Misteri Besar di Balik Melonjaknya Kasus Corona di Vietnam

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 14:58 WIB
Orang-orang yang kembali dari Danang dites Covid-19. Foto diambil di Hanoi, Vietnam (31/07). (Getty Images)
Jakarta -

Hingga pertengahan Juli, Vietnam bersinar sebagai negara yang menonjol terkait caranya mengendalikan kasus Covid-19. Tidak ada kematian yang dilaporkan dan selama berbulan-bulan tak ada kasus penularan secara lokal.

Para penggemar sepak bola sudah kembali memadati stadion, sekolah dibuka kembali, dan orang-orang sudah kembali ke kafe favorit mereka.

"Kami sudah kembali ke kehidupan normal," kata Mai Xuan Tu, 27 tahun, asal Da Nang, kota di Vietnam Tengah yang terkenal sebagai kota pariwisata.

Seperti banyak orang yang tinggal di kota pesisir yang sangat populer dengan wisatawan domestik, ia bekerja di industri pariwisata dan mendirikan perusahaan tur. Perlahan-lahan Mai Xuan Tu menerima kembali pemesanan perjalanan.

Tetapi pada akhir Juli, Da Nang menjadi episentrum wabah virus corona, yang sumbernya membingungkan para ilmuwan.

Jumlah kasus tiba-tiba melonjak setelah 99 hari berturut-turut tak terjadi transmisi lokal.

Pekan lalu kota itu mencatat kematian Covid-19 pertama di Vietnam, jumlah korban meninggal sejak saat itu meningkat menjadi 10 kasus.

Apa yang salah?

Beberapa minggu sebelumnya, Vietnam dipuji secara global sebagai negara yang sukses mengendalikan wabah.

Negara komunis itu bertindak cepat dan tegas saat negara-negara lain kewalahan.

Vietnam menutup perbatasannya untuk hampir semua pelancong kecuali warga lokal yang kembali pada awal Maret.

Negara itu mengkarantina dan mengetes siapa pun yang memasuki Vietnam di fasilitas pemerintah, melakukan pelacakan kontak, dan melakukan pengetesan luas secara nasional.

Jadi apa yang salah?

"Saya tidak yakin ada yang salah," kata Prof Michael Toole, seorang ahli epidemiologi dan peneliti utama di Burnet Institute di Melbourne.

Sebagian besar negara yang mengira mereka telah mengendalikan pandemi telah mengalami lonjakan kasus, katanya.

Ia merujuk ke daftar panjang termasuk Spanyol, Australia dan Hong Kong.

"Seperti gelombang pertama, Vietnam telah merespons dengan cepat dan kuat."

Sekitar 80.000 pengunjung di Danang - banyak dari mereka berpikir bahwa penyakit itu telah diatasi - diterbangkan kembali ke tempat asal segera setelah kasus baru muncul.

Kota pelabuhan bersejarah itu pun segera ditutup untuk pengunjung dan aturan karantina wilayah menyeluruh diterapkan di sana.

Lonjakan kasus di Vietnam menunjukkan bahwa "begitu ada sedikit celah dan virus masuk, virus itu dapat menyebar begitu cepat," kata Prof Toole.

Ilmuwan dan peneliti di seluruh negeri berlomba untuk mencari tahu persis bagaimana hal itu terjadi.

Di Hanoi Prof Rogier van Doorn, direktur Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford, mengatakan sumber wabah terbaru ini masih menjadi "misteri besar".

Timnya bekerja dengan pemerintah dalam program penyakit menular dan beberapa di antara para ilmuwan fokus pada apa yang disebutnya "pekerjaan detektif genetik" - pengurutan virus yang dapat membantu menjelaskan "rantai penularan. Dari siapa atau dari mana virus itu berasal".

Namun, sejauh ini tidak ada yang tahu bagaimana kasus baru pertama di Da Nang - seorang pria berusia 57 tahun yang dikenal sebagai pasien 416 - bersentuhan dengan virus corona.

covid-19, vietnam, virus corona, gelombang kedua

Sebuah keluarga menanti tes Covid-19 di Hanoi, Vietnam (31/07). (Getty Images)

Kesenjangan pengetahuan memungkinkan timbulnya beberapa spekulasi.

Media lokal memuat laporan yang menunjukkan wabah terbaru mungkin disebabkan oleh jenis virus yang lebih ganas. Yang lain mengatakan kasus baru mungkin terkait dengan kasus penyelundupan orang di sepanjang perbatasan Vietnam-China.

Tetapi belum ada bukti yang menunjukkan jenis virus yang lebih mematikan atau para migran lah yang telah membawa virus ke negara itu.

Kebanggaan nasional

Kemungkinan, kata para peneliti, bahwa virus tidak terdeteksi selama bulan-bulan saat tidak ada kasus yang dilaporkan, mungkin karena ada kasus tanpa gejala di masyarakat.

Atau mungkin ada kesalahan selama proses karantina, yakni seseorang yang dibebaskan sebelum waktunya.

"Ada bukti [virus] telah beredar di Da Nang selama beberapa minggu sebelum kasus pertama didiagnosis," kata Dr Justin Beardsley, dosen senior penyakit menular di Universitas Sydney yang penelitiannya difokuskan pada Vietnam.

Mungkin juga sejumlah masyarakat menjadi lengah, tambahnya. Ia mencatat bahwa Vietnam menunjukkan keterlibatan komunitas yang sangat kuat dalam upaya pengendalian penyebaran virus.

"Ada kebanggaan nasional yang besar tentang cara mereka mengendalikan pandemi. Saya pikir hal itu telah hilang di beberapa negara Barat."

Sejak ada sekitar 400 kasus positif di akhir Juli lalu, jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi di Vietnam telah melonjak di atas 780 kasus.

Wakil menteri kesehatan mengatakan mereka memperkirakan jumlahnya akan meningkat. Pada Rabu pekan lalu, ia memperingatkan bahwa jumlah kasus positif akan mencapai puncaknya dalam waktu 10 hari.

Dengan masuknya turis baru-baru ini ke Da Nang, yang kini sudah kembali ke kota masing-masing, kasus positif Covid-19 telah terdeteksi di total 14 kota dan provinsi, termasuk di ibu kota dan Kota Ho Chi Minh.

Namun, kata Prof Van Doorn, hal yang menenangkan adalah bahwa semua kasus baru di bagian lain negara sejauh ini memiliki hubungan langsung dengan wabah Da Nang.

Yang terpenting, belum ada penularan komunitas yang dilaporkan terjadi di luar kota Da Nang. Ini adalah sesuatu yang akan dipantau oleh pihak berwenang dengan cermat.

"Apa yang sebelumnnya sukses dilakukan, kini sedang dilakukan lagi. Saya kembali terkesan," tambahnya.

'Tahun penting untuk menjaga kesehatan'

Di antara pujian atas Vietnam terkait caranya menangani Covid-19 ada beberapa pertanyaan tentang keakuratan data negara otoriter itu, yang oleh komunitas medis dan diplomatik diakui secara luas dapat diandalkan.

"Kematian baru yang dilaporkan menunjukkan ada transparansi dalam pelaporan Covid-19 di Vietnam dan bahwa 'tidak ada kematian' sebelumnya seharusnya tidak dipertanyakan," kata Dr Huong Le Thu, analis senior di Institut Kebijakan Strategis Australia, kepada BBC.

Semua kematian sejauh ini adalah pasien usia lanjut dengan komorbiditas.

covid-19, vietnam, virus corona, gelombang kedua

Rumah sakit darurat sudah didirikan di sebuah kompleks olahraga di Danang. (Getty Images)

Di Da Nang, penduduk menyesuaikan diri kembali.

Pantai dan jalanan hampir kosong karena orang hanya meninggalkan rumah untuk membeli makanan. Semua restoran ditutup, termasuk untuk layanan pesan antar. Layanan penerbangan tak tersedia.

Setiap penduduk akan dites Covid-19 dan rumah sakit lapangan telah didirikan.

Di kota-kota lain di negara itu, masyarakat bebas bergerak, meski di Hanoi, bar dan tempat karaoke ditutup sebagai upaya pencegahan penularan.

Beberapa kota termasuk di ibu kota dan Kota Ho Chi Minh telah mewajibkan lagi masyarakat mengenakan masker di tempat umum.

Seperti banyak orang di seluruh dunia, May Xuan Tu-warga Danang- berkutat dengan ketidakpastian yang dipicu oleh pandemi.

"Tahun ini adalah tahun yang penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, juga fokus pada keluarga, dan hal-hal yang paling penting," ujarnya.

(ita/ita)