untuk klien yang berani.

"Hormigas adalah bagian penting dari kuliner Kolombia," kata koki restoran Eduardo Martnez, yang pertama kali mencicipinya dalam perjalanan keluarga ke Santander saat berusia sembilan tahun. "Saya ingin mempromosikan penggunaannya dan memastikan bahwa tradisi ini bertahan."

Namun dalam beberapa generasi terakhir, gabungan antara deforestasi dan urbanisasi telah menimbulkan masalah antara semut dan masyarakat di Santander. Pertumbuhan populasi mendesak serangga menggali hingga ke dalam fondasi bangunan, dan bentrok dengan petani yang tanamannya dimakan.

Semut "pantat besar" dijual di toko-toko, dimakan di rumah-rumah dan semakin banyak disajikan di restoran kelas atas di kota-kota Kolombia. (anamejia18/Getty Images)

Selain itu, perubahan iklim telah memengaruhi siklus reproduksi semut. Cuaca ekstrem yang tidak menentu telah merusak keseimbangan penting dari kelembapan, matahari, dan curah hujan yang dibutuhkan koloni. Musim kawin mereka bergantung pada kondisi cuaca yang sangat spesifik. Jika tanah tidak cukup lunak, para ratu mungkin tidak dapat keluar dari terowongan bawah tanah dengan mudah. Penggundulan hutan dan urbanisasi memengaruhi habitat alami semut, membatasi tempat penyebaran sarang.

"Ekosistem berubah," kata Aura Judit Cuadros, peneliti independen di Bucaramanga yang mempelajari cara membiakkan semut secara berkelanjutan untuk konsumsi skala besar. "Tanpa kondisi yang tepat, semut mungkin tidak lahir atau tidak dapat keluar dari tanah."

Dari kaki perbukitan Barichara hingga lembah yang mengelilingi kota San Gil, Curit, Villanueva, dan Guane, serangga yang berharga ini ada di mana-mana dan berarti bahwa kepunahan mereka belum menjadi perhatian serius.

Ketika saya berkunjung, Alex Jimenez, seorang pemandu dan ahli semut dari daerah tersebut, mendorong pintu masuk ke hormiguero (sarang semut) dengan cabang pohon yang panjang.

Beberapa semut tentara yang kesal segera muncul untuk menyelidiki gangguan tersebut, berbaris berkeliling mencari pelaku. Menurut Jimenez, setiap sarang berisi ribuan semut dan dapat meluas 5 meter di bawah tanah dalam labirin terowongan yang luas yang akan membentang berkilometer jika diletakkan lurus.

Anehnya, ratu sarang dapat hidup hingga 15 tahun, tetapi ketika mati, koloni harus pindah dan membangun sarang baru.

"Semut-semut ini memiliki kecerdasan tertentu, kecerdasan alami," kata Jimenez, sambil menatap barisan semut pemotong daun yang membawa potongan dedaunan di atas badan mungil mereka. "Mereka bekerja sebagai satu kesatuan untuk memastikan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Mereka telah dipanen dan dimakan selama ratusan tahun. Mereka tidak akan punah."

Seolah ingin membuktikan maksudnya, pria asli Santander ini menceritakan pengalamannya bersepeda sejauh 6 km bersama teman-teman selama puncak musim kawin tahun lalu. Jimenez mengatakan, bersepeda melalui pedesaan seharusnya memakan waktu 30 menit saja, tetapi perjalanan itu akhirnya berlangsung hampir empat jam.

Kelompok itu, yang sangat senang melihat adanya sarang semut, akhirnya berhenti setiao beberapa menit untuk memanen, lagi dan lagi.

Sampai di lereng bukit, sepertinya seluruh desa keluar untuk ikut, ambil bagian dalam tradisi Kolombia (dan pra-Kolombia) yang berusia berabad-abad ini.

"Seluruh kota berbau hormigas malam itu," kata dia. "Hormigas! Hormigas! Hormigas!"

Anda dapat membaca versi asli tulisan ini yang berjudul "Could eating ants help us live longer" di BBC Travel.

(ita/ita)