Siapa Marie Bonaparte, Bangsawan yang Jadi Pelopor Studi Seksual Abad 20?

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 11:12 WIB
Jakarta -

Black and white portrait of Marie Bonaparte

Marie Bonaparte adalah seorang bangsawan, namun juga seorang perempuan revolusioner. (Getty Images)

Sebagian orang mengenalnya sebagai pelopor seksualitas perempuan; bagi yang lain, dia hanyalah seorang perempuan kaya raya dengan koneksi yang berpengaruh.

Faktanya adalah Marie Bonaparte (1882-1962) - keponakan dari mantan Kaisar Prancis Napoleon l dan bibi Pangeran Philip, Duke of Edinburgh - tidak melewati sejarah tanpa disadari.

Marie Bonaparte adalah seorang putri, namun minat utamanya dalam hidup adalah orgasme dan psikoanalisis perempuan

Maka dia menjadi murid, dan ada masanya dia menyelamatkan figur psikoanalisis Sigmund Freud.

Namun di atas semua hal, Bonaparte adalah seorang "perempuan bebas".

Menurut para penulis biografinya, dia adalah karakter yang menarik, yang menonjol di lingkungan ilmiah atau di dunia bangsawan ... dan yang selamanya mencari jawaban tentang kenikmatan seksual perempuan.

Sang putri

Marie Bonaparte lahir di Paris, dalam keluarga yang terkenal dan kaya raya.

Dia adalah putri dari Marie-Felix dan Pangeran Roland Napoleon Bonaparte dari Prancis.

Neneknya adalah pengusaha dan pendiri Casino Monte Carlo, Francois Blanc, terkenal karena kekayaannya yang luar biasa.

Portrait of Marie Bonaparte sitting at a table, with a vase of flowers.

Marie Bonaparte adalah anak yang kesepian dan seorang pemberontak ketika remaja. (Getty Images)

Namun kehidupannya dilingkupi tragedi sejak awal mula hidupnya: dia hampir meninggal ketika dilahirkan dan ibunya meninggal sebulan setelah dia lahir.

Masa kecilnya bermasalah dan kesepian.

Tanpa ada anak lain di sekitarnya, dia sangat mencintai ayahnya - antropolog dan ahli geografi - dan takut pada nenek dari pihak ayah.

Dia memiliki rasa ingin tahun sejak awal: tentang sains, sastra, tulisan dan juga tentang tubuhnya sendiri.

Suatu hari, "Mimau", salah satu dari banyak perempuan yang merawatnya, menemukan Marie sedang masturbasi.

"Itu dosa! Itu kejahatan! Jika kamu melakukan itu kamu akan mati!" katanya, seperti yang dicatat Marie sendiri dalam buku hariannya pada tahun 1952.

"Bonaparte mengklaim bahwa dia menghentikan masturbasi klitoris sekitar usia delapan atau sembilan tahun karena takut peringatan Mimau bahwa kematian adalah harga yang harus dibayar dari kesenangan erotis," tulis Nellie Thompson dalam esainya The Theory of Female Sexuality of Marie Bonaparte: Fantasy and Biology.

Sejak usia muda, dia pemberontak dan tidak menerima gagasan kepatuhan yang diwajibkan pada perempuan.

Di masa remaja, dia mempelajari berbagai bahasa - terutama Inggris dan Jerman - namun nenek dan ayahnya tiba-tiba melarangnya untuk belajar bahasa asing.

"Dia dan Roland mengklaim bahwa musuh Partai Republik dari Bonapartes dapat menyabotase ujian sebagai upaya mempermalukan keluarga," kata Thompson, mengutip dari buku harian Marie.

Portrait of Marie Bonaparte

Perannya sebagai seorang putri tak menghalanginya menyelidiki dan mempelajari seksualitas perempuan. (Getty Images)

Hal ini mendorong Marie untuk berseru, "Sialan nama saya, nilai saya, keberuntungan saya! Sial, terutama jenis kelamin saya! Karena Jika saya laki-laki, mereka tidak akan menghentikan saya untuk berusaha!," menurut Thompson.

Sebelum menginjak usia 20 tahun, di tengah kebangkitan seksualnya, Marie Bonaparte berselingkuh dengan pria yang sudah menikah, salah satu asisten ayahnya.

Semuanya berakhir dengan skandal, pemerasan dan penghinaan untuknya.

Ayahnya memutuskan untuk memperkenalkan Marie kepada pria yang dia inginkan sebagai menantu, Pangeran George dari Yunani dan Denmark (1869-1957), yang 13 tahun lebih tua darinya.

Marie setuju, dan mereka menikah pada 12 Desember 1907 di Athena.

Mereka memiliki dua anak, Putri Eugenie dan Pangeran Peter, tetapi hubungan mereka tidak bahagia.

Meskipun pernikahan itu berlangsung selama 50 tahun, Marie segera menyadari ikatan emosional suaminya yang sebenarnya adalah dengan pamannya, Pangeran Valdemar dari Denmark.

Marie - yang kemudian memutuskan mencari kekasihnya sendiri - menemukan penghiburan dari kehidupannya yang bermasalah dalam studinya.

Eksplorasi seksualitas perempuan

Kelaparan intelektual Marie dan kebutuhan untuk memahami sifat seksualitas dan kesenangan perempuan menjadi dorongannya.

Pada tahun 1924 ia menerbitkan esai "Catatan tentang penyebab anatomi frigiditas pada wanita" dengan nama samaran A.E. Narjani.

An official portrait of Marie Bonaparte and her husband, Prince George of Greece and Denmark.

Marie Bonaparte dan suaminya, Pangeran George dari Yunani dan Denmark. (Getty Images)

"Dia sangat frustasi dengan kenyataan bahwa dia tak pernah mengalami orgasme ketika melakukan hubungan seksual," ujar Kim Wallen, profesor neuroendokrinologi perilaku di Emory University, Georgia, AS.

"Dia tidak menerima keyakinan bahwa perempuan hanya bisa orgasme dengan stimulasi klitoris langsung," kata Prof Wallen kepada BBC.

Marie berpikir bahwa jika seorang perempuan tidak bisa mencapai orgasme saat hubungan seksual, ini akan menimbulkan masalah anatomi.

Dia kemudian mengembangkan sebuah teori: semakin pendek jarak antara klitoris perempuan dan vaginanya, semakin besar peluangnya untuk mengalami orgasme selama seks penetrasi.

Untuk mempertahankan tesisnya, dia melakukan survei terhadap lebih dari 240 perempuan di Paris tahun 1920-an.

Menurut publikasinya, "data tidak dikumpulkan secara sistematis, tetapi [dikumpulkan] ketika seorang perempuan pergi ke dokternya" kata Prof Wallen, yang telah mempelajari karya Bonaparte bersama dengan Dr Elisabeth Lloyd.

Menurut para ahli, "Dia membagi sampel menjadi tiga kelompok, tergantung jarak antara meatus [lubang vagina] dan klitoris, meskipun tidak ada penjelasan bagaimana pembagian ini ditentukan."

"Bonaparte memiliki hipotesis yang menarik. Dia memelopori teori ini bahwa perempuan dibuat secara berbeda, dan itulah mengapa mereka mengalami reaksi yang berbeda selama hubungan seksual," kata Dr Lloyd kepada BBC.

Tetapi teorinya "menempatkan semua penekanan pada anatomi perempuan, mengesampingkan aspek lain seperti kematangan psikologis - atau jika perempuan tersebut terpenuhi dengan hidupnya, neurotik atau tak memiliki napsu seksual, menggunakan istilah negatif yang diterapkan pada perempuan pada waktu itu," kata sang spesialis.

A portrait of Marie Bonaparte, dedicated to Sigmund Freud.

Marie Bonaparte menjadi salah satu murid Sigmund Freud (Getty Images)

Teori ini membuat Marie Bonaparte yakin bahwa jika perempuan menjalani operasi yang membuat klitorisnya lebih dekat dengan vagina, maka mereka bisa mengalami orgasme ketika melakukan hubungan seksual.

Sayangnya, dia salah.

"Operasi itu adalah bencana. Beberapa perempuan kehilangan semua sensasi. Tetapi Marie Bonaparte sangat percaya pada temuannya, dia menjalani operasi sendiri, tetapi tidak berhasil," jelas Prof Wallen.

Tak puas, dia tidak hanya menjalaninya sekali, tapi tiga kali.

"Ketika Anda memotong banyak syaraf di sekitar klitoris, Anda tidak akan mendapat repons sensor lebih besar, namun justru kebalikannya, karena Anda memotong syaraf yang paling penting," jelas Dr Lloyd, yang menjadi profesor Sejarah dan Filsafat Ilmu di departemen Biologi di Universitas Indiana.

"Dia percaya bahwa operasi adalah satu-satunya cara bagi perempuan untuk mengalami orgasme saat berhubungan," tambahnya.

Berteman dekat dengan Freud

Meski begitu, Marie Bonaparte tak menyerah. Dia melanjutkan penelitiannya untuk mencari jawaban tentang frustrasi seksual dan kesulitan yang dia alami dalam hidup.

Pada 1025, dia pergi ke Wina, Austria, untuk berkonsultasi dengan ahli psikoanalis baru yang menjadi pembicaraan di kalangan medis Paris: Sigmund Freud.

"Dari Freud, dia menemukan apa yang sangat dia butuhkan, 'ayah' baru untuk dicintai dan dilayani," kata Thompson dalam esainya.

Marie Bonaparte and Sigmund Freud.

Marie Bonaparte adalah pasien, murid dan teman Sigmund Freud (Getty Images)

Marie Bonaparte menjadi pasiennya, namun tak lama kemudian keduanya berteman dan ketika ketertarikannya akan psikoanalisis lambat laun tumbuh, perempuan itu menjadi muridnya.

"Dia adalah salah satu perempuan pertama di Prancis yang mempelajari psikonalisis bersama Freud," ujar Remy Amouroux, seorang profesor psikologi University of Lausanne di Swiss, kepada BBC.

"Freud menikmati kebersamaannya karena dia bukan 'perempuan berbahaya' atau akademisi. Saat mereka bertemu, Freud hampir berusia 70 tahun. Dan dia adalah perempuan yang menarik, cerdas, dan kaya yang berdebat dengannya," tambah Prof Amouroux.

Marie Bonaparte menjadi tokoh psikonalisis terkemuka di Paris.

Dan dalam sebuah putaran nasib, dia menyelamatkan hidup Freud ketika Austria diduduki oleh Nazi Jerman.

Menggunakan kekayaan dan pengaruhnya, Marie mengatur agar Freud dan keluarganya melarikan diri dari Wina ke London, tempat dia mengakhiri hari-harinya.

From left to right: Anna Freud, Marie Bonaparte, Sigmund Freud and Prince George of Greece and Denmark, at a train station in 1938.

Marie Bonaparte membantu Freud dan keluarganya melarikan diri dari Nazi. (Getty Images)

"Pada usia 82 tahun, saya meninggalkan rumah saya di Wina sebagai akibat dari invasi Jerman dan datang ke Inggris, di mana saya berharap untuk mengakhiri hidup saya dalam kebebasan," kata Freud kepada BBC dalam wawancara tahun 1938.

Seorang perempuan bebas

Kematangan profesional akhirnya membuat Marie Bonaparte membantah teorinya tentang seksualitas perempuan.

"Marie Bonaparte sepenuhnya menolak ide aslinya," kata Prof Wallen.

"Dia menerbitkan sebuah buku baru pada tahun 1950 berjudul 'Female Sexuality', di mana dia menarik kembali segala sesuatu tentang studi awalnya," tambah ahli tersebut.

"Di sana dia menyatakan bahwa anatomi tidak ada hubungannya dengan itu, dan semuanya psikologis. Saat itu, dia sudah hampir 25 tahun berkecimpung di dunia psikoanalisis," kata Prof Wallen.

Terlepas dari perubahan pandangan ini, "Saya masih menganggap penelitian aslinya luar biasa," kata Prof Wallen, yang percaya Bonaparte adalah seorang perempuan revolusioner.

Marie Bonaparte in 1950

Bonaparte menyadari seksualitas perempuan telah disalahpahami karena selalu dianalisis dari sudut pandang laki-laki. (Getty Images)

Bagi Profesor Dr Llyod, Marie Bonaparte adalah "tokoh yang menarik. Dia adalah salah satu pahlawan perempuan saya, meskipun dia juga merupakan karakter yang tragis".

Ketika berbicara tentang seksualiatas perempuan, "dia selalu lebih unggul dari zamannya dalam hal pengetahuan dan pemahaman," ujar Dr Lloyd, meskipun pada kenyataannya dia sangat tak bahagia dengan tubuhnya sendiri."

Prof Amouroux, yang menghabiskan beberapa tahun untuk membuat katalog arsip Marie Bonaparte di Paris, berpendapat, "dia adalah perempuan yang luar biasa", memiliki koneksi yang kuat dengan lingkaran sastra, politik dan bangsawan di zamannya - dia tahu semua orang terkenal di awal abad ke-20.

"Dia figur yang sangat menarik bagi gerakan feminisme juga," ujarnya.

Marie Bonaparte akhirnya berkesimpulan bahwa "caranya melihat seksualitas sangat patriarkal, karena dia sebelumnya diyakinkan bahwa hanya ada satu cara untuk mengalami orgasme," ujar Amouroux.

"Namun pada saat yang sama, dia sangat berpikiran bebas - dia adalah perempuan kompleks yang berani menantang Freud.

(ita/ita)