Misteri Hilangnya Ratusan Anak di Jerman dalam Dongeng Peniup Seruling

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 17:38 WIB
Legenda si Peniup Seruling dari Hamelin diduga berdasarkan peristiwa nyata. (Getty Images)
Jakarta -

Setiap pagi pada hari kerja, selama 26 tahun terakhir, Michael Boyer mengenakan celana ketat warna-warni cerah, mengikat jubah merah lipstiknya, membawa seruling, lalu turun ke jalanan yang telah eksis sejak abad pertengahan di Hamelin, sebuah kota berpenduduk 60.000 orang di Lower Saxony, Jerman.

"Orang terkadang mengira saya sebagai pahlawan super, pelawak, atau Robin Hood," katanya sambil tertawa. Ia juga kerap diajak foto bersama oleh para wisatawan. Barangkali beberapa orang menganggapnya sebagai pernyataan tentang fluiditas gender.

Tapi kebanyakan orang mengenal siapa dia sebenarnya, yaitu penjelmaan si Peniup Seruling. Dia ditunjuk otoritas Hamelin untuk tampil sebagai karakter paling favorit, setidaknya secara komersial, sekaligus paling tidak favorit dari kota tersebut.

Bertanggung jawab untuk menemui dan menyapa kelompok turis dan pejabat yang berkunjung ke Hamelin, ia memimpin tur dan mewakili legenda abadi yang menarik kebanyakan wisatawan ke kota itu.

Kisah si Peniup Seruling sudah diceritakan sejak lama. Berasal dari cerita rakyat abad pertengahan, cerita ini mengilhami sajak Goethe yang berjudul Der Rattenfanger, legenda Grimm Bersaudara, The Children of Hamelin; dan salah satu puisi Robert Browning yang paling terkenal, The Pied Piper of Hamelin.

Meskipun setiap penulis mengotak-atik ceritanya, dasarnya tetap sama: si Peniup Seruling disewa oleh Hamelin untuk membersihkan kota dari wabah tikus. Mengikuti nada hipnotis dari seruling ajaib, hewan-hewan pengerat itu berjalan melewati gerbang kota menuju malapetaka yang menanti mereka.

Namun, tidak hanya tikus yang terpikat oleh musik dari seruling ajaib. Ketika pemerintah kota tidak mau membayar jasa si Peniup Seruling, sang penyelamat berubah menjadi penggoda yang lebih kejam dan mengincar anak-anak Hamelin.

Terpesona oleh nada serulingnya, anak laki-laki dan perempuan mengikuti si Peniup Seruling ke luar kota, lalu menghilang begitu saja.

Dongeng itu bertahan, begitu pula Hamelin, yang masih tampak seolah-olah berada dalam dongeng.

Michael Boyer membawa turis melewati deretan rumah kayu. Ada kedai burger ala abad ke-16 yang berhiaskan ukiran-ukiran Gotik, bangunan flamboyan yang menjadi contoh utama arsitektur Weser-Renaissance, patung-patung Gargoyle yang membelalak, serta ukiran kayu polikrom berwarna cerah.

Namun, semua ini hanyalah latar belakang dari industri penginapan kota itu, yang menjual semua hal terkait si Peniup Seruling.

Restoran lokal menyajikan hidangan khas 'ekor tikus' yang terbuat dari daging babi yang diiris tipis. Toko roti menjual roti dan kue berbentuk hewan pengerat.

Museum Hamelin menawarkan peragaan cerita si Peniup Seruling lewat suara dan cahaya. Aktor lokal memainkan drama si Peniup Seruling di ruang terbuka selama musim panas.

Adapun, banyak toko suvenir di kota itu menjajakan cenderamata yang terinspirasi dari tikus. Anda bisa pulang membawa kantung yang penuh dengan cendera mata kaus Peniup Seruling, magnet lemari es, mug, dan seruling.

Hal-hal yang bisa dipandang sebagai lucu-lucuan semata sebenarnya menutupi sesuatu yang lebih dalam. Ini adalah alasan legenda si Peniup Seruling tidak hanya hidup di Hamelin, tapi juga dalam cerita rakyat yang abadi.

Pada tingkat tertentu, kisah tersebut memicu rasa takut paling mendasar, bahwa si Peniup Seruling sebagai momok yang terus menghantui kita. Orang tua mana pun takut kehilangan bayinya.

Banyak anak hilang setiap hari, sebagaimana dilaporkan dalam siaran berita malam. Dan kemudian kita semua pada akhirnya akan lenyap dalam sekejap. Si Peniup Seruling hakikatnya adalah malaikat kematian.

Namun jika kisah tersebut menimbulkan rasa takut yang universal, hal itu masih bergema sangat kuat di Hamelin. Tur Piper menunjukkan alasannya.

Faktanya, kejutan sebenarnya dari tur tersebut bukanlah pemandangan kota yang terpelihara dengan indah, namun kesan bahwa si Peniup Seruling lebih dari sekadar dongeng.

Grimm Bersaudara dan Browning mungkin telah mengubah legenda menjadi karya seni, tetapi ternyata ceritanya kemungkinan besar berdasarkan satu peristiwa sejarah benar-benar pernah terjadi.

Buktinya terukir di wajah Hamelin sendiri. Sebuah plakat berukiran di fasad batu depan rumah yang disebut-sebut sebagai rumah si Peniup Seruling, yang didirikan tahun 1602 menjadi saksi misteri itu.

Prasasti itu berbunyi:

"Tahun 1284, tanggal 26 Juni, hari santo Johanes dan Santo Paul, 130 anak lahir di Hamelin, dibawa keluar kota oleh seorang peniup seruling yang mengenakan pakaian warna-warni. Setelah melewati Calvary dekat Koppenberg mereka menghilang selamanya."

Ilustrasi si Peniup Seruling dari Hamelin

Legenda si Peniup Seruling dari Hamelin diduga berdasarkan peristiwa nyata. (Getty Images)

Prasasti itu bukan satu-satunya petunjuk. Satu catatan dalam dokumentasi kota Hamelin, yang berasal dari tahun 1384, menyebut bahwa, "Sudah 100 tahun sejak anak-anak kita pergi."

Jendela kaca-patri di gereja Santo Nicolai, dihancurkan pada abad ke-17 namun diceritakan dalam catatan sebelumnya, dilaporkan menggambarkan sosok si Peniup Seruling menggiring beberapa anak kecil berwajah pucat.

Dan manuskrip Luneburg dari abad ke-15, catatan awal Jerman tentang peristiwa itu, juga merujuk pada cerita yang sama tentang hilangnya 130 anak atau anak muda pada 26 Juni 1284. Mereka disebut hilang setelah mengikuti seorang peniup seruling ke tempat bernama Calvary atau Koppen.

Lima bait memori, sebagian dalam bahasa latin dan sebagian lain dalam bahasa Jerman, juga mengisahkan hal yang sama.

Maka si Peniup Seruling, lebih dari sekadar dongeng, menjadi lambang suatu misteri sejarah. Apa yang terjadi pada anak-anak Hamelin yang hilang?

Masih menjadi penggoda, si Peniup Seruling sekarang menuntun para pengikut baru, yaitu para sejarawan penasaran yang berusaha menjawab yang sebenarnya terjadi di Hamelin pada 26 Juni 1284.

Ada banyak teori, menurut Wibke Reimer, koordinator proyek di Museum Hamelin yang telah menyelenggarakan pameran khusus yang berfokus pada jangkauan global legenda si Peniup Seruling. Salah satu teori paling populer menyatakan anak-anak muda di kota itu menjadi bagian dari migrasi warga Jerman ke Eropa Timur yang didorong oleh depresi ekonomi.

"Dalam skenario ini," kata Reimer, "si Peniup Seruling memainkan peran yang disebut lokator atau perekrut. Mereka bertanggung jawab mengatur migrasi ke timur dan konon suka mengenakan pakaian warna-warni dan memainkan alat musik untuk menarik perhatian calon imigran."

Meski banyak sejarawan percaya anak-anak muda itu beremigrasi ke Transylvania, teori linguis Jerman Jurgen Udolph paling banyak diterima.

"Dia berpendapat bahwa daerah di sekitar Berlin adalah lokasi paling mungkin, di wilayah yang sekarang Jerman sebelah timur," kata Reimer, "Udolph memperkuat teorinya dengan bukti berupa nama tempat."

Bahkan, Udolph mendapati bahwa nama keluarga yang umum di Hamelin pada saat itu ditemukan cukup sering di wilayah Uckermark dan Prignitz, dekat Berlin, yang ia nyatakan sebagai pusat migrasi.

Teori ini juga didukung bukti bahwa wilayah tersebut, yang baru dimerdekakan dari bangsa Dane, jadi sasaran empuk untuk kolonisasi Jerman.

Ada juga banyak teori yang lebih fantastis. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa legenda si Peniup Seruling mirip dengan perang salib anak pada abad ke-13, bagian dari gelombang perang salib abad pertengahan yang bertujuan merebut kembali Tanah Suci.

Dan beberapa berpendapat mengklaim anak-anak itu mati karena Wabah Hitam, walau waktunya tidak cocok.

Teori yang lebih menarik merujuk pada fenomena abad pertengahan yang disebut "penggila dansa", didorong oleh rentetan pandemi dan bencana alam bertubi-tubi.

Dikenal dengan nama St Vitus' Dance, catatan sejarah menunjukkan fenomena ini muncul di benua Eropa sejak abad ke-11. Bentuk histeria massa ini menyebar dari individu ke kelompok besar, berupa keinginan tak tertahankan untuk menari seperti orang kejang, kadang-kadang sampai berminggu-minggu.

Seringkali mereka sambil melompat-lompat dan bernyanyi serta berhalusinasi sampai kelelahan. Tak jarang sampai mati, seperti gasing yang tak berhenti berputar.

Dan bahkan, satu wabah terjadi pada abad ke-13 terjadi di Hamelin selatan, di kota Erfurt, tempat sekelompok anak muda dilaporkan berputar-putar dengan hebat sambil berjalan ke luar kota, berakhir 20 kilometer jauhnya di kota sebelah.

Beberapa anak-anak, menurut satu legenda, mati kelelahan tak lama kemudian. Mereka yang bertahan hidup mengidap kejang kronis. Mungkin, beberapa orang berteori, Hamelin mengalami wabah serupa, menari-nari seakan diiringi suara seruling.

Namun semua teori ini mengabaikan satu bagian kunci dalam misteri Hamelin. "Mereka tidak menjelaskan tanggal spesifik hilangnya anak-anak dan trauma yang dirasakan warga setempat," kata Reimer.

"Apakah terjadi sesuatu yang ditutup-tutupi pemerintah? Sesuatu yang begitu traumatis sehingga diceritakan dari mulut ke mulut dan bertahan dalam ingatan kolektif warga kota, selama berabad-abad?" tuturnya.

Ilustrasi si Peniup Seruling dari Hamelin

Beberapa sejarawan berteori bahwa si Peniup Seruling menuntun anak-anak Hamelin ke festival musim panas kaum pagan. (Getty Images)

Bahkan semua dokumentasi lokal menyebut 26 Juni sebagai tanggal anak-anak menghilang. Tanggal ini juga merupakan tanggal perayaan pertengahan musim panas kaum pagan.

Fakta bahwa catatan sejarah juga menekankan bahwa anak-anak mengikuti si Peniup Seruling ke Koppen, yang biasanya diterjemahkan sebagai "bukit", mengindikasikan kaitan lain.

"Ada wilayah di Jerman tempat pertengahan musim panas dirayakan dengan menyalakan api di atas bukit," kata Reimer. Semua itu mengarah pada pembacaan yang lebih mengerikan pada legenda si Peniup Seruling.

Mungkin sosok si Peniup Seruling, yang mewakili dukun pagan, memainkan serulingnya, menuntun anak-anak Hamelin ke perayaan musim panas ketika faksi lokal Kristen, berharap memperkuat pengaruhnya di wilayah itu, mencegat dan membantai mereka. Teori lain yang tidak begitu berdarah: mungkin anak-anak itu dibawa ke biara terdekat.

Bagaimanapun, jika kisah itu menunjukkan satu tragedi sejarah yang mungkin terjadi, ia juga menawarkan penebusan artistik.

"Cerita si Peniup Seruling setahu kami dikenal di sedikitnya 42 negara dan 30 bahasa, mungkin lebih," kata Reimer, yang sedang mempersiapkan debut pamerannya pada 26 Juni,

"Dan cerita itu muncul dalam karya seni, sastra, dan musik internasional. Si Peniup Seruling adalah warisan budaya yang menghubungkan banyak orang."

Pada akhirnya, si Peniup Seruling tidak hanya memecah satu komunitas. Ia juga, pada akhirnya, 'menyatukan' komunitas yang lebih besar.

-

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,The grim truth behind the Pied Piper, diBBC Travel.

(ita/ita)