Stok Uranium yang Diperkaya Iran 10 Kali Lebih Banyak dari yang Diizinkan

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 07 Sep 2020 09:01 WIB
Persediaan uranium yang diperkaya (enriched uranium) Iran jauh di atas batas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015. (EPA)
Jakarta -

Jumlah uranium yang diperkaya (enriched uranium) milik Iran 10 kali lebih banyak dari yang diizinkan perjanjian internasional, kata badan pengawas nuklir PBB.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan persediaan uranium yang diperkaya Iran telah mencapai 2.105kg.

Iran berulang kali mengklaim program nuklirnya dijalankan untuk tujuan damai.

Jumlah uranium itu terungkap setelah Iran mengizinkan inspektur IAEA memeriksa salah satu dari dua bekas situs nuklir yang dicurigai.

Badan tersebut mengatakan akan mengambil sampel di situs kedua pada akhir bulan ini.

Tahun lalu, Iran secara terbuka mengingkari komitmen yang dibuatnya di bawah perjanjian nuklir internasional, yang ditandatangani pada 2015 oleh Iran, China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris, dan AS.

Iran memproduksi uranium yang diperkaya melebihi tingkat yang diizinkan- meskipun masih pada tingkat pengayaan, dan kadarnya masih jauh di bawah yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir.

Langkah itu diambil Iran sebagai bentuk pembalasan terhadap sanksi AS yang kembali diterapkan Presiden Donald Trump ketika dia membatalkan kesepakatan.

Untuk membuat senjata nuklir, Iran perlu memproduksi 1.050kg dari 3,67% uranium yang diperkaya, kemudian perlu memperkaya lebih lanjut hingga 90% atau lebih, menurut kelompok advokasi yang berbasis di AS, Arms Control Association.

Pekerja di fasilitas konversi uranium di Isfahan, 30 March 2005

Cadangan uranium tingkat rendah Iran dibatasi hingga 300kg dalam kesepakatan yang berlangsung untuk 15 tahun. (Getty Images)

Perjanjian nuklir internasional sebelumnya menetapkan batas 300 kg uranium yang diperkaya dalam bentuk senyawa tertentu (UF6), yang setara dengan 202,8 kg uranium.

Uranium yang diperkaya kadar rendah (low-enriched uranium) - memiliki konsentrasi antara 3% dan 5% U-235 - dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Uranium untuk senjata harus diperkaya 90% atau lebih.

Para ahli mengatakan proses pengayaan bisa memakan waktu lama, jika Teheran memilih untuk melakukannya.

Pekan lalu, Iran mengatakan setuju "dengan iktikad baik" untuk mengizinkan badan pemeriksa nuklir memeriksa situs untuk menyelesaikan masalah terkait dengan pengamanan nuklir.

IAEA sebelumnya mengkritik Iran karena tidak menjawab pertanyaan badan itu tentang kemungkinan adanya bahan nuklir yang tidak diumumkan dan kegiatan terkait nuklir di dua lokasi tersebut, dan menolak memberi akses bagi IAEA untuk memeriksanya.

Dalam pernyataan terbaru, pengawas global itu mengatakan Iran telah "memberikan akses kepada pengawas badan ke lokasi untuk mengambil sampel lingkungan".

Sampel akan dianalisis oleh laboratorium yang merupakan bagian dari jaringan badan tersebut, tambahnya.

(ita/ita)