Diisukan Sakit Keras, Kim Jong-Un Tampak Sehat Pimpin Rapat Bahas Corona

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 17:45 WIB
Penampilan Kim bertentangan dengan rumor baru-baru ini bahwa dia sakit parah (Reuters)
Jakarta -

Setelah diisukan menderita sakit keras bahkan koma, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un muncul ke depan publik. Dalam sebuah tampilan video, Kim terlihat sehat dan mampu memimpin jalannya rapat pemerintahan.

Dalam rapat itu, Kim memperingatkan anak buahnya untuk bersiap menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona dan bahaya topan yang mengancam negara itu.

Korea Utara hingga kini belum mengonfirmasi ada tidaknya kasus Covid-19 di negaranya dan diperkirakan sebuah wabah besar corona akan berdampak buruk pada negara miskin itu.

Sementara Topan Bavi diperkirakan akan menghantam Korea Utara akhir pekan ini.

Memimpin rapat pertemuan politbiro, badan eksekutif tertinggi dan sekretariat di Korea Utara, pada Selasa, Kim, yang sambil merokok, mengatakan ada "beberapa kekurangan" upaya negara dalam mencegah "virus ganas", demikian media pemerintah melaporkan, namun tanpa memberikan rincian.

Pyongyang sejak lama bersikeras mengatakan bahwa tidak ada infeksi di negara itu, meskipun hal ini diragukan oleh para pengamat.

Telah beberapa pekan berlalu hingga sekarang, media Korea Utara tidak memberikan perkembangan terkini terkait virus corona di sana.

Kim Jong-unPenampilan Kim bertentangan dengan rumor baru-baru ini bahwa dia disebut sakit parah. (Reuters)

Sebelumnya muncul sebuah kasus yang dicurigai virus corona di salah satu kota perbatasan dekat Korea Selatan.

Kota itu menjalani karantina, namun tidak ada pernyataan secara resmi dari pemerintah apakah ada virus corona atau tidak.

Penampilan Kim Jong-un muncul di tengah rumor tentang kesehatannya dan telah mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada saudara perempuannya Kim Yo-jong.

Spekulasi tentang kesehatan pemimpin Korea Utara itu bukanlah hal yang baru, walaupun sejauh ini selalu tidak benar.

Rumor Kim Jong Un koma disampaikan oleh mantan pejabat Korea Selatan di era pemerintahan Presiden Kim Dae-jung, Chang Song-min.

Analysis box by Laura Bicker, Seoul correspondentBBC

Ketika pemberitaan dunia terobsesi dengan kesehatan Kim Jong-un - yang jelas baik-baik saja -, ternyata ada kekhawatiran yang lebih besar mengancam. Negara dan 25 juta penduduknya jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Topan Bavi dapat menyebabkan kerusakan di negara yang baru saja pulih akibat musim muson terpanjang yang menghantam. Hujan deras di bulan Agustus menyebabkan banjir yang meluas.

Dan sekarang, pusat cuaca BBC memperkirakan gelombang badai hujan antara 200-300mm akan terjadi beberapa minggu sebelum panen padi musim gugur dan berpotensi akan mengancam keberlangsungan kehidupan mereka.

Sepuluh juta orang dikatakan menderita kerawanan pangan di Korea Utara, menurut PBB. Itu artinya mereka hidup dari panen ke panen. Mereka tidak mampu membeli lebih banyak bibit tanaman yang ujungnya akan rusak.

Korea Utara juga telah berubah sikap dari yang bersikeras tidak memiliki kasus Covid-19. Pemerintahan Kim mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas cara-cara mengurangi efek virus.

Kami masih belum tahu apakah wabah itu terkendali di negara yang penuh kerahasiaan itu, yang menutup perbatasannya dengan dunia pada Januari lalu.

Baru minggu lalu, Kim mengakui bahwa rencana ekonomi besarnya, yang akan membuahkan hasil pada tahun 2020, telah gagal dan dia harus memikirkan cara baru. Pengakuan yang jarang diungkapkan seorang pemimpin Korea Utara bahwa dia telah gagal.

Perdagangan dengan China, negara yang menjadi sekutu dan donatur terbesar Korea Utara, turun lebih dari 20% pada Juli lalu, menurut data bea cukai China.

Penutupan perbatasan untuk mencegah masuknya virus corona ke negara itu berdampak pada terputusnya rantai pasokan kebutuhan vital.

NK News juga melaporkan bahwa staf kedutaan asing dan sebagian besar organisasi masyarakat di negara itu telah pergi karena pembatasan sosial akibat virus yang parah.

Tahun 2020 telah menjadi tahun yang buruk bagi sebagian besar dunia. Tetapi bagi Korea Utara, hal itu berpotensi menghancurkan dan hanya ada sedikit organisasi yang tersedia di negara tersebut untuk memberikan perhatian dan bantuan.

(ita/ita)