Kisah Wanita AS Perjuangkan Hak Penyandang Disabilitas Lewat Demo Bersejarah

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 02 Sep 2020 17:12 WIB
Judy Heumann
Washington DC -

Saat berusia 18 bulan, Judy Heumann terserang penyakit polio yang melumpuhkan dua kakinya secara permanen. Akibatnya, dia bersandar pada kursi roda hampir sepanjang hidupnya.

Namun, keterbatasan itu tidak membuat Judy menyerah melawan stigma sosial dan rintangan aturan hukum. Ia menjelma menjadi aktivis kemanusiaan yang memimpin demonstrasi bersejarah di Amerika Serikat saat memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Judy menggugat Dewan Pendidikan New York agar dia bisa mengejar karier sebagai pengajar. Lalu, dia menuntut perusahaan penerbangan yang melarangnya naik pesawat tanpa pendamping.

Puncak perjuangannya adalah revolusi hukum tentang perlakuan terhadap penyandang disabilitas. Judi menginisiasi gerakan ini lewat aksi menduduki gedung federal. Okupasi gedung pemerintah itu tercatat sebagai yang terlama dalam sejarah AS.

Judy belakangan menjadi penasehat, bukan hanya satu, tapi dua presiden AS.

Tahun 2020, foto Judy muncul di sampul Time, ketika majalah itu mendedikasikan 100 halaman muka untuk perempuan yang dianggap berjasa untuk dunia.

Judy sejajar dengan perempuan lain yang menjadi sampul majalah Time seperti Michelle Obama dan Greta Thunberg.

Kemampuan Judy untuk mengubah kelemahan dan amarah menjadi perubahan nyata di masyarakat membuatnya dijuluki 'Chingona'.

Terminologi dalam bahasa gaul Spanyol-Meksiko itu yang awalnya digunakan suami Judy untuk memanggilnya.

"Pada dasarnya, arti panggilan itu adalah 'kamu punya nyali, kamu kuat'," kata Judy menirukan suaminya sembari menertawakan reputasinya tersebut.

Pertarungan pertama

"Hidup saya tidak mudah," kata Judy dalam program radio BBC Outlook baru-baru ini.

Judy dengan ibunya

Orang tuanya tidak memperlakukan Judy berbeda, tetapi mereka tidak dapat melindunginya dari stigma di luar rumah. (Judy Heumann)

Orangtuanya keturunan Yahudi Jerman yang melarikan diri ke Amerika akibat perang.

Sebagai seorang anak korban perang yang tumbuh di New York, Judy merasakan diskriminasi pertama kali saat tidak diterima di sekolah harian Yahudi. Ketika itu dia berusia lima tahun.

"Kepala sekolah mengatakan saya tidak cukup tahu bahasa Ibrani," ujarnya.

Ibunya pun segera menyewa seorang guru les untuk meningkatkan kemampuan bahasanya. Padahal, sekolah sebenarnya tidak berniat mengizinkannya masuk.

Kemudian, Judy menjalani empat tahun sekolah rumah (home schooling) sebelum masuk ke sekolah umum. Dia bahkan harus mengikuti kelas khusus untuk anak-anak disabilitas.

"Di sekolah umum, kami tidak makan siang dengan anak-anak yang bukan penyandang disabilitas, kecuali sekali seminggu saat ada pertemuan. Kami benar-benar terpisah."

Judy Heumann saat remaja

Selama masa kuliah, Judy menyadari bagaimana ia dilihat oleh orang yang bukan penyandang disabilitas (Judy Heumann)

Diperlakukan berbeda

Bahkan sekarang di usianya yang menginjak tujuh puluhan, ada beberapa insiden masa lalu yang terus tersimpan dan tidak bisa dia lupakan.

"Dulu, saya dan teman pergi dari rumah ke toko, lalu seorang anak datang dan bertanya apakah saya sakit? Itulah pertama kalinya saya menyadari bahwa orang-orang melihat saya berbeda."

Judy sangat kesal mendengar itu.

"Saya tidak sakit. Saya mengingat kejadian itu dengan sangat jelas, itu berdampak besar pada saya secara pribadi."

Judy melawan stigma itu dengan menjadi yang terbaik di sekolah dan mengejar mimpinya menjadi guru.

Tetapi saat itu, penyandang disabilitas hanya dapat bekerja dalam profesi tertentu. Jadi, Judy belajar terapi wicara dan kemudian secara bertahap menyelesaikan lisensinya untuk mengajar.

Bukan hanya itu, di masa kuliah, Judy mengalami pengalaman menyakitkan.

"Saat itu hari Jumat malam dan seseorang mengetuk pintu."

Ada tiga pria dan dua perempuan muda. Salah satu pria mengatakan kepada Judy bahwa pasangannya tidak bisa bergabung dalam "kencan tiga pasang" dan bertanya apakah Judy mengetahui seseorang yang bisa menggantikannya.

Judy menyadari ucapan pria itu hanya olok-olok, "Saya tidak menangis. Saya tidak berteriak. Saya hanya mengatakan tidak," kenangnya.

"Jelas, [saya] tidak dilihat sebagai seseorang yang menarik secara seksual, atau menarik bagi pria ... Hal ini benar-benar menyakitkan untuk dipikirkan bahkan sebagai orang dewasa," kata Judy.

Pemeriksaan kesehatan

Setelah lulus kuliah, Judy menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendapatkan izin mengajar pada tahun 1970.

Judy saat masih balita

Judy mengatakan perilaku beberapa orang membuatnya merasa berbeda ketika dia masih muda (Judy Heumann)

Lagi-lagi, ia dipandang berbeda. "Dokter benar-benar memiliki masalah seputar disabilitas. Masa dia bertanya, bisakah Anda menunjukkan kepada saya bagaimana pergi ke kamar mandi?"

Permintaan lisensi mengajarnya pun awalnya ditolak. Tapi, dengan dukungan dari teman-teman penyandang disabilitas, Judy memutuskan untuk melawan keputusan tersebut.

The New York Times menerbitkan ceritanya dan sejak saat itu Judy mulai mendapat dukungan publik.

"Saya mendapat telepon dari pengacara hak sipil yang mau mewakili saya. Lalu besoknya pelanggan toko ayah akan mewakili saya juga. Jadi saya memiliki tim pengacara yang memberikan layanan secara gratis. "

Untuk pertama kalinya, ia merasakan dukungan dari masyarakat, yang akhirnya berujung pada kemenangan.

Pada usia 22 tahun, Judy Heumann menjadi pengguna kursi roda pertama yang mengajar di sekolah-sekolah New York.

Dilarang naik pesawat

Setelah itu, Judy menghadapi lebih banyak pertempuran dan kemenangan.

Pada tahun 1975, Judy naik pesawat di Washington DC dan diberi tahu bahwa dia tidak diizinkan terbang tanpa ditemani pendamping.

Judy dan Suaminya Jorge pada tahun 2018

Suami Judy, Jorge, selalu mengagumi keberaniannya. (Judy Heumann)

"Seorang pramugari datang dan memberi tahu saya bahwa pilot tidak mengizinkan saya ikut terbang tanpa asisten."

Judy mengatakan kepada pramugari bahwa dia tidak pernah menemukan peraturan seperti itu.

Perdebatan berlanjut dan polisi dipanggil. Dia secara paksa diturunkan dari pesawat, lalu ditahan.

Setelah Judy menunjukkan kepada mereka sebuah dokumen yang membuktikan bekerja untuk senator New Jersey, petugas polisi tidak mengajukan tuntutan.

"Tapi saya yang menuntut mereka. Saya tidak akan membiarkan ini terjadi karena saya benar-benar marah."

Demonstrasi yang mengubah sejarah

Pertarungan terbesar yang ia lakukan terjadi beberapa tahun setelah Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964 disahkan.

UU Hak Sipil itu secara resmi mengakhiri segregasi di ruang publik untuk orang keturunan Afrika-Amerika.

Beleid itu melarang diskriminasi kerja atas dasar ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal negara. Gerakan-gerakan lain bermunculan menuntut perubahan.

Judy di kursi roda

Banyak penyandang disabilitas bangga atas protes Judy dan teman-teman. (Judy Heumann)

Dengan latar belakang inilah, beberapa tahun kemudian, Judy membentuk sebuah organisasi bernama 'Disabled in Action'.

Judy mengkampanyekan penerapan Pasal 504 dari Undang-Undang Rehabilitasi 1973. Ketentuan itu melarang diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dalam 'program apa pun yang didanai pemerintah Federal'.

Pasal itu dianggap sebagai perlindungan hak sipil federal pertama bagi para penyandang disabilitas di AS.

Gerakan yang digagas Judy menuntut agar pasal tersebut ditandatangani menjadi undang-undang, setelah sempat ditunda selama empat tahun.

Pada 5 April 1977, Judy bersama ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan di San Francisco. Ini adalah awal dari demonstrasi yang akan tercatat dalam sejarah.

Sekitar 150 aktivis secara sukarela berkemah di dalam gedung. Untuk menghentikan aksi itu, kepolisian memutus saluran telepon dan memutus pasokan air.

"Kami mendapat makanan setiap hari. Jika ada yang sakit, kami punya petugas medis yang berasal dari organisasi relawan lain. Itu pengalaman yang fenomenal," kata Judy.

"Yang terpenting, penyandang disabilitas sangat bangga dengan apa yang kami lakukan."

Judy Heumann selama protes di akhir tahun 70-an

Setelah Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964, berbagai kelompok melakukan pawai untuk mengubah undang-undang diskriminatif lainnya. (Tari Hartman Squire)

Selama demonstrasi pendudukan gedung, Judy tidur di lantai. Seorang teman membantunya berdiri dan turun dari kursi roda. Mereka bergantung satu sama lain. Aksi okupasi gedung itu mempertemukan "penyandang tunarungu, tunanetra dan tuna daksa", kata Judy.

Akhirnya Kongres menggelar sidang khusus. Pada forum itu Judy memberikan pidato yang emosional.

"Saya tidak bisa menahan suara agar tidak gemetar. Di setiap kata terkenang masa lalu yang berat. Seperti berada di ruang tamu sendirian dan menatap ke luar jendela saat semua teman saya di sekolah sedang belajar dan bermain."

"Lalu saat di Brooklyn College, saya menangis saat ayah menggendong saya naik ke panggung. Mengetuk pintu asrama saya, mencari bantuan untuk pergi ke kamar mandi. Para pramugari berusaha mengusir saya dari pesawat dan semua penumpang menatap saya," ujarnya.

Segera kelompok itu mengirim delegasi ke Washington DC, seiring demonstrasi terus berlanjut.

Suatu hari, Judy dan seorang pengunjuk rasa lain sedang duduk di sebuah bar di Washington guna merencanakan aksi selanjutnya. Lalu datang reporter dan memberi tahu bahwa pemerintah telah menandatangani penerapan Pasal 504.

Saat itu, 28 April 1977, adalah hari ke-24 dari aksi pendudukan Judy dan kawan-kawannya terhadap gedung pemerintah federal AS.

Keesokan harinya para demonstran meninggalkan gedung. Aksi itu adalah peristiwa pendudukan gedung tanpa kekerasan terlama di gedung federal AS hingga saat ini.

Judy Heumann di kantornya -Departemen Layanan Disabilitas

Judy menjabat sebagai penasihat untuk dua presiden AS dalam beberapa tahun terakhir (Getty Images)

Aturan itu kemudian menjadi jalan bagi AS mengesahkan UU Disabilitas tahun 1990, yang melarang diskriminasi di semua bidang kehidupan publik.

Setelah itu, Judy diundang oleh pemerintahan Presiden Clinton untuk bekerja sebagai penasihat pendidikan dari 1993 hingga 2001. Pada 2010 ia menjadi Penasihat Khusus untuk Hak-Hak Disabilitas Internasional, ditunjuk oleh Presiden Barack Obama.

Pertarungan berikutnya: Disabilitas non-putih

Perjuangannya yang tak kenal lelah telah mengubah kehidupan ribuan orang di Amerika, dan sekarang Judy ingin membantu penyandang disabilitas non-kulit putih.

Judy dengan sesama aktivis Jon Wodatch

Judy (dalam foto, dengan sesama aktivis Jon Wodatch) mempromosikan bukunya 'Being Heumann: An Unrepentant Memoir of a Disability Rights Activist' (Judy Heumann)

"Penyandang disabilitas berkulit hitam dan coklat dan penduduk asli tidak mendapatkan manfaat yang sama seperti disabilitas kulit putih dari banyak undang-undang yang kami miliki," tuturnya.

Judy mengatakan, pandangan masyarakat tentang penyandang disabilitas terlalu lambat dan kaku untuk berubah.

"Banyak orang bahkan tidak melihat apa yang kami alami sebagai bentuk diskriminasi karena mereka hanya tahu sedikit tentang hambatan yang kami hadapi."

Judy kini secara aktif mendukung kampanye Joe Biden pada pemilihan presiden AS November mendatang. Dia ingin Biden meninjau ulang UU Disabilitas agar dapat diterapkan secara lebih inklusif.

Dia juga ingin agar presiden AS berikutnya memberikan ruang bagi penyandang disabilitas dalam arus utama perpolitikan Amerika.

"Presiden perlu berkomitmen pada perekrutan penyandang disabilitas secara aktif, sehingga kami dapat menunjukkan nilai kami kepada masyarakat," kata Judy.

Anda dapat mendengarkan wawancara lengkap Judy Heumann melalui tautan ini.

(nvc/nvc)