Lukisan Mahakarya 'Two Laughing Boys' Dicuri untuk Ketiga Kalinya

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 15:25 WIB
Jakarta -

Sistem keamanan telah ditingkatkan saat terakhir kali lukisan Frans Hals berjudul Two Laughing Boys with a Mug of Beer dicuri dari sebuah museum kecil di Kota Leerdam, Belanda.

Peningkatan sistem keamanan ternyata tidak mampu menghentikan pencuri untuk mendobrak pintu belakang dan membawa kabur lukisan bersejarah itu.

Pelukis ternama pada Zaman Keemasan Belanda, Frans Hals, melukis mahakarya itu pada tahun 1626.

Detektif seni Arthur Brand mengatakan, lukisan yang hilang untuk ketiga kalinya itu "dicuri sesuai pesanan".

"Sangat sulit menyediakan sistem keamanan terbaik untuk museum kecil karena biayanya terlalu mahal. Akibatnya, jika mereka [pencuri] ingin memiliki barang-barang Anda, mereka akan masuk," katanya kepada BBC.

Lukisan Two Laughing Boys pertama kali dicuri pada tahun 1988 bersama dengan karya Jacob van Ruisdael. Kedua lukisan itu ditemukan tiga tahun kemudian.

Puluhan tahun berlalu, lukisan yang sama kembali dicuri dari Museum Hofje van Mevrouw van Aerden pada tahun 2011 dan ditemukan enam bulan kemudian.

Seorang peneliti lukisan Frans Hals, Anna Tummers mengatakan, pada zamannya lukisan itu adalah "contoh yang menakjubkan dari gaya lukisannya yang lepas ...menyenangkan, berani, dan lepas".

Bagaimana bisa dicuri?

Polisi mengatakan, pencuri masuk ke museum di Leerdam, selatan Utrecht, pada Rabu dini hari (26/08). Alarm berbunyi pada pukul 03:30 pagi, tetapi pada saat aparat keamanan sampai di museum, para pencuri telah pergi.

Aparat keamanan kini tengah menyelidiki rekaman CCTV dan bekerja dengan ahli pencurian seni dan tim forensik untuk menangkap pelaku.

Sejak pencurian tahun 2011, benda-benda seni yang sangat berharga dari museum itu telah disimpan di area tertutup untuk umum dan hanya dapat dikunjungi oleh seorang staf, lapor media Belanda. Hingga kini, tak seorang pun di museum itu yang mau berkomentar tentang pencurian ini.

Tapi Arthur Brand, seorang detektif seni, spesialisasi dalam menemukan karya-karya yang dicuri, mengatakan pencurian semacam ini sudah diduga.

Para penjahat membeli karya seni curian sebagai alat tukar untuk pengurangan hukuman penjara mereka, katanya.

Contohnya seperti apa yang dilakukan pengedar narkoba Kees Houtman yang mencoba menukar lukisan Van Goghs dengan pengurangan hukuman pada awal 1990-an.

Lalu. seorang bos mafia Napoli menukar karya yang dicuri oleh pencuri seni Octave Durham dari Museum Van Gogh Amsterdam pada 2002 agar mendapatkan hukuman yang lebih pendek.

Pada bulan Maret, sebuah lukisan karya Van Gogh, Spring Garden, dicuri dari sebuah museum di Laren, di utara Utrecht, dan diperkirakan akan ada lebih banyak pencurian dari museum-museum di Belanda akibat dari lemahnya sistem keamanan.

Detektif seni itu juga mengaitkan pencurian terbaru itu dengan terobosan polisi Belanda dan Prancis yang membobol sistem komunikasi rahasia yang digunakan oleh para penjahat.

Terobosan itu memungkinkan para polisi untuk melakukan kemajuan dalam penyidikan sejumlah kasus kriminal.

Masalah bagi para penjahat, kata dia, adalah pemerintah Belanda tidak lagi membeli karya seni curian.

Bagaimana galeri menjadi sasaran di London

Museum kecil di Belanda tidak sendirian. Terdapat beberapa museum lain yang menjadi sasaran para pencuri seni.

November lalu, upaya pencurian dua lukisan Rembrandt berhasil digagalkan di Dulwich Picture Gallery di London bagian selatan.

Seorang penyusup masuk ke galeri, tetapi polisi dengan cepat menangkap pencuri itu sebelum ia membawa kabur lukisan itu.

Meskipun otoritas Belanda memiliki rekam jejak yang baik dalam mengambil karya seni curian, karya-karyanya sering kali hilang selama bertahun-tahun.

Butuh waktu 23 tahun bagi lukisan Gustav Klimt untuk ditemukan, setelah disita dari galeri seni modern di Piacenza, Italia utara.

Lukisan itu akhirnya ditemukan di sebuah lubang di dinding galeri oleh seorang pekerja yang tersandung panel logam saat membersihkan daun ivy di dinding.

(ita/ita)