Kemoterapi Bagi Pasien Kanker dengan Corona Tak Mengandung Risiko Kematian

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 14:55 WIB
Perawatan medis seperti kemoterapi nampaknya tidak meningkatkan resiko kematian akibat Covid-19 (Getty Images)
Jakarta -

Seorang pasien kemoterapi

Perawatan medis seperti kemoterapi nampaknya tidak meningkatkan resiko kematian akibat Covid-19 (Getty Images)

Sebuah studi mengatakan bahwa perawatan kemoterapi dan imunoterapi terhadap pasien-pasien kanker yang menderita Covid-19 tidak mengandung resiko kematian.

Studi tersebut juga merekomendasikan riset obat hidroksiklorokuin lebih lanjut, lantaran obat itu nampaknya menguntungkan beberapa pasien.

Hasil temuan studi tersebut, yang melibatkan 890 pasien penyakit kanker di Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman, dapat membantu mengidentifikasi siapa yang paling terdampak oleh virus corona.

Tingkat kematian pasien kanker payudara ternyata 50 persen lebih rendah dibanding pasien kanker lainnya.

Periset di Imperial College London, yang memimpin studi tersebut mengatakan kini mereka ingin mencari tahu penyebabnya. Studi itu melibatkan 19 rumah sakit berbeda di Eropa, termasuk Rumah Sakit Hammersmith di London.

Mereka juga ingin menyelidiki kenapa pasien kanker dari Inggris dengan Covid-19 yang terlibat dalam studi itu lebih mungkin meninggal dunia jika dibandingkan pasien-pasien kanker di tiga negara lainnya.

'Perawatan medis bagi pengidap kanker mungkin aman'

Dr David Pinato, dari departemen bedah dan kanker di Imperial College London dan pemimpin studi, mengatakan ia "khawatir" terhadap hasil studi dan meminta Inggris untuk "mengakui tingkat kematian."

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi akses pasien ke perawatan bagi penyakit kanker, dan dalam beberapa kasus, perawatan bagi mereka tertunda atau berhenti sepenuhnya karena alasan yang didukung oleh "bukti solid" yang sangat sedikit, katanya.

"Kini kita memiliki pemahaman yang lebih baik agar hal ini adil," kata Dr Pinato.

Perawatan seperti kemoterapi dan imunoterapi sepertinya tidak meningkatkan resiko kematian pasien karena Covid-19, ujarnya.

"Ini berarti, dalam banyak kasus, perawatan kanker mungkin aman dilakukan selama pandemi, tergantung pada situasi individiual pasien dan faktor-faktor resiko mereka."

Misteri kanker payudara

Dalam studi, satu dari tiga pasien kanker dengan Covid-19 meninggal dunia antara akhir Februari dan awal April.

Perawat dan pasien

Getty Images

Pasien pria, manula berusia di atas 65 tahun, dan pasien dengan kondisi kesehatan lainnya bernasib lebih buruk dari pasien kanker lainnya dengan Covid-19--faktor resiko yang sama bagi masyarakat secara umum.

Namun, perempuan pengidap kanker payudara sepertinya terlindungi, meski tidak sepenuhnya, di empat negara. Tingkat kematian mereka hanya 15%.

Di antara 890 pasien yang dipelajari, lebih dari setengahnya adalah pria, rata-rata berusia 68 tahun, dan 330 pasien kanker berada dalam stadium lanjut. Lebih dari 400 pasien memiliki penyakit lainnya:

  • 53% pasien mengikuti terapi, di mana 25% pasien mengikuti kemoterapi
  • 45% tidak mengikuti perawatan apapun

Sekitar 80% pasien terjangkit virus dari lingkungan mereka.

Menurut periset, temuan studi mereka dapat dimanfaatkan untuk mengetahui pasien kanker mana saja yang paling rentan dan harus dilindungi dari virus corona.

Mereka juga mengatakan bahwa uji klinis terhadap obat-obatan yang disebut bisa digunakan untuk Covid-19 bagi pasien kanker, seperti hidroksiklorokuin, perlu dilakukan dengan segera.

Obat malaria itu kontroversial setelah dua riset terhadapnya baru-baru ini ditarik. Dua studi tersebut mengatakan hidroksiklorokuin mungkin meningkatkan resiko kematian akibat Covid-19.

(ita/ita)