Korsel di Ambang Wabah Nasional, Kasus Corona Berpusat di Gereja

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 25 Agu 2020 17:11 WIB
Wabah terbaru di Korea Selatan dikaitkan dengan sebuah gereja. (EPA)
Jakarta -

Korea Selatan, negara yang dipuji sebagai panutan dalam hal penanganan Covid-19, kini di ambang wabah nasional baru, menurut pejabat pemerintah.

Wabah terbaru dari kasus virus corona berpusat pada sebuah gereja Presbyterian sayap kanan dan telah menyebar ke seluruh 17 provinsi di negara itu untuk pertama kalinya.

Tiap hari, terdapat penambahan kasus baru dengan tiga digit angka.

Aturan jaga jarak telah diperketat. Masker kini menjadi kewajiban di ibu kota Seoul. Pemerintah juga mempertimbangkan untuk menutup kembali sekolah dan tempat bisnis.

Pakar penyakit menular di negara itu telah mendesak pemerintah untuk memperketat langkah penjarakan sosial lebih jauh lagi, memperingatkan bahwa "tempat tidur rumah sakit penuh dencan cepat dan sistem kesehatan mendekati batasnya,

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Korea Selatan mengakui bahwa sekitar 20% dari kasus baru ini tidak diketahui asal-usulnya - kendati sistem pelacakan kontak di negara itu dianggap efisien karena dapat melacak sekitar 1.000 pasien yang berpotensi terinfeksi dalam satu jam.

Perjuangan Korea Selatan melawan Covid-19 bermula pada Februari ketika wabah di sekte agama yang disebut Gereja Shincheonji di kota Daegu, sekitar 200 km di selatan Seoul. Dalam beberapa pekan, wabah itu tak terkendali.

Namun, semua hal berbeda kali ini.

Kecurigaan dan teori konspirasi

Mayoritas kasus baru terjadi di dekat ibu kota yang padat penduduk, yang menjadi tempat tinggal lebih dari 10 juta orang.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah banyak dari jemaat konservatif yang berpotensi terinfeksi meyakini bahwa virus itu adalah bagian dari konspirasi untuk menutup gereja itu.

Banyak dari mereka menolak untuk dikontak, bahkan dites.

Selain itu, terdapat ada faktor risiko besar. Anggota dari Gereja Shincheonji yang terinfeksi kebanyakan berusia muda - di sekitar usia 20 tahun. Namun wabah yang terjadi saat itu kebanyakan menulari kelompok lanjut usia.

Anggota Gereja Sarang Jeil, yang bermakna "Love Comes First", adalah kelompok konservatif sayap kanan dan menyatakan bahwa Presiden Moon Jae-in adalah seorang komunis dan boneka China dan Korea Utara.

Sebelum virus corona mewabah, ratusan dari mereka berkumpul di pusat kota Seoul setiap Sabtu beraksi dan berdemo di Gedung Biru untuk mengecam pemimpin Korea Selatan itu.

Salah satu pastor gereja itu, Lee Hae-suk, berkata pada kolega saya di kantor berita Reuters pekan lalu - setelah dia dinyatakan positif - ini adalah plot untuk "membunuh Gereja Sarang Jeil dengan menambah jumlah kasus terkonfirmasi".

Ketika ditanya siapa yang berada dibalik "plot" tersebut, dia menjawab: "Moon Jae-in".

Worshippers wearing face masks have their temperature takenKorea Selatan sejauh ini memiliki kisah keberhasilan menangani wabah virus corona. (Getty Images)

Pastor yang kontroversial, Jun Kwang-hoon, mengeluarkan pernyataan melalui YouTube mengklaim bahwa dia mendapat "bocoran dari lima sumber berbeda yang menyebut bahwa teror virus telah menyelinap ke dalam Gereja Sarang Jeil".

Anggota-anggota lain mengklaim bahwa virus itu disebarkan lewat cairan pencuci tangan. Dalam sebuah konferensi pers pekan lalu, seorang juru bicara gereja mengklaim bahwa simpatisan pro-Korea Selatan telah menginfiltrasi gereja dan menyebarkan virus itu.

Teori-teori konspirasi mempersulit para pelacak kontak di Korea Selatan. Secara keseluruhan, lebih dari 875 anggota dinyatakan positif, namun pejabat kesehatan meyakini ratusan lain kemungkinan sudah terinfeksi dan berpotensi menularkan virus itu ke yang lain.

Anggota gereja turut ambil bagian dalam aksi demonstrasi besar pada 15 Agustus lalu di pusat Seoul, bersama dengan puluhan ribu orang yang lain, kebanyakan dari mereka berusia lebih dari 50 tahun.

Sekitar 200 orang telah dinyatakan positif setelah aksi demonstrasi itu.

Pemerintah mengatakan pihaknya telah meminta gereja daftar lengkap anggotanya yang hadir dalam aksi itu, namun pemerintah tak mendapatkannya.

Itu kemudian membuat polisi melakukan penggeledahan pada Jumat (21/08). Mereka menggeledah markas gereja itu untuk mencari daftar lengkap nama para anggotanya untuk melacak mereka.

Namun begitu, gereja membantah tudingan itu.

Disinfection professionals wearing protective gear spray anti-septic solution against the coronavirus (COVID-19) at a sybway stationPetugas memberi disinfektan pada permukaan benda di stasiun kereta bawah tanah. (Getty Images)

"Gereja Sarang Jeil dan Pastor Jun Kwang-joon telah mematuhi langkah pencegahan yang diterapkan pemerintah," ujar pengacara Kang Yeon-jae.

"Kami menutup gereja secepatnya setelah terkonfirmasi ada kasus. Kami memberitahu seluruh anggota gereja untuk tidak menghadiri gereja dan melakukan pengetesan virus."

Namun, media lokal menunjukkan apa yang mereka klaim sebagai anggota gereja yang sedang berteriak dan menyumpahi para pelacak kontak.

Sementara itu, virus corona masih terus menyebar, termasuk menginfeksi tujuh petugas polisi yang menjaga keamanan pada demonstrasi 15 Agustus lalu.

Gereja-gereja di seluruh Korea Selatan didesak untuk menggelar misa secara online pada Minggu, namun pemerintah kota Seoul menyebut sebanyak 17 gereja tidak mematuhi kebijakan itu.

Presiden Moon akan menerapkan hukuman terhadap mereka yang melanggar langkah-langkah anti-virus, termasuk mereka yang melakukan "kampanye disinformasi".

Puncak wabah belum tiba

Kasus virus baru dengan rute infeksi yang belum diketahui ini terus bermunculan dan pejabat kesehatan memperketat peringatan dan persiapan akan wabah di seluruh negeri.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Korea Selatan, Jeong Eun-kyeong mengatakan bahwa negara itu belum mencapai puncak wabah.

Hari ini, dia mengimbau warga Korea Selatan untuk mematuhi aturan jaga jarah untuk menekan infeksi serendah mungkin.

"Mohon tinggal di rumah dan gunakan masker jika Anda keluar rumah.

"Mohon bergabung dengan kampanye jaga jarak sekali lagi agar kita bisa terus mengajar para pelajar kita, mendukung ekonomi lokal dan mencegah sistem kesehatan kolaps.

"Sehingga kita bisa menghindarkan pasien kita dari bahaya."

Dr Ju Young-Su dari Pusat Kesehatan Nasional di Seoul mengatakan kepada kami bahwa pihaknya bertujuan untuk menjaga tingkat kematian serendah mungkin.

Tugas dari lembaga ini adalah untuk mengalokasikan tempat tidur bagi pasien. Bagaimanapun, dia sudah menyiapkan skenario terburuk - bahwa demonstrasi pada 15 Agustus silam telah menginfeksi lebih dari 2.000 orang.

"Tim kesehatan Korea akan melakukan upaya terbaik untuk menjaga mereka tetap hidup," dia berkata pada kami.

Secara keseluruhan, 309 orang telah meninggal dunia di Korea Selatan akibat virus corona. Salah satu tingkat kematian terendah di dunia.

Negara itu telah melakukan persiapan dengan baik. Kini mereka telah memiliki sistem pengetesan dan pelacakan yang sudah diperbarui.

Selama berbulan-bulan, pejabat kesehatan berhasil membasmi klaster kecil dan mencegah penyebaran virus.

Tetapi wabah terbaru ini menunjukkan betapa sulitnya virus corona untuk dikendalikan.

Jumlah kasus masih jauh lebih rendah daripada negara lain di dunia, tetapi ketakutan dan kekhawatiran di Seoul lebih tinggi dari sebelumnya.

Ini bisa menjadi tes Covid-19 terbesar di Korea Selatan.

(ita/ita)