Mengapa TikTok Dianggap Sebagai Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 17:47 WIB
Jakarta -

TikTok

Getty Images

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan melarang TikTok kecuali jika ada perusahaan Amerika yang membeli operasi TikTok di AS. Apa yang menyebabkan aplikasi yang berhasil menarik jutaan pengguna itu dianggap sebagai risiko keamanan nasional hanya dalam waktu dua tahun?

Beruang kenyal berwarna merah berdiri di atas panggung remang-remang sendirian ketika kemudian ada suara Adele bernyanyi.

Lalu, kerumunan yang tak terlihat bergabung dengan baris lagu berikutnya, kamera kemudian menunjukkan ratusan beruang kenyal yang seolah-olah tengah bernyanyi lagu Adele 'Someone Like You' bersama-sama.

Video itu konyol, imut, dan sangat menyenangkan ditonton. Dan untuk aplikasi video pemula TikTok, video itu melakukan lebih banyak untuk waktu 15 detik daripada anggaran pemasaran yang bernilai jutaan.

Setelah diunggah pada bulan Desember 2018, video itu sudah ditonton jutaan orang, tetapi - yang lebih penting - ditiru oleh ribuan orang di jejaring sosial lainnya.

Aplikasi itu mencuat secara global dan sejak saat itu TikTok telah menarik ratusan juta penonton yang bersemangat, kreatif dan muda.

Asal usul TikTok berbeda dengan kisah start-up yang sering kita dengar sebelumnya. Perusahaan itu bukan kerajaan yang dibangun oleh beberapa orang dengan ide bagus di garasi rumah mereka.

Aplikasi itu sebenarnya bermula dari tiga aplikasi berbeda.

Yang pertama adalah aplikasi AS bernama Musical.ly, yang diluncurkan pada 2014 dan memiliki sejumlah pengikut yang jumlahnya 'sehat' di negara itu.

Pada 2016, raksasa teknologi China ByteDance meluncurkan layanan serupa di China yang disebut Douyin. Aplikasi itu menarik 100 juta pengguna di China dan Thailand dalam kurun waktu setahun.

ByteDance melihat prospek yang cerah dan ingin memperluas bisnis dengan merek yang berbeda - TikTok. Jadi, pada tahun 2018 perusahaan itu membeli Musical.ly dan memulai ekspansi global TikTok.

Rahasia TikTok terletak pada penggunaan musik dan algoritme yang luar biasa kuat, yang mempelajari apa yang disukai pengguna jauh lebih cepat daripada banyak aplikasi lain.

Pengguna dapat memilih dari database lagu yang besar, filter dan klip film untuk melakukan lipsync.

Fitur itu mengilhami beberapa tren besar seperti Old Town Road rapper Lil Nas X atau Bored in the House yang dibuat Curtis Roach.

Bahkan theme tune BBC News menjadi viral ketika orang Inggris semakin santai melihat briefing virus corona setiap hari.

Banyak orang akan menghabiskan sebagian besar waktunya di laman 'For You'.

Di sinilah algoritma menawarkan konten bagi pengguna, mengantisipasi apa yang akan mereka nikmati berdasarkan konten yang telah mereka saksikan.

Fitur itu juga merupakan tempat konten yang potensial viral dipajang.

Idenya adalah bahwa jika kontennya bagus, konten itu akan viral, terlepas dari berapa banyak pengikut yang dimiliki si pembuat konten.

Banyak komunitas TikTok telah bermunculan. Mereka disatukan oleh jenis konten yang mereka nikmati.

Pengguna lain, termasuk kelompok LGBT dan pembuat konten yang bukan influencer, berada di platform itu untuk membuat konten informatif atau lucu untuk orang-orang yang berpikiran sama.

Pertumbuhan TikTok dan aplikasi saudaranya Douyin telah pesat.

Pada Juli tahun lalu aplikasi itu sudah memiliki satu miliar pengunduh di seluruh dunia, di mana 500 juta di antaranya adalah pengguna aktif. Setahun kemudian mereka memiliki dua miliar pengunduh dan sekitar 800 juta pengguna aktif.

TikTok graphicBBC

TikTok dan politik

Pertumbuhan pesat aplikasi itu juga menarik perhatian para politisi. Apa makna dari aplikasi China yang begitu cepat menjadi bagian besar dari kehidupan modern?

Meskipun tuduhan itu tidak jelas, India dan AS khawatir TikTok mengumpulkan data sensitif dari pengguna yang dapat digunakan oleh pemerintah China untuk memata-matai.

Setiap perusahaan besar China dituding memiliki "sel" internal yang bertanggung jawab kepada Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa, dengan banyak agennya yang bertugas mengumpulkan rahasia.

India awalnya melarang TikTok pada April 2019, setelah pengadilan memerintahkan pencabutannya dari layanan pengunduh aplikasi, menyusul adanya klaim bahwa aplikasi itu digunakan untuk menyebarkan pornografi. Keputusan itu dibatalkan saat naik banding.

India kemudian melarang TikTok lagi, bersama dengan puluhan aplikasi milik China lainnya pada Juni 2020. Saat itu pemerintah India mengatakan telah menerima keluhan bahwa aplikasi itu "mencuri dan secara diam-diam mengirimkan data pengguna".

Pemerintah AS mulai meninjau platform itu secara nasional pada akhir 2019, setelah anggota parlemen dari Demokrat dan Republik mengatakan ada risiko dari aplikasi itu.

Baru-baru ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengklaim TikTok adalah satu dari sejumlah aplikasi China "yang menyerahkan langsung data ke Partai Komunis China".

Kantor Komisi Informasi Inggris dan badan intelijen Australia saat ini sedang menyelidiki aplikasi tersebut tetapi belum mengungkapkan apa yang mereka selidiki.

Tentu saja patut dicatat bahwa ada ketegangan dengan negara-negara ini.

AS berselisih dengan China terkait urusan perdagangan, pasukan India dan China terlibat dalam bentrokan perbatasan, dan Inggris menentang undang-undang keamanan baru di Hong Kong.

Apa yang TikTok lakukan dengan data masih diperdebatkan.

Kami tahu dari kebijakan privasinya bahwa TikTok mengumpulkan sejumlah besar data, termasuk:

  • Video apa yang ditonton dan dikomentari
  • Data lokasi
  • Model ponsel dan sistem operasinya
  • Ritme keystroke ketika orang mengetik

Terungkap juga bahwa TikTok membaca clipboard copydan paste pengguna, tetapi banyak aplikasi lain juga melakukan itu, termasuk Reddit, LinkedIn dan aplikasi BBC News, dan tidak ada kejahatan yang ditemukan.

Sebagian besar bukti menunjukkan pengumpulan data TikTok dapat dibandingkan dengan jejaring sosial lain yang haus data seperti Facebook.

Namun, tidak seperti saingannya yang berbasis di AS, TikTok mengatakan pihaknya bersedia untuk menawarkan transparansi, dalam tingkat yang disebutnya tak pernah dijangkau sebelumnya, untuk meredakan beberapa kekhawatiran tentang pengumpulan dan aliran data.

CEO baru TikTok, Kevin Mayer, seorang mantan eksekutif Disney di Amerika, mengatakan pihaknya akan mengizinkan para ahli untuk memeriksa kode di balik algoritmanya. Pernyataan itu sangat penting dalam industri di mana data dan kode dijaga ketat.

'Kami tak akan serahkan data'

Namun, kekhawatiran tidak hanya tentang data apa yang dikumpulkan, tetapi juga lebih teoritis - dapatkah pemerintah China memaksa ByteDance untuk menyerahkan data?

Kekhawatiran yang sama telah dikemukakan tentang Huawei.

Undang-undang Keamanan Nasional 2017 di China memaksa setiap organisasi atau warga negara untuk "mendukung, membantu dan bekerja sama dengan pekerjaan intelijen negara".

Namun, seperti raksasa telekomunikasi China Huawei, bos TikTok telah berulang kali mengatakan bahwa jika itu terjadi, "kami pasti akan menolak setiap permintaan data".

TikTok, Zhang Yiming

Penemu ByteDance Zhang Yiming adalah orang terkaya ke-10 di China, menurut daftar Forbes Rich (Getty Images)

Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan sensor, atau aplikasi yang digunakan untuk mempengaruhi debat publik.

TikTok adalah salah satu platform pertama yang dikunjungi banyak anak muda untuk berbagi konten berbau aktivisme sosial.

Pada bulan Mei, TikTok mempromosikan #BlackLivesMatter sebagai tren.

Namun, bahkan ketika tagar itu menarik miliaran pengunjung, ada yang mengkritik bahwa konten dari pembuat konten berkulit hitam dibatasi dan bahwa tagar yang terkait dengan protes disembunyikan.

Ini bukan pertama kalinya algoritma TikTok dikritik karena cara pemilihan konten.

Sebuah laporan oleh The Intercept mengatakan bahwa moderator didorong untuk mengacuhkan konten dari siapa pun yang dianggap terlalu "jelek", atau miskin.

Tahun lalu, Guardian melaporkan bahwa materi yang disensor TikTok dianggap sensitif secara politis, termasuk rekaman protes di Lapangan Tiananmen dan tuntutan kemerdekaan Tibet.

Pelaporan lebih lanjut dari Washington Post menunjukkan bahwa moderator di China memiliki keputusan akhir tentang apakah video disetujui.

ByteDance mengatakan pedoman seperti itu telah dihapus dan semua moderasi independen dari pengaruh Beijing.

Namun diskusi yang berlangsung dengan Microsoft tentang kemungkinan perusahaan itu membeli operasi TikTok di AS menunjukkan TikTok adalah salah satu produk teknologi paling signifikan selama bertahun-tahun.

TikTok muncul sebagai tempat pertemuan untuk mereka yang berusia di bawah 25 tahun, sedangkan aplikasi seperti Twitter dan Instagram sering dianggap lebih sering digunakan oleh pengguna yang lebih tua.

Tetapi bagi mereka yang menggunakan TikTok untuk menyampaikan aspirasi, kemungkinan larangan aplikasi ini akan terasa seperti kerugian.

Unduhan sejumlah aplikasi pesaing TikTok, seperti Byte dan Triller telah melonjak di AS karena sejumlah pengguna bersiap berpindah aplikasi.

Namun, banyak pengguna yang tampaknya akan bertahan menggunakan TikTok sampai saat-saat terakhir - jika saat pelarangan itu tiba.

(ita/ita)