Bagaimana Dua Ribuan Ton Amonium Nitrat Sampai ke Pelabuhan Lebanon?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 17:54 WIB
Jakarta -

Pemerintah Lebanon menuding 2.700 ton amonium nitrat yang disimpan di Pelabuhan Beirut sebagai biang keladi ledakan dahsyat yang memporakporandakan sebagian kota itu pada Selasa (04/08).

Masyarakat Lebanon mengutarakan kemarahan dan ketidakpercayaan mereka bahwa bahan kimia yang rentan meledak itu ditempatkan dalam jumlah sedemikian besar di sebuah gudang tanpa langkah pengamanan selama enam tahun dan begitu dekat dengan kota.

Pemerintah Lebanon sejauh ini belum menyebutkan dari mana amonium nitrat berasal, namun jumlah yang disimpan di gudang sama dengan yang tiba di Beirut pada November 2013 menggunakan kapal kargo berbendera Moldova, MV Rhosus.

Kapal yang dimiliki Rusia itu mengangkat sauh pada September 2013 dari Batumi, Georgia, menuju Beira, Mozambik.

Di dalam lambungnya, kapal tersebut membawa 2.750 ton amonium nitrat. Bahan kimia itu biasanya berwujud bola kecil yang umum digunakan sebagai pupuk pertanian, tapi juga dapat dicampur dengan bahan bakar minyak untuk membuat peledak di bidang pertambahan dan konstruksi.

Ketika sedang berlayar melintasi kawasan timur Laut Mediterania, Rhosus mengalami "masalah teknis" dan terpaksa merapat ke Pelabuhan Beirut, menurut laporan tahun 2015 yang ditulis seorang pengacara Lebanon yang mewakili para kru dan dimuat situs industri perkapalan Shippingarrested.com

kapal beirutBBC

Rhosus diperiksa para pejabat pelabuhan dan "dilarang berlayar", kata pengacara. Sebagian besar anggota kru dipulangkan, kecuali Kapten Rusia, Boris Prokoshev, dan tiga awak lainnya yang dilaporkan berkewarganegaraan Ukraina.

Prokoshev menuturkan kepada kantor berita Reuters pada Kamis (06/08) bahwa Rhosus mengalami kebocoran tapi saat itu masih layak berlayar. Pemilik kapal kemudian mengirimnya ke Beirut untuk mengangkut kargo tambahan berwujud alat-alat berat karena kesulitan keuangan.

Akan tetapi, para kru tidak bisa menempatkan peralatan itu ke dalam kapal secara aman. Lantas ketika pemilik kapal tidak bisa membayar bea pelabuhan, aparat Lebanon menyitanya, kata sang kapten.

Artikel lain mengenai ledakan di Beirut

Selanjutnya Rhosus "ditelantarkan oleh pemiliknya setelah penyewa dan pemilik kargo tak lagi berminat pada kargo tersebut", menurut para pengacara.

Sementara itu, para kru yang masih berada di kapal kekurangan makanan dan kebutuhan pokok. Para pengacara mengatakan awak kapal mengajukan permintaan kepada Hakim Urusan Mendesak di Beirut untuk mengizinkan mereka kembali ke negara asal seraya menekankan "bahaya yang dihadapi para kru mengingat muatan yang diangkut 'berbahaya'".

beirut

Boris Prokoshev (kanan), kapten kapal MV Rhosus, dan awak kapal Boris Musinchak berdiri di dekat tumpukan karung berisi amonium nitrat di Pelabuhan Beirut pada 2014 lalu. (Reuters)

Hakim pada akhirnya mengizinkan para kru yang tersisa untuk turun dari kapal. Pada 2014, pejabat pelabuhan mengalihkan amonium nitrat tersebut ke "Gudang 12" di sebelah tempat penyimpanan biji-bijian. Para pengacara mengatakan kargo itu "menunggu untuk dilelang dan/atau dimusnahkan secara patut".

"Kargo itu berdaya ledak tinggi. Itulah sebabnya disimpan di dalam ketika kami bertugas di kapal...Amonium nitrat [yang kami angkut] punya konsentrasi sangat tinggi," ujar Prokoshev.

"Saya merasa sedih atas orang-orang [yang tewas atau luka akibat ledakan]. Namun, aparat setempat di Lebanon harus dihukum. Mereka tidak peduli sama sekali dengan kargo."

Ledakan hebat di BeirutBBC

Manajer umum Pelabuhan Beirut, Hassan Koraytem, dan Direktur Jenderal Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, kompak mengatakan pada Rabu (05/08) bahwa mereka dan pejabat-pejabat lainnya sudah memperingatkan pengadilan mengenai bahaya yang ditimbulkan penyimpanan amonium nitrat dan pentingnya untuk memusnahkan kargo itu.

Sejumlah dokumen yang beredar di internet tampak memperlihatkan bahwa para pejabat bea cukai mengirim surat-surat kepada pengadilan untuk meminta arahan setidaknya sebanyak enam kali dari 2014 sampai 2017.

Koraytem mengatakan kepada stasiun televisi lokal OTV bahwa Keamanan Negara juga telah mengirimkan surat-surat peringatan.

Menteri Pekerjaan Umum, Michel Najjar, yang menjabat sejak awal tahun, mengaku kepada Al Jazeera bahwa dirinya baru mengetahui keberadaan amonium nitrat pada akhir Juli dan dia sudah berbincang dengan Koraytem mengenai perihal itu pada Senin (03/08).

Sebuah kebakaran tampaknya memicu ledakan amonium nitrat pada hari berikutnya. Ledakan itu menewaskan setidaknya 137 orang dan mencederai 5.000 lainnya, sementara puluhan orang masih hilang.

beirut

Para pejabat pelabuhan mengatakan mereka telah meminta amonium nitrat dimusnahkan sebelum terjadinya ledakan pada 4 Agustus 2020. (Reuters)

Presiden Aoun berjanji menggelar penyelidikan atas insiden ledakan di Beirut secara transparan.

"Dengan tekad bulat kami akan menggelar investigasi dan mengungkap keadaan seputar yang terjadi secepat mungkin serta menangkap siapapun yang bertanggung jawab dan siapapun yang lalai dan menjatuhkan mereka dengan hukuman paling berat," kata Aoun pada Rabu (07/08) setelah berkunjung ke pelabuhan yang porak-poranda.

Pemerintah Lebanon telah memerintahkan agar para pejabat di pelabuhan yang bertugas mengawasi penyimpanan amonium nitrat ditahan di rumah masing-masing sampai penyelidikan tuntas.

(ita/ita)