Belum Pernah Terjadi Sebelumnya, Ada Apa di Balik Aksi Protes di Belarus?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 15:31 WIB
Anggota pasukan khusus Belarus berdiri di samping pendemo yang terbaring tak sadarkan diri (Reuters)
Jakarta -

Seorang pria berusia 25 tahun menjadi korban meninggal dunia kedua di Belarus sejak para demonstran dan aparat kepolisian bentrok pada Minggu (09/08) terkait pemilihan presiden.

Kementerian Dalam Negeri Belarus menyebut polisi menggunakan peluru tajam ketika mereka diserang selama demonstrasi berlangsung.

Para pengunjuk rasa menuduh polisi melakukan kebrutalan setelah pemilihan presiden hari Minggu (09/08).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk penggunaan kekerasan oleh pihak berwenang. Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, mengatakan sekitar 6.000 orang ditahan dalam tiga hari, termasuk orang yang sedang melintas dan anak di bawah umur.

"Ini mengindikasikan ada tren penangkapan besar-besaran yang jelas melanggar standar-standar hak asasi manusia internasional," kata Bachelet.

Protes meletus pada Minggu (09/08), beberapa jam setelah pemimpin Belarus Alexander Lukashenko dinyatakan sebagai pemenang pemungutan suara, yang oleh Uni Eropa dikecam sebagai "tidak bebas dan tidak adil".

Pesaing utamanya, Svetlana Tikhanovskaya, kemudian ditahan sebelum melarikan diri ke negara tetangga, Lithuania.

Sedikitnya 200 pengunjuk rasa terluka, beberapa di antaranya terluka parah, dan 6.000 ditahan. Seorang kru BBC juga diserang oleh polisi pada Selasa (11/08) malam.

A riot police officer tries to move two women sitting on the pavement in Minsk, Belarus. Photo: 10 August 2020 Reuters Sejumlah pendemo ditahan Protesters on a street barricade in Minsk, Belarus. Photo: 11 August 2020Pendemo membangun barikade di jalanan kota untuk menghentikan polisi. (Reuters)Police officers detain a protester during a rally after the presidential election, in Minsk, BelarusEPAPolisi anto-huru hara tampak memukuli pengunjuk rasa di sejumlah area di Minsk

Selama 26 tahun terakhir, pemilu yang bebas dan adil belum pernah terjadi di Belarus.

Pemungutan suara presiden pada Minggu (09/08) silam, memberikan kemenangan telak bagi presiden saat ini, Alexander Lukashenko.

Tapi untuk pertama kalinya, ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan, menuntut penghitungan ulang.

Riot police detain a protester in Minsk, Belarus. Photo: 10 August 2020EPAPendemo bentrok dengan polisi di Minks, Belarus.

Jadi mengapa hal ini terjadi dan apa yang berubah?

Untuk memahami situasi di Belarusia, mari kita mundur sedikit.

Vodka versus virus corona

Ketika pandemi virus corona melanda seluruh Eropa, Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, menepisnya. Diamenyebut wabah penyakit itu sebagai "psikosis" dan meresepkan vodka, sauna, dan tumpangan dengan traktor untuk menyembuhkan penyakit apa pun.

Tetapi Belarus menyaksikan semua negara tetangga mereka melakukan karantina wilayah dan menutup perbatasan.

Lukashenko smiling after casting his vote in the election.Presiden Lukashenko mengklaim telah selamat dari virus corona 'dengan sendirinya'. (Reuters)

Jadi, tanpa perintah nyata dari pihak berwenang, banyak yang mulai memakai masker wajah, mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah dan mempraktikkan jarak sosial.

Dengan kata lain, mereka mengambil tindakan sendiri, memicu semacam kebangkitan politik.

Siapa Sergei Tikhanovsky?

Sementara itu, seorang vlogger di YouTube tengah menarik perhatian.

Sergei Tikhanovsky kerap membuat vlog tentang hasratnya untuk negaranya. Dia pergi ke seluruh Belarus, berbicara dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat untuk salurannya yang berjudul A Country for Life.

Tanpa mencoba, videonya menyingkapkan potensi besar negara, serta kehancurannya di tangan otoritarianisme, korupsi, dan kurangnya reformasi.

Jadi, ketika pengikutnya terus bertambah, dia mendapat perhatian dari pihak berwenang.

Meskipun dia tidak secara spesifik mendorong pendukungnya untuk bertindak atau mencoba melakukan perubahan, dia kerap kali ditangkap, sebelum akhirnya ditahan dan dilarang mencalonkan diri sebagai presiden.

Lalu siapa Svetlana Tikhanovskaya?

Svetlana hanya menginginkan menjadi ibu rumah tangga dan merawat kedua anaknya yang masih kecil.

Istri dari Sergei Tikhanovsky dan mantan guru ini mengaku dia memilih untuk menyuapi anak-anaknya ketimbang berorasi dalam demonstrasi, namun dia berkata dia tak punya pilihan lain.

Ketika suaminya ditahan, dia mengambil alih misinya untuk menantang Lukashenko dalam pemilihan presiden.

Svetlana Tikhanovskaya smiling at a rallyPada Juni silam, Svetlana Tikhanovskaya berkata kepada BBC bahwa dirinya mendapat ancaman karena aktivisme politiknya. (EPA)

Politisi pemula ini awalnya tidak yakin akan peluangnya, hingga akhinrnya puluhan ribu pemilih mengantri untuk menawarkan dukungan mereka dalam pencalonannya.

Tanpa program politik yang solid, Tikhanovskaya hanya berkampanye untuk perubahan dan menjanjikan "pemilu yang bebas dan adil" setelah enam bulan berkuasa.

Pada bulan Juli, dia ditemani oleh dua perempuan lain: Veronika Tsepkalo, istri dari salah satu mantan calon, dan Maria Kolesnikova, manajer kampanye untuk calon lainnya.

Belum pernah sebelumnya oposisi memiliki front persatuan seperti itu.

Ada perubahan?

Terlepas dari popularitas kampanyenya, tidak ada yang berilusi tentang dampak sebenarnya.

Presiden Lukashenko menyebut Svetlana Tikhanovskaya sebagai "gadis malang yang dikendalikan oleh dalang asing".

"Mereka tidak akan mendapatkan negaraku!" dia berulang kali berkata.

A protester sits atop a large rubbish container with a graffiti that reads '3%'.Pendukung oposisi bersikeras peringkat popularitas Aleksander Lukashenko, paling-paling, 3%. Mereka bahkan memberinya julukan 'Sasha-tiga-persen' (Reuters)

Jadi, tidak mengherankan ketika komisi pemilihan mengumumkan kemenangan telak bagi Lukashenko, memenangkan pemilihan ulang dengan 80% suara.

Namun, yang mengejutkan adalah protes yang melanda kota-kota di seluruh Belarus menentang kemenangannya dan kekuatan yang digunakan pihak berwenang untuk menghentikan demonstrasi.

Ratusan orang terluka dalam protes yang disambut dengan gas air mata, meriam air dan peluru karet.

Di mana Svetlana Tikhanovskaya sekarang?

Sehari setelah pemungutan suara, Tikhanovskaya menghilang.

Pada Selasa (11/08), Menteri Luar Negeri Lithuania mencuit melalui akun Twitter bahwa Tikhanovskaya aman, di negaranya, bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Beberapa saat kemudian, dua video muncul tentang Svetlana Tikhanovskaya, yang merekam aktivitasnya sebelum dia meninggalkan Belarus.

A human chain of female protesters of all ages stands with their arms linked at a post-election demonstration in Belarus capital, Minsk.Para pengamat menyebut gelombang protes 'belum pernah terjadi sebelumnya' dalam skala dan ketahanan (Courtesy of tut.by)

Dalam video tersebut dia terlihat sangat tertekan. Dia berbicara tentang menjadi "perempuan yang lemah" dan bahwa tidak ada yang sebanding dengan pengorbanan hidup manusia.

Dia bilang anak-anaknya lebih penting dari apapun.

Membaca dari naskah, dia juga meminta rekan-rekannya untuk tidak keluar dan melakukan demonstrasi serta menerima hasil pemilu.

Semua tanda menunjukkan Tikhanovskaya dipaksa meninggalkan negara itu dengan imbalan keselamatan keluarganya.

Apa yang terjadi kemudian?

Terlepas dari tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kekuasaan presiden, Belarus sepertinya tidak akan memiliki pemimpin baru dalam waktu dekat.

Pakar politik sangat ingin menekankan bahwa meskipun Tikhanovskya melambangkan keinginan negara untuk perubahan, dia bukanlah orang yang mewujudkannya.

A lone protester holding an old white-and-red flag of Belarus, standing in front of a special forces cordon.Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera lama Belarus, yang diadopsi sebagai panji gerakan pro-demokrasi di negara itu. (EPA)

Tapi beberapa minggu terakhir telah menunjukkan bahwa negara mungkin siap untuk seseorang pemimpin baru.

Para pengunjuk rasa mungkin tidak hadir dalam jumlah puluhan ribu tetapi mereka yang berdemo sebagian besar berusia di bawah 25 tahun.

Jadi meskipun banyak dari para demonstran mungkin tidak pernah mengenal presiden lain yang berkuasa, mereka terlihat bertekad untuk mengubahnya.

(ita/ita)