Desain Terbaru Paspor Taiwan Menciutkan Kalimat 'Republik China'

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 03 Sep 2020 18:26 WIB
Paspor baru (kanan) dengan tulisan 'Taiwan' lebih besar dan tulisan 'Republic of China' lebih kecil, dibandingkan dengan paspor lama (kiri) (EPA)
Taipei -

Para pejabat Taiwan mengumumkan perubahan desain paspor sehingga membuat kata 'Taiwan' lebih besar sekaligus menciutkan kalimat 'Republik China'.

Pihak berwenang mengatakan, desain baru ini bertujuan untuk menghentikan kebingungan dalam membedakan antara, warga Taiwan dan warga China.

Banyak kalangan di Taiwan memandang wilayah itu sebagai negara yang berdiri sendiri, akan tetapi China melihat pulau tersebut sebagai provinsinya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, perubahan desain paspor tak akan mengubah Taiwan menjadi sebuah "bagian yang tidak dapat dipisahkan dari China"

Para pejabat Taiwan merilis paspor baru itu dalam sebuah seremoni, Rabu (02/09).

Tulisan "Republic of China - nama resmi untuk Taiwan - akan dipindahkan dari atas sampul depan ke sekeliling lambang nasional, dengan huruf yang lebih kecil. Adapun tulisan 'Taiwan' akan diperbesar dan ditebalkan.

Sejak dimulainya pandemi virus Corona "rakyat kami terus berharap, bahwa kami bisa lebih menonjolkan penampakan 'Taiwan', agar orang-orang tidak berpikir bahwa pemegang paspor ini berasal dari China," kata Menlu Taiwan, Joseph Wu, kepada media.

Menteri luar negeri Taiwan Joseph Wu meluncurkan paspor baru pada hari Rabu

Menteri luar negeri Taiwan Joseph Wu meluncurkan paspor baru pada hari Rabu. (Reuters)

Ketika negara-negara memberlakukan larangan perjalanan luar negeri sebagai langkah pengendalian wabah, negara-negara itu juga melakukan pembatasan kunjungan orang dari Taiwan yang disamakan dengan China, kata otoritas setempat.

Penyebaran COVID-19 telah membawa perdebatan mengenai Taiwan kembali menonjol.

Meskipun telah mendapatkan pujian secara internasional dalam menangani krisis kesehatan, Taiwan bukan bagian dari anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). China tidak mengizinkan Taiwan untuk ikut dalam rapat-rapat bersama WHO sejak 2016.

Taiwan memiliki pemerintahan sendiri sejak 1949, dimulai saat jutaan pendukung Partai Kuomintang (KMT) yang dipimpin Chiang Kai-shek melarikan diri ke sebuah pulau (saat ini Taiwan) setelah kalah perang sipil melawan Partai Komunis Mao Zedong.

Sejak saat itu, Taiwan memiliki sistem demokrasi dalam pemilihan pemerintahan, serta punya militer dan mata uang sendiri.

Tapi di bawah kebijakan Satu China, pemerintah di Beijing berkeras sebagai penguasa Taiwan. Kebijakan ini menyebutkan suatu hari nanti, wilayah ini akan berada di bawah kepemimpinannya lagi - dengan kekerasan jika diperlukan.

Beberapa negara secara diplomatis mengakui Taiwan sebagai sebuah negara yang berdaulat. Tapi China akan murka ketika negara-negara, para tokoh atau pengusaha menyarankan hal serupa.

Milos Vystrcil, ketua Senat di Republik Ceko, mengunjungi Taiwan pada hari Selasa. Dia memberikan sebuah pidato di parlemen yang mengumumkan dukungannya, dan mendeklarasikan "Saya orang Taiwan" - yang terinspirasi dari pidato terkenal Presiden AS John F Kennedy "Ich bin ein Berliner" pada 1963.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengecam langkah tersebut, dan mengatakan Vystrcil telah "melewati garis merah" dan mengatakan dia akan "membayar mahal".

Hal ini terjadi hanya beberapa minggu setelah anggota kabinet AS, Alex Azar berkunjung ke Taiwan dan bertemu Presiden Tsai Ing-wen.

Menteri layanan kesehatan dan kemanusiaan ini adalah politikus AS dengan jabatan paling tinggi untuk melakukan pertemuan dengan orang nomor 1 di Taiwan itu selama beberapa dekade terakhir.

"China dengan tegas menentang segala bentuk hubungan resmi antara Amerika Serikat dan Taiwan," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China ketika Alex Azar berkunjung ke Taiwan.

"Kami mendesak Amerika Serikat ... untuk tidak mengirimkan sinyal yang salah kepada unsur-unsur 'kemerdekaan Taiwan' untuk menghindari kerusakan yang lebih parah terkait hubungan China-AS."

(nvc/nvc)