Penuturan Gadis Afghanistan Saksikan Ibunya 2 Kali Hendak Dibunuh Taliban

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 08:38 WIB
Shuhra mendampingi ibunya ketika dirawat di rumah sakit. (Shuhra Koofi)
Kabul -

"Ibu, saya mohon jangan tutup mata. Saya hanya punya ibu. Saya tidak punya lagi orang yang mendukung hidup saya. Apa yang bisa saya lakukan tanpa ibu?"

Shuhra Koofi putus asa. Ibunya, seorang politikus yang tengah melakoni periode keduanya di parlemen Afghanistan, baru saja ditembak ketika mereka berkendara dengan mobil ke Kabul.

"Saya ketakutan karena saya pikir saya baru saja kehilangan ibu saya. Tapi saya berusaha tetap tenang karena dia memerlukan bantuan saya," tutur Shuhra.

Dua kali serangan

Fawzia Koofi adalah kritikus yang vokal terhadap kelompok fundamental Afghanistan dan menantang Taliban di meja negosiasi perundingan damai.

Namun, dia harus membayar mahal atas aksi politiknya - pada 2010 konvoi kendaraan yang dia tumpangi disergap oleh Taliban. Kemudian pada Agustus lalu, dia ditembak oleh orang tak dikenal di jalan.

Shuhra Koofi

Shuhra menuturkan ibunya telah menginspirasi banyak perempuan untuk mengejar mimpi mereka. (Shuhra Koofi)

Putri bungsunya, Shuhra, berada di sampingnya ketika dua peristiwa itu terjadi.

Shuhra yang kini berusia 20 tahun, bercerita kepada BBC bagaimana rasanya menjadi saksi dua percobaan pembunuhan ibunya - dan alasan kenapa meski sadar akan bahaya yang dihadapi, dia merasa ibunya harus melanjutkan perjuangan demi visinya akan Afghanistan.

'Kami harus melarikan diri atau mereka akan menembak lagi'

Pada 14 Agustus lalu, Fawzia dan putrinya Shuhra sedang berkendara kembali ke Kabul setelah berkunjung ke Provinsi Parwan di utara ibu kota Afghanistan.

Sebuah kuil Hindu di sisi kanan jalan menarik perhatian mereka.

"Ibu mengatakan bahwa kuil itu sangat indah. Kuil itu dihiasi oleh lampu berwarna hijau dan merah," kenang Shuhra.

Mereka kemudian menyadari ada sesuatu yang mencurigakan.

"Kami menyadari ada dua mobil menguntit kami. Kami tidak tahu dari mana mereka berasal."

Shuhra dan ibunya merasa bahwa mereka akan disergap.

"Tepat sebelum penyerangan, sebuah mobil hitam menyusul kami, dan pengemudi kami membunyikan klakson. Kemudian kami mendengar tembakan dari belakang - dari sisi ibu saya. Dia duduk di sisi kanan mobil."

Fawzia Koofi dan putri-putri

Fawzia Koofi mengasuh putri-putrinya sendirian setelah suaminya meninggal karena tuberculosis. (Shuhra Koofi)

Ada dua tembakan, kenang Shuhra. Tembakan pertama tidak mengenai mobil mereka.

Shuhra berada di samping Fawzia di bangku belakang. Dia mencoba melindungi kepala ibunya dan menyuruhnya untuk berlindung di bawah kursi mobil.

Pengemudi menginjak pedal gas agar tidak terjepit di antara dua kendaraan. Dia tidak pernah melihat para penyerangnya.

"Kami harus melarikan diri atau mereka akan menembak lagi."

Serangan pertama

Ini bukan kali pertama Shuhra menyaksikan ibunya menjadi sasaran serangan.

Pada 2010, Fawzia sudah menjadi anggota parlemen dan dekat dengan presiden Afghanistan kala itu, Hamid Karzai.

Dia sedang melakukan perjalanan melalui pedesaan di Provinsi Nangarhar ketika konvoinya disergap.

"Saya baru berusia 10 tahun saat itu. Saya duduk di dalam mobil antara ibu dan saudara perempuan saya," kata Shuhra.

"Saya hanya ingat suara tembakan itu. [Tembakan] itu tanpa henti."

Fawzia selamat tanpa cedera. Pengawalan polisi mengantarkan konvoi ke tempat yang aman, dari sana mereka diterbangkan ke Kabul.

Hamid Karzai dan Fawzia Koofi

Banyak orang, termasuk mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, mengunjungi Fawzia di rumah sakit. (Shuhra Koofi)

"Saat itu, semua orang kaget tapi kami senang ibu baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Tapi kali ini berbeda."

Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada 2010.

"Lebih mudah untuk menerimanya karena kami tahu siapa yang melakukannya. Pada serangan kedua, penyerangnya tidak diketahui dan tidak ada yang bertanggung jawab, jadi ini lebih sulit dan menakutkan bagi keluarga kami."

Sejarah kekerasan

Seperti Fawzia, kedua putrinya tumbuh dengan menyaksikan kekerasan yang mematikan di sekitar mereka. Sering kali, seorang anggota keluarga mereka menjadi korban.

Nenek Shuhra dari pihak ibu juga merupakan anggota parlemen dan dibunuh oleh kelompok mujahidin.

Ayahnya mengidap tuberculosis setelah ditahan oleh Taliban dan meninggal ketika Shuhra masih sangat kecil.

Fawzia Koofi being greeted by others

Fawzia Koofi kini sudah tak lagi dirawat di rumah sakit dan menjalani pemulihan di rumahnya. (Shuhra Koofi)

Fawzia membesarkan kedua putrinya sendirian sambil mengejar karier politiknya.

"Saya selalu takut kehilangan anggota keluarga dan saya tidak menjalani kehidupan yang normal. Namun itu tidak menghentikan saya untuk bermimpi dan membangun karier."

'Saya rasa saya terluka'

Shuhra mengenang kembali ketakutan masa kecilnya saat mobil mereka melaju menjauh dari para pembunuh di jalan dari Parwan menuju Kabul.

"Beberapa detik setelah penembakan itu ibu saya menatap saya dan berkat, 'Saya rasa saya terluka'. Saya tidak akan melupakan tatapan itu," ujar Shuhra.

Setelah itu, ibunya tak berkata sepatah kata pun. Shuhra mulai menyadari apa yang baru saja terjadi.

Sebuah peluru menembus rangka logam mobil dari belakang, merobek bantalan kursi dan mengenai lengan Fawzia, di bawah bahu kanannya.

Fawzia Koofi with her daughters

Shuhra (paling kiri) dan kakak perempuannya Shahrzad (paling kanan), bersama ibunya ketika Taliban mencoba membunuhnya pada 2010. (Shuhra Koofi)

"Saya pikir saya akan kehilangan dia. Saya terus berkata 'tolong jangan tutup mata ibu, bicara pada saya' dan saya berusaha membuatnya tetap terjaga."

Shuhra khawatir bahwa serangan itu belum berakhir. Dia mulai menangis dengan panik.

"Saya menurunkan kepala saya dan ibu saya. Saya bilang kepadanya, 'jangan tengok ke atas, mereka mungkin menembak lagi'."

Berlumuran darah

Dia berimprovisasi dengan apa yang dia miliki dan melepas syalnya untuk digunakan sebagai perban untuk menghentikan darah ibunya.

Ibunya baru saja pulih dari COVID-19 pada saat itu dan juga menderita kekurangan zat besi.

"Saat itu gelap dan saya tidak bisa melihat lukanya. Tapi saat saya mengikat syal saya, tangan saya berlumuran darah."

Fawzia tampak tidak kesakitan pada awalnya - dia hanya tidak bisa menggerakkan tangannya.

Tak lama, dia mulai merasa kesakitan.

Shuhra mulai mempertimbangkan skenario terburuk dan memikirkan tentang kakak perempuannya.

"Kami tidak memiliki orang lain dalam hidup kami selain ibu. Dialah satu-satunya pendukung kami," akunya.

Mengemudi dengan kecepatan tinggi, mereka sampai ke rumah sakit hanya dalam 40 menit.

Diperlukan dua kali CT scan hingga akhirnya dokter bisa menemukan posisi peluru dan mengeluarkannya dari lengan atas Fawzia. Dia kemudian dirawat selama sepekan di rumah sakit - namun pemulihannya diperkirakan akan makan waktu lama.

Shuhra Koofi

Shuhra mengatakan terlepas dari apa yang telah terjadi dia akan terjun ke dunia politik, seperti ibunya. (Shuhra Koofi)

Kritikus Taliban

Fawzia Koofi sering menyuarakan aspirasi perempuan Afghanistan yang sebagian besar suaranya diabaikan.

Ketika dia duduk bersama Taliban dalam meja negosiasi tahun lalu, dia mendesak mereka untuk mendatangkan juru runding perempuan dalam perundingan damai itu. Namun, wakil Taliban justru menertawakan desakan itu.

Fawzia aktif dalam perundingan damai yang masih berlangsung. Dia mencurigai mereka yang menentang perundingan itu adalah pihak di balik serangan terhadapnya baru-baru ini.

Taliban membantah keterlibatan mereka.

Namun, ada kelompok bersenjata lain yang aktif di daerah di mana serangan terjadi.

Shuhra berkata dia dan ibunya merasa trauma karena serangan yang terjadi - dan kecewa.

"Dia kecewa karena dia pikir dia telah membantu rakyatnya dan bertanya-tanya mengapa seseorang ingin membunuhnya."

'Kami memilih cara ini'

Sebagian besar waktu Shuhra kini digunakan untuk merawat ibunya, sebab kakaknya kini tengah menempuh studi di Amerika Serikat.

"Saya sangat dekat dengan ibu saya. Dia adalah teman baik saya," ujarnya.

Afghanistan sering dianggap sebagai tempat yang tidak bersahabat bagi perempuan dan Shuhra mengatakan politikus perempuan menghadapi terlalu banyak rintangan.

"Saya selalu ingin terlibat dalam politik. Saya mengikuti jejak ibu saya, dia adalah panutan saya," kata gadis yang belajar ilmu politik di American University of Afghanistan di Kabul ini.

Fawzia Koofi di rumah sakit

Sebuah peluru menembus lengan kanan Fawzia Koofi. (Shuhra Koofi)

"Saya ingin negara ini bebas dari penyerang, bebas dari terorisme, bebas dari ketidakadilan."

Politik Afghanistan didominasi oleh laki-laki. Shuhra tahu kesulitan yang akan dihadapi seorang perempuan, terutama setelah melihat komentar tidak menyenangkan tentang ibunya di media dan di media sosial.

"Saya dulu merasa terganggu oleh reaksi semua orang, tetapi kemudian saya melihat bahwa ada lebih banyak orang yang mendukung pekerjaan yang dia lakukan."

Ibunya, Fawzia Koofi, dan bibinya Mariam termasuk di antara mereka yang dilarang ikut serta dalam pemilihan parlemen 2018 karena "dicurigai memiliki hubungan dengan milisi ilegal".

Keduanya membantah tuduhan tersebut.

Baik Shuhra maupun saudara perempuannya tahu bahwa serangan itu - politik maupun fisik - mungkin tidak akan pernah berakhir, namun mereka tidak ingin ibu mereka menyerah.

"Ibu saya telah memberi dampak positif pada kehidupan setiap gadis muda. Dia telah melakukan hal-hal yang tidak biasa bagi perempuan di Afghanistan. Setelah dia memasuki daerah yang didominasi oleh pria, banyak perempuan sekarang berani mengikuti jejaknya."

"Kami ingin dia melanjutkan [perjuangan], karena penyerang harus tahu bahwa mereka tidak bisa membungkam suaranya dengan tindakan seperti itu," kata Shuhra.

"Kami telah memilih cara ini dan kami akan melanjutkannya."

Lihat video 'Serangan Taliban di Tengah Perjanjian Damai Afghanistan':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)