Dianggap Sakral, Anjing Bernyanyi Dibawa ke Papua 3.500 Tahun Lalu

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 16:26 WIB
Jakarta -

Anjing bernyanyi Nugini (New Guinea singing dog), yang ditemukan di dataran tinggi Papua setelah diperkirakan punah puluhan tahun lalu, adalah hewan yang dianggap sakral oleh masyarakat adat setempat.

Adalah Suku Moniyang tinggal di sekitar Puncak Carstenz pada ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl)yang meyakini bahwa hewan tersebut sakral.

"Anjing ini sebenarnya sangat familier dengan Suku Moni yang ada di daerah tersebut, dan dianggap sebagai bagian dari leluhur mereka, dianggap sakral juga," ujar Hari Suroto, peneliti senior di Balai Arkeologi Papua, kepada wartawan BBC News Indonesia, Resty Woro Yuniar.

"Mereka dianggap sebagai tuan tanah, atau bisa juga disebut sebagai penjaga di situ karena [anjing tersebut] untuk saat ini hanya ditemukan di kawasan [tambang emas dan tembaga] Grassberg atau di Puncak Carstenz," jelas Hari.

Menurut kepercayaan Suku Moni, jelas Hari, anjing bernyanyi ini "dapat mengetahui mana orang yang jahat dan mana orang yang baik".

"Suku Moni meyakini, anjing ini, atau [yang mereka sebut] dingo, bisa berubah menjadi manusia, tapi berubahnya malam hari, dan bisa memakan orang yang dianggap jahat atau musuh," kata Hari.

Foto anjing bernyanyi yang tadinya diperkirakan sudah punah itu diunggah oleh Anang Dianto, insinyur mesin yang bekerja untuk raksasa tambang PT Freeport Indonesia.

Ia mengunggah foto-foto dan video anjing-anjing tersebut di Twitter pada akhir Juli lalu.

"Sangat merasa beruntung. Saya juga tidak ada niat apa-apa, sengaja mencari juga tidak, karena saya niatnya kerja di atas itu, cuma mereka seperti mendatangi kami," ujar Anang.

Senang melihat anjing bernyanyi Papua

Unggahan Anang di Twitter berupa foto dan video anjing bernyanyi Papua memicu perbincangan warganet. Hingga Kamis (10/09), unggahan Anang telah dicuitkan ulang sebanyak 22.700 kali dan mendapat 2.100 komentar.

Pria berusia 30 tahun tersebut menceritakan, dirinya sedang berada di area tambang Grassberg untuk mencari sebuah peralatan, pada akhir Juli lalu. Area tambang itu sendiri berada pada ketinggian sekitar 4.000 mdpl, sementara Anang biasa bekerja di fasilitas Freeport "di bawah" atau di sekitar 2.500 mdpl.

"Saya mau pergi dari area itu, cuma kebetulan si anjing itu nongol, yang pertama kali terlihat itu yang betina, sama anak-anaknya, ada tiga, tapi mengikuti dari kejauhan.

"Saya minta teman saya yang menyetir untuk stop. Kemudian saya turun dari mobil untuk melihat lebih dekat dan memotret, eh tahunya anjing itu mendatangi sendiri. Kebetulan dapat momen itu saya foto anjingnya, saya video-in juga," katanya.

Anang saat itu bersama dua temannya, namun hanya dia yang turun dari mobil untuk melihat anjing-anjing tersebut dari dekat.

"Saya waktu itu ada tiga orang, cuma saya yang turun dari mobil. Kebetulan waktu itu saya ada nasi kotak, kemudian saya lempar ayam goreng [ke anjing-anjing tersebut]. Yang betinanya bawa [ayam itu], untuk anak-anaknya sepertinya karena tidak langsung dimakan," kata Anang.

https://mobile.twitter.com/anangdianto/status/1286508558796771328

Dari kawanan yang terdiri dari anjing jantan, anjing betina, dan tiga anak-anak mereka tersebut, Anang berhasil memotret anjing jantan dan betina. Ia mengaku sempat ragu-ragu sebelum mendekati mereka.

"Pastinya excited [senang sekali] ya, biasanya kan cuma dengar suaranya aja, beberapa kali cuma dengar suara dan ini bisa berhadapan langsung. Agak ragu-ragu juga sih, ini anjing galak atau tidak, akan menyerang kita atau tidak, tapi karena sepertinya mereka tidak akan menyerang ya saya dekati dan memang tidak menyerang anjingnya," ujarnya.

Anang mengatakan ia tidak menyangka cuitannya menjadi viral 'sampai di-cuitkan ulang lebih dari 20.000 kali.

Foto-foto anjing bernyanyi Papua miliknya juga diketahui oleh para peneliti, terutama dari New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF), yayasan peneliti spesies anjing bernyanyi Nugini liar yang berbasis di Florida, Amerika Serikat.

Anang melaporkan temuannya ke halaman Facebook NGHWDF, yang lantas direspons langsung oleh pendirinya, James 'Mac' McIntyre. Pada 2016, McIntyre selama satu bulan secara khusus mencari dan memfoto sekitar 15 anjing liar di pegunungan Papua.

Dua tahun kemudian, McIntyre kembali ke Papua dan kali ini berhasil mendapatkan sampel DNA dari dua anjing yang terperangkap, yang lantas dilepaskan lagi.

Dua anjing yang telah diambil sampelnya oleh McIntyre tersebut adalah anjing-anjing yang dilihat oleh Anang bulan lalu.

Sampel ini dianalisis oleh tim yang antara lain beranggotakan Heidi G. Parker, Suriani Surbakti, dan ilmuwan-ilmuwan lain dari beberapa negara.

"Anjing ini adalah anjing sampel yang diteliti oleh tim peneliti dari Florida, dengan ketuanya James McIntyre yang sudah beberapa kali datang ke Papua, tapi dia juga mengakui sulit untuk menemui anjing ini," kata Anang.

"Jadi ketika saya share ke grup Facebook-nya foundation ini, dia juga kaget. Dia bilang ini adalah anjing yang kita teliti selama ini. Dia kagetnya kawanan ini sudah punya anak," tuturnya.

McIntyre pun lantas meminta ijin memakai foto-foto Anang untuk laporan mereka, yang terbit pada 1 September di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, atau PNAS.

'Terobosan baru'

Dalam laporannya di jurnal PNAS, McIntyre dan timnya mengatakan bahwa analisis DNA anjing bernyanyi Papua ternyata "sangat mirip" dengan anjing bernyanyi Nugini.

Dr Elaine Ostrander, ahli genetika dari National Human Genome Research Institute dan salah satu peneliti yang bekerja sama dengan McIntyre, mengatakan bahwa hasil studi tersebut adalah "terobosan baru" dalam studi mengenai anjing langka dan kuno tersebut.

"Ini adalah terobosan baru. Saat ini ada sekitar 300 anjing bernyanyi Nugini yang hidup di pusat-pusat konservasi di seluruh dunia. Mereka ini hasil dari perkembangbiakan dari delapan atau sembilan [anjing sampel], jadi [DNA] mereka benar-benar bawaan.

"Penemuan anjing bernyanyi di alam liar di Indonesia ini sangat luar biasa, mereka memiliki keberagaman genetika yang ajaib. Ini adalah peluang yang sangat menggembirakan bagi ilmu biologi konservasi," kata Ostrander dalam sebuah wawancara dengan BBC World Service.

Dibawa 'sekitar 3.500 tahun lalu'

Soal sejarah anjing bernyanyi Papua, Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua meyakini mereka dibawa dari Asia Timur atau China selatan "sekitar 3.500 tahun lalu".

"Berdasarkan penelitian di situs-situs arkeologi, anjing ini sendiri dibawa oleh penutur Austronesia, sekitar 3.500 tahun yang lalu, mereka dari Asia Timur atau dari China selatan. Mereka membawa tiga binatang yang didomestikasi, yaitu anjing, babi dan ayam," jelas Hari.

Ia meyakini, bahwa imigran yang datang ke Papua di jaman prasejarah tiba di wilayah pesisir sebelum naik ke dataran tinggi Papua.

"Dulu imigran datang dari laut, lalu dari dataran rendah ke atas. [Anjing] Ini kan satu kerabat dengan dingo di Australia. Di Australia sendiri dingo itu pertanggalan tulang belulang yang tertua sendiri adalah 3.500-an tahun, itu yang tertua. Itu hampir berdekatan dengan [kedatangan anjing] ini [ke Papua]," katanya.

Menurut Anang Setiawan Ahmadi, ahli zoologi di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada "kemungkinan bahwa anjing bernyanyi Papua dibawa dari luar".

"Ada kemungkinan dibawa dari luar, tapi kalau dari karakter, secara biologi molekuler sudah dibuktikan bahwa dia mendekati New Guinean Singing Dog yang ada di Papua Nugini," kata Anang.

"Anjing [sampel] itu ditemukan dalam kondisi liar, bukan didomestikasi. Ada kemungkinan itu asli. Kalau [DNA] itu didapat dari anjing yang sudah dipelihara masyarakat, ada kemungkinan [anjing-anjing] itu didatangkan, karena Papua berbatasan dengan Papua Nugini," jelas Anang Setiawan Ahmadi dari LIPI.

Anang Setiawan mengatakan bahwa penelitian anjing bernyanyi Papua masih minim di Indonesia karena banyaknya hambatan seperti biaya dan lokasi yang kurang aman.

"Hambatan terkait penelitian singing dog ini yang pertama adalah di Papua. Itu adalah salah satu lokasi yang menantang dan challenging, dan dengan kendala teknis di lapangan yang terkait finansial, butuh biaya besar di sana. Kedua terkait dengan keamanan di sana juga," ujarnya.

"Padahal sebenarnya kalau dari sisi habitatnya, vegetasinya, hutannya, masih sangat bagus, terutama dari sisi satwa liar. Cuma kendala bagi kami ya kesempatan untuk meneliti di sana terbatas."

Hal senada disampaikan Hari, yang berharap bahwa penelitian tentang anjing tersebut ke depannya dapat melibatkan peneliti dari berbagai lintas ilmu.

"Saya kira kalau penelitian [soal anjing bernyanyi Papua] ke depan, tidak dari satu bidang ilmu, tapi dari berbagai macam ilmu. Itu saling melengkapi baik dari sisi budayanya, genetiknya. Kalau arkeologi kan identik dengan penggalian, jadi ke depan kami sangat berharap sekali bisa menggali gua di sana di daerah Puncak Jaya atau di daerah [Puncak] Carstenz dan menemukan hunian prasejarah," imbuh Hari.

Untuk apa anjing-anjing ini bernyanyi?

Misteri yang belum diketahui oleh para ahli adalah untuk apa sebenarnya lolongan yang berirama yang dikeluarkan anjing-anjing ini? Apakah ini mekanisme pemberitahuan kepada anggota kawanan bahwa ada bahaya misalnya?

"Kami belum tahu jawabannya," kata Ostrander dalam wawancara dengan BBC.

"Tapi sepertinya bukan sebagai cara untuk memberi tahu bahwa ada bahaya yang mengancam. Kami telah melakukan observasi, anjing-anjing ini mengeluarkan lolongan yang berirama ketika tidak ada bahaya," jelas Ostrander.

"Yang pasti, suaranya sangat berbeda dengan suara anjing rumahan yang biasa kita dengar," katanya.

(ita/ita)