Perundingan Damai Bersejarah dengan Taliban Dimulai, Apa yang Diharapkan?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 15:20 WIB
Tiga generasi setelah ledakan bom di Provinsi Balkh - banyak warga Afganistan tidak pernah merasakan perdamaian. (Reuters)
Doha -

Perundingan damai pertama antara pemerintah Afghanistan dan Taliban dimulai di Qatar pada hari Sabtu (12/09) setelah tertunda selama berbulan-bulan.

Dalam pidato pembukanya, kepala delegasi Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan ada kesempatan untuk mengakhiri hal yang ia sebut "penderitaan tak berkesudahan".

Pemimpin politik Taliban, Mullah Baradar, berkata ia ingin Afghanistan menjadi negara independen dengan sistem Islam.

Perundingan itu seharusnya dimulai menyusul kesepakatan keamanan AS-Taliban pada Februari.

Namun perdebatan soal pertukaran tawanan yang kontroversial memperlambat tahapan berikutnya, begitu pula kekerasan di Afghanistan, tempat perang yang telah berlangsung selama empat dekade menemui jalan buntu.

AS telah memainkan peran penting sebagai perantara negosiasi. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyebut perundingan ini "peristiwa penting", dan mengatakan kepada kedua pihak bahwa seluruh dunia mengharapkan kesuksesan mereka.

Delegasi para pemimpin Afganistan berangkat dari Kabul ke Doha pada Jumat - 11 September, tanggal terjadinya serangan mematikan terhadap AS 19 tahun lalu, yang berujung pada akhir kekuasaan Taliban.

Pada hari Kamis, Taliban mengonfirmasi bahwa mereka akan hadir, setelah enam tawanan terakhir dilepaskan.

Apa yang bisa diharapkan dari perundingan ini?

Ini adalah pertemuan langsung pertama antara Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan. Sebelumnya, kelompok militan itu selalu menolak menemui pemerintah, menyebut mereka tidak berdaya dan "boneka" Amerika.

Kedua kubu bertujuan mencapai rekonsiliasi politik dan mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung puluhan tahun, yang dimulai dengan invasi Uni Soviet pada 1979.

Perundingan ini seharusnya dimulai pada Maret tapi ditunda berkali-kali karena perselisihan soal pertukaran tawanan yang disepakati dalam perjanjian AS-Taliban pada bulan Februari, serta kekerasan di Afghanistan.

Kesepakatan AS-Taliban yang terpisah namun saling terkait menetapkan jadwal untuk penarikan pasukan asing, dengan imbalan berupa jaminan kontra-terorisme.

Kesepakatan tersebut perlu satu tahun untuk difinalisasi, dan perundingan pemerintah-Taliban diperkirakan akan menjadi lebih kompleks. Banyak yang khawatir bahwa kemajuan yang telah dicapai dalam hal hak-hak perempuan bisa dikorbankan dalam prosesnya.

Perundingan ini juga menjadi tantangan bagi Taliban, yang harus mengajukan visi politik yang nyata bagi Afghanistan. Sejauh ini mereka selalu samar-samar, menyatakan mereka mendambakan pemerintahan yang "Islami" tapi juga "Inklusif".

Perundingan ini mungkin akan menunjukkan bukti tentang bagaimana kelompok militan tersebut telah berubah sejak 1990-an, ketika mereka menggunakan interpretasi yang keras dari hukum Syariah.

Apa isi kesepakatan AS-Taliban?

AS dan sekutu mereka di NATO setuju untuk menarik semua pasukan dalam waktu 14 bulan, sementara Taliban berkomitmen untuk tidak membiarkan Al-Qaeda atau kelompok ekstremis lainnya untuk beroperasi di wilayah yang mereka kuasai.

AS juga setuju untuk mencabut sanksi terhadap Taliban dan bekerja sama dengan PBB untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya terhadap kelompok itu, serta mengurangi jumlah pasukannya di negara itu dari sekitar 12.000 menjadi 8.600 dan menutup beberapa pangkalan.

Pasukan yang dipimpin AS telah hadir di Afghanistan selama hampir dua dekade, usai melancarkan serangan udara untuk menggulingkan Taliban pada 2001, menyusul serangan mematikan pada 11 September yang dilakukan Al-Qaeda di New York. Saat itu Taliban melindungi pemimpin Al-Qaeda, Osama Bin Laden dan menolak untuk menyerahkannya.

Pemerintah Afghanistan tidak ambil bagian dalam kesepakatan Februari, tetapi diharapkan akan memulai perundingan damai dengan Taliban pada bulan Maret.

Kesepakatan tersebut juga meliputi pertukaran sekitar 5.000 tahanan Taliban dan 1.000 personel keamanan Afghanistan yang ditawan untuk diselesaikan sebelum perundingan Maret dimulai.

Tahanan Taliban

Tahanan Taliban bersiap meninggalkan penjara pemerintah di Kabul pada bulan Agustus. (EPA)

Apa yang terjadi setelahnya?

Namun juru runding pemerintah Afghanistan dan Taliban tidak sepakat soal jumlah tahanan yang dibebaskan dan siapa saja mereka. Kekerasan yang terus terjadi juga membuatnya terus tertunda.

Beberapa orang yang Taliban minta untuk dibebaskan adalah komandan-komandan yang diyakini terlibat dalam serangan besar.

"Kami tidak bisa membebaskan para pembunuh rakyat kami," kata seorang negosiator pemerintah saat itu.

Menurut sebuah laporan oleh Washington Post bulan lalu, tiga warga Afghanistan yang dituduh terlibat dalam kematian tentara AS juga menjadi sorotan.

Progress-nya lambat, tetapi pada bulan Agustus, pemerintah Afghanistan mulai membebaskan 400 tahanan terakhir Taliban, setelah langkah tersebut disetujui oleh majelis besar, atau loya jirga para tetua.

Para delegasi menghadiri loya jirga untuk mendiskusikan pembebasan tahanan Taliban.

Para delegasi menghadiri loya jirga untuk mendiskusikan pembebasan tahanan Taliban. (EPA)

Kelompok 400 orang itu tidak langsung dibebaskan seluruhnya, setelah Prancis dan Australia menyatakan keberatan pada pembebasan enam tahanan yang dituduh melakukan serangan fatal terhadap warga negara mereka, termasuk pekerja kemanusiaan.

Pembebasan dan pemindahan mereka ke Doha pada malam sebelum pembicaraan menghilangkan rintangan terakhir.

Perang terpanjang AS

Telah berlangsung selama 19 tahun, konflik di Afghanistan - dengan nama sandi Operation Enduring Freedom dan kemudian Operation Freedom's Sentinel - adalah yang terpanjang dalam sejarah AS.

Pasukan AS di Afganistan.

Serangan Taliban meningkat tajam sejak pasukan koalisi yang dipimpin AS mengakhiri misi tempur mereka. (Reuters)

Pada awal operasi tersebut di tahun 2001, AS dibantu oleh koalisi internasional, dan dengan cepat meruntuhkan kekuasaan Taliban. Namun kelompok militan itu berubah menjadi pasukan pemberontak yang melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan koalisi dan militer Afghanistan, serta pejabat pemerintah Afghanistan.

Koalisi internasional mengakhiri misi tempurnya pada tahun 2014. Total korban tewas dari koalisi pada saat itu hampir mencapai 3.500. Lebih dari 2.400 personel militer AS telah tewas. Inggris kehilangan lebih dari 450 tentaranya.

Institut Watson di Universitas Brown pada November 2019 memperkirakan lebih dari 43.000 warga sipil telah tewas, dengan 64.000 personel keamanan Afghanistan dan 42.000 pejuang anti-pemerintah tewas. Angka sebenarnya tidak akan pernah diketahui.

Setelah 2014, AS melanjutkan operasi tempurnya sendiri dalam skala kecil, termasuk serangan udara. Sementara Taliban terus mendapatkan momentum dan sekarang mengendalikan lebih banyak wilayah dibandingkan ketika mereka berkuasa tahun 2001.

(nvc/nvc)