Selandia Baru Berhasil Atasi Corona, Banyak Warganya Pulang dari Perantauan

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 11:27 WIB
Jakarta -

Pertengahan Maret lalu, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merencanakan penutupan perbatasan dan ketika karantina wilayah di kota New York mulai bergulir, Hannah Reid pulang ke kampung halamannya di Selandia Baru.

Sebelum pandemi, dia menjalani program strata dua ilmu hukum di kampus bergengsi, Columbia University. Dia ingin mengadu nasib di kota yang memiliki kompetisi ketat di antara praktisi hukum.

"Situasi seperti ini memberi saya banyak sudut pandang," kata Reid yang kini berusia 27 tahun.

"Tiba-tiba gaji Rp2,9 miliar per tahun di firma hukum New York tidak lagi menarik dan gemerlap jika dibandingkan risiko kesehatan dan karantina wilayah seperti itu," tuturnya.

Reid sekarang berada di Auckland. Dia menjalankan pekerjaan lamanya di sebuah kantor firma hukum setempat.

"Cara AS mengatasi Covid-19 dan bagaimana penyakit itu berdampak pada New York sangat mempengaruhi keputusan saya. Saya senang sudah mengambil keputusan ini," ujarnya.

"Kembali ke Selandia Baru, jika ada kata-kata yang bisa menggambarkannya, mengangkat seluruh beban dan kecemasan saya," kata Reid.

Orang-orang Selandia Baru di seluruh dunia kembali ke kampung halaman, ketimbang menunggu pandemi Covid-19 berakhir di negara orang.

Keberhasilan Selandia Baru menanggulangi virus corona menarik banyak warga mereka untuk kembali dan menikmati tempat aman. Di negara itu, masker dan unit isolasi bukan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hilangnya pekerjaan dan pembatasan perjalanan mendorong orang-orang dari negara Kiwi itu untuk pulang dari perantauan.

Sekitar 50.000 warga Selandia Baru pulang kampung sejak awal tahun 2020. Kebanyakan dari mereka, seperti Reid, kembali untuk menetap dan menanggalkan berbagai hal di perantauan.

Covid-19

Pejalan kaki beraktivitas di Auckland, Selandia Baru, 7 September lalu. Masker bukan bagian dari keseharian warga setempat karena keberhasilan pemerintahan menangani virus corona. (Getty Images)

Pada titik ini, sulit memprediksi berapa banyak orang yang akan menyusul, kata Paul Spoonley, sosiolog dari Massey University di Auckland.

Menurut Spoonley, setidaknya 100.000 orang atau 10% dari warga Selandia Baru di luar negeri, akan kembali. Faktor utamanya, kata dia, seberapa lama pandemi akan krisis ekonomi berlangsung.

"Jika ini terus terjadi selama berbulan-bulan, jumlah yang akan pulang akan semakin tinggi," tuturnya.

Selandia Baru pun akhirya mendapatkan peluang unik dari tren ini. Tidak ada negara lain yang menghadapi migrasi balik akibat pandemi, terutama jika ditilik dari siasat pemerintah lokal menangani virus corona dan jumlah warga mereka di luar negeri.

Di antara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Selandia Baru adalah negara nomor dua dengan jumlah warga negara yang tinggal di luar negeri. Peringkat pertama diduduki Irlandia.

Setidaknya 600.000 hingga satu juta warga Selandia Baru ada di perantauan. Sebagai perbandingan, populasi mereka di dalam negeri mencapai sekitar lima juta orang.

Walau banyak di antara mereka menyeberang ke Australia agar dapat bekerja tanpa visa, sebagian lain orang Selandia Baru hijrah ke AS, Inggris, atau ke pusat ekspatriat seperti Dubai dan Singapura untuk mengejar pekerjaan berupah tinggi.

Meskipun sebelumnya banyak orang Selandia Baru kembali setelah sukses berkarier dan membangun rumah tangga di luar negeri, kepulangan dalam jumlah besar seperti saat ini belum pernah terjadi.

Selandia Baru mendadak lebih diinginkan ketimbang London, New York, Hong Kong, atau kota-kota lain di dunia.

Covid-19Pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi keseharian warga Selandia Baru dalam waktu lama. (Getty Images)

Pertukaran keterampilan baru

Selandia Baru sebelumnya kehilangan banyak talenta hebat saat terjadi eksodus orang-orang terampil negara itu ke luar negeri. Kepergian mereka digantikan imigran terampil dari seluruh dunia.

Rata-rata migrasi per tahun negara itu mencapai 56.000 orang. Pada tahun 2019, 27% warga Selandia Baru lahir di luar negeri.

Namun arus kepulangan ini dianggap sebagai pertukaran keahlian yang tidak biasa oleh Julie Fry, penulis buku berjudul Better Lives: Migration, Wellbeing and New Zealand.

Dia berkata, warga Selandia Baru yang mengembangkan keterampilan dan jejaring profesional di luar negeri pulang kampung dan memberi keuntungan bagi negara itu.

Arus balik itu, menurut Fry, adalah peluang besar untuk memadukan Selandia Baru dan dunia. Mereka yang pulang kampung dapat berbagi pengalaman dan keterampilan dari luar negeri.

Sementara Spoonley menyebut negaranya akan semakin tergenjot karena banyak warga mereka kembali meski sebenarnya bisa menetap di luar negeri tanpa batas waktu.

Pada tahap ini, sulit mengetahui berapa banyak warga Selandia Baru yang akan kembali merantau. Namun banyak dari mereka, seperti halnya Reid, tak memiliki rencana untuk itu, meski virus corona tak lagi menjadi hambatan.

Harga rumah yang naik pesat menunjukkan kenaikan permintaan untuk tempat tinggal permanen. Perubahan kota-kota besar akibat Covid-19 barangkali juga mengubah persamaan.

"Biasanya ketika Anda kembali dari luar negeri ke Selandia Baru, Anda merindukan hal-hal hebat tentang New York atau London," kata Fry.

Namun dengan melihat perubahan kota, kata Fry, baik dalam jangka pendek hingga menengah, secara psikologi banyak orang akan melihat persoalan secara utuh, terutama soal kualitas hidup dan peluang pendidikan anak-anak mereka.

Covid-19

Strategi penanganan Covid-19 yang tepat oleh Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menjadikan negaranya salah yang paling sukses mengatasi virus corona. (Getty Images)

Dalam waktu dekat, perekonomian Selandia Baru mungkin bisa disebut jauh dari cerah. Walau tingkat pengangguran mencapai sekitar 4%, jumlah orang yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan meningkat drastis.

Sejumlah pakar ekonomi memprediksi tingkat pengangguran hingga akhir tahun akan berada di angka 9%.

Saat ini hanya sedikit data yang mengungkap apakah orang-orang yang kembali ke Selandia Baru telah bekerja kembali. Setidaknya, banyak di antara mereka kembali ke pekerjaan lama atau memanfaatkan pengalaman di luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Pada saat yang sama, fleksibilitas pekerjaan yang tak berbasis di kantor memungkinkan warga Selandia Baru membawa pulang pekerjaan mereka.

Reid berkata, kenalannya memulai pekerjaan di sebuah firma hukum berbasis di London dari Auckland. Sementara Reid melanjutkan pekerjaan di kantor pengacara HAM terkemuka berbasis di New York. Ini adalah pekerjaan sampingan baginya.

"Banyak firma hukum memperbolehkan karyawannya bekerja dari jarak jauh. Dan jika kamu bisa melakukan itu dari Selandia Baru, kenapa tidak mengambil kesempatan itu," kata Reid.

Meski tak semua yang pulang kampung bisa segera mendapatkan pekerjaan, Fry menyebut orang-orang itu secara perlahan akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Keberadaan mereka membutuhkan jasa dan perumahan.

"Mereka butuh rumah, membeli barang, sekolah, dan dokter. Permintaan itu akan melonjak. Butuh waktu untuk penyesuaian.

"Yang akan Anda lihat adalah orang-orang yang butuh pekerjaan, tapi berbagai lowongan itu akan tercipta seiring waktu," tuturnya.

Jalan terjal ke depan

Tetap saja, beberapa anak muda Selandia Baru masih merasa gatal untuk kembali merantau. Maraea McMahon tengah menanti musim ski di Kanada saat pandemi terjadi. Sejak kembali ke Wellington, dia bekerja sebagai sukarelawan.

Kini McMahon mulai mempersiapkan rencana melanjutkan studi di New York. Dia pernah bekerja paruh waktu sebagai asisten rumah tangga di kota itu.

"Saya tidak bodoh dan meninggalkan Selandia Baru dalam waktu dekat. Saya akan berangkat ketika situasi sudah aman," ucapnya.

Agar Selandia Baru benar-benar mengambil manfaat dari arus balik ini, para perantau itu harus tinggal di kampung halaman mereka dalam waktu yang panjang.

Namun belum ada jawaban atas seberapa mungkin situasi itu tercipta. Yang jelas, keputusan para perantau akan dipengaruhi ongkos perjalanan, vaksin virus corona, dan kecepatan global memulihkan perekonomian.

Pengalaman hidup di luar negeri merupakan modal vital bagi orang-orang Selandia Baru selama beberapa dekade terakhir. Banyak dari mereka yang pulang dari perantauan mungkin cemas pada peluang untuk kembali hijrah.

Begitu pandemi dapat dikontrol, orang-orang Selandia Baru barangkali akan terdorong oleh faktor yang sama untuk merantau.

Walau terdapat lebih dari 100.000 'warga baru', pasar tenaga kerja tetap sempit sehingga para pekerja tanpa pengalaman luar negeri akan mengalami kesulitan. Gairah melihat dunia diyakini juga akan berperan dalam keputusan orang Selandia Baru untuk meninggalkan kampung halaman.

Namun ada satu elemen yang akan mengganggu keseimbangan, yaitu rasa cinta yang begitu mendalam.

Secara umum, menurut Spoonley, arus balik yang terpaksa, di mana imigran wajib meninggalkan kampung halaman dan kembali ke negara asal, menciptakan kemarahan dan rasa sakit hati. Keinginan kuat untuk kembali hijrah diyakini akan tetap tinggi.

Namun kini Spoonley merujuk rasa syukur mendalam yang dirasakan para perantau dari Selandia Baru yang justru mendorong mereka untuk tinggal lebih lama di kampung halaman.

"Saat ini banyak orang yang kembali merasakan syukur karena berada di negara yang berjalan secara normal, di mana mereka dapat memperjuangkan kehidupan mereka," ucapnya.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam judulNew Zealand's brain gain boostdiBBC Worklife.

(ita/ita)