Mengapa Kasus Alexei Navalny Diracun Novichok Jadi Ujian bagi Barat?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 08:16 WIB
Alexei Navalny diterbangkan ke Berlin untuk perawatan pada Agustus setelah jatuh sakit (Reuters)
Berlin -

Pengumuman pemerintah Jerman bahwa politisi oposisi Rusia Alexei Navalny telah diracuni oleh agen saraf canggih, yang dikenal sebagai Novichok, membuat kasus ini menjadi lebih serius ketimbang sebelumnya.

Lebih penting lagi, kasus ini akan meningkatkan kecurigaan bahwa, meskipun ada penyangkalan, negara Rusia berada di balik peristiwa keracunan yang dialami sang oposan.

Novichok - yang berarti "pendatang baru" dalam bahasa Rusia - berlaku untuk sekelompok agen saraf yang diproduksi secara sintetis yang awalnya dikembangkan oleh Uni Soviet di laboratorium di Uzbekistan sebelum Uni Soviet hancur pada 1991.

Badan-badan intelijen Barat meyakini bahwa Novichok sejak itu telah disempurnakan menjadi senjata pembunuh yang sukar dideteksi melalui teknik rahasia yang dipraktikkan oleh agen GRU, intelijen militer Rusia, termasuk dengan dioleskan ke gagang pintu.

Novichok dapat digunakan dalam bentuk cair maupun padat.

Dua orang agen diyakini secara luas telah meracuni pembelot Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Salisbury pada 2018 menggunakan Novichok.

Seorang penduduk Wiltshire setempat, Dawn Sturgess, kemudian meninggal setelah menangani isi botol parfum bekas yang digunakan untuk menyamarkan zat saraf tersebut.

Negara-negara Barat bereaksi keras terhadap upaya pembunuhan yang gagal di wilayah Inggris.

Dalam langkah terkoordinasi, 20 negara mengusir lebih dari seratus diplomat dan mata-mata Rusia. Langkah tersebut memberikan pukulan besar bagi jaringan pengumpulan intelijen Moskow di Barat.

Bahkan, agen-agen rahasia yang bersembunyi di Inggris, yang diyakini Moskow beroperasi tanpa terdeteksi oleh MI5, yakni dinas keamanan setempat, diperintahkan untuk hengkang.

Ini semua sangat kontras dengan tanggapan ringan pemerintah Inggris - yang kini dikritik - terhadap keracunan mantan perwira KGB dan pembelot Alexander Litvinenko pada tahun 2006.

Setelah kematian mantan kolonel Rusia yang dicap sebagai pengkhianat oleh Kremlin itu, yakni akibat keracunan radioaktif Polonium, upaya penyelidikan berlangsung selama bertahun-tahun, sementara dua tersangka tetap berkeliaran bebas di Rusia.

Para kritikus meyakini kurangnya tanggapan yang kuat dari Barat, kemudian mendorong kelompok garis keras di Kremlin untuk memberikan sanksi kepada mereka yang dianggap sebagai pengkhianat Rusia di luar negeri.

Dan saat ini, Alexei Navalny tidak kekurangan musuh. Sebagai juru kampanye yang gigih melawan korupsi, dia telah mengumpulkan jutaan pengikut muda.

Tetapi sepak terjangnya juga membuat marah orang-orang yang segala aktivitas jahatnya terungkap dalam videonya yang populer.

Ada banyak orang, baik di pemerintahan maupun di kalangan bisnis, yang menginginkan agar dia dikeluarkan dari ruang publik.

Tapi Novichok, tidak seperti racun alami yang dapat diproses dari produk alami yang ditemukan di pedesaan, bukanlah sesuatu yang dapat disiapkan begitu saja oleh seorang amatir.

Ini adalah senjata kimia tingkat militer yang cenderung mengarahkan kecurigaan terhadap negara Rusia.

Meskipun Navalny tampaknya diracuni di wilayah Rusia, dan bukan di negara anggota NATO, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan "sekarang ada pertanyaan yang sangat serius yang hanya bisa dan harus dijawab oleh pemerintah Rusia".

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, berkomentar senada dan mengatakan bahwa pemerintah Rusia memiliki kasus yang jelas untuk dijawab tentang apa yang terjadi pada Navalny.

Dia mengatakan, Inggris saat ini akan bekerja sama dengan Jerman dan sekutu lainnya untuk menunjukkan ada konsekuensi penggunaan senjata kimia yang dilarang.

Di Washington, Amerika Serikat, Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan akan bekerja sama dengan sekutunya untuk meminta pertanggungjawaban Rusia.

Mantan perwira Angkatan Darat Inggris dan ahli senjata kimia, Hamish de Bretton-Gordon, sudah bertahun-tahun memperingatkan perihal penggunaan senjata kimia yang tidak terkendali terhadap pemberontak dan warga sipil oleh rezim Bashar al-Assad di Suriah.

Bagaimana pemerintah sekarang bereaksi terhadap penggunaan terakhir agen saraf Novichok terhadap tokoh politik akan dipengaruhi sebagian oleh temuan pengawas kimia global, Organisasi untuk Pencegahan Senjata Kimia, OPCW.

Ketua Komite Pertahanan Parlemen Inggris, Anggota Parlemen Tobias Ellwood, dalam sebuah cuitan Twitter mengatakan: "Rusia/Novichok - sekali lagi. Ujian bagi Barat tentang bagaimana kami menanggapi secara kolektif."

(nvc/nvc)