Putra Mahkota Arab Saudi Dituduh Terlibat Plot Pembunuhan di Kanada

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 08:36 WIB
Mohammed bin Salman dituduh mengirimkan pasukan ke Kanada untuk membunuh mantan pejabat Arab Saudi. Namun, rencana tersebut gagal. (Reuters)
Jakarta -

Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dituduh telah mengirim tentara bayaran ke Kanada untuk membunuh mantan pejabat intelijen Arab Saudi Saad al-Jabri. Namun rencana pembunuhan itu gagal.

Rencana pembunuhan yang gagal itu terjadi tak lama setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Turki, menurut tuduhan dokumen pengadilan yang diajukan di AS.

Jabri, seorang pejabat veteran Arab Saudi, melarikan diri dari negaranya tiga tahun lalu.

Dia berada di bawah perlindungan keamanan di Toronto, Kanada, setelahnya.

Plot tersebut diduga gagal setelah agen perbatasan Karana curiga terhadap tentara bayaran ketika mereka berusaha memasuki negara itu di Bandara Internasional Pearson Toronto, kata dokumen pengadilan.

Jabri yang berusia 61 tahun, selama bertahun-tahun merupakan perantara kunci untuk M16 Inggris dan agen mata-mata barat lainnya di Arab Saudi.

Apa isi dokumen pengadilan itu?

Dokumen setebal 106 halaman itu menuduh putra mahkota berusaha membunuh Jabri guna membungkamnya.

Jabri mengatakan ini karena dia mememiliki "informasi yang memberatkan" pemerintah Arab Saudi.

Dokumen tersebut mengatakan, informasi yang memberatkan itu antara lain dugaan korupsi dan pengawasan tim tentara bayaran pribadi berjuluk Pasukan Harimau.

Anggota Pasukan Harimau terlibat dalam pembunuhan jurnalis Khashoggi, yang meninggal dunia di dalam konsulat Arab Saudi di Instanbul, Turki, pada 2018.

"Beberapa informasi lebih sensitif, memalukan dan memberatkan tertuduh bin Salman tersimpan di pikiran dan ingatan Dr Saat - tapi juga rekaman yang disiapkan Dr Saad untuk mengantisipasi pembunuhannya," kata dokumen itu.

"Itulah mengapa tertuduh bin Salman menginginkan dia mati, dan mengapa terdakwa bin Salman telah berupaya untuk mencapai tujuan itu selama tiga tahun terakhir."

Setelah melarikan diri dari Arab Saudi menjelang pembersihan besar-besaran yang dilakukan putra mahkota pada 2017, Jabri melarikan diri ke Kanada melalui Turki.

Dia menuding Mohammed bin Salman melakukan upaya berulang kali untuk mengembalikannya ke Arab Saudi, bahkan mengirim pesan pribadi, termasuk yang berbunyi: "Kami pasti akan menjangkau Anda".

Kemudian, kurang dari dua minggu setelah pembunuhan Khashoggi, Jabri mengatakan Pasukan Harimau pergi ke Kanada dengan tujuan untuk membunuhnya.

Dokumen pengadilan mengatakan kelompok itu - termasuk seorang pria dari departemen yang sama dengan pria yang dituduh memutilasi Khashoggi - membawa dua tas alat forensik.

Namun, agen perbatasan Kanada "dengan cepat menjadi curiga" terhadap kelompok itu dan menolak mereka masuk setelah mewawancarai mereka, katanya.

"Bin Salman sebenarnya mengirim regu pembunuh ke Amerika Utara untuk membunuh Dr Saad," klaim itu menegaskan.

Jabri menuduh putra mahkota melakukan percobaan pembunuhan di luar hukum yang melanggar Undang-Undang Perlindungan Korban Penyiksaan AS dan melanggar hukum internasional.

Pemerintah Saudi tidak menanggapi permintaan komentar.

Menteri Keamanan Publik Federal Kanada Bill Blair mengatakan dia tidak dapat mengomentari kasus itu tetapi mengatakan pemerintah "mengetahui insiden di mana aktor asing berusaha memantau, mengintimidasi atau mengancam warga Kanada dan mereka yang tinggal di Kanada."

"Ini benar-benar tidak dapat diterima dan kami tidak akan pernah mentolerir aktor asing yang mengancam keamanan nasional Kanada atau keselamatan warga dan penduduk kami."

"Warga Kanada dapat yakin bahwa badan keamanan kami memiliki keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk mendeteksi, menyelidiki, dan menanggapi ancaman semacam itu," dia berkata.

"Kami akan selalu mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga warga Kanada dan mereka yang berada di Kanada tetap aman dan kami mengundang orang-orang untuk melaporkan ancaman semacam itu kepada otoritas penegak hukum."

Pada bulan Mei, BBC melaporkan bahwa anak-anak Jabri telah ditangkap sebagai "sandera", menurut putra tertuanya, Khalid.

Siapa Saad al-Jabri?

Selama bertahun-tahun dia adalah tangan kanan Pangeran Mohammed bin Nayef, yang secara luas dianggap berhasil mengalahkan pemberontakan al-Qaeda di tahun 2000-an.

Dia juga merupakan kunci utama dalam semua hubungan Arab Saudi dengan badan intelijen "Lima Mata" (AS, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru).

Seorang pria yang pendiam dengan gelar doktor bidang kecerdasan buatan dari Universitas Edinburgh, Jabri pernah memegang pangkat mayor jenderal di kementerian dalam negeri.

Mohammed bin Nayef (kanan) dan Mohammed bin Salman (kiri) pada 2015.

Mohammed bin Nayef (kanan) dan Mohammed bin Salman (kiri) pada 2015. (Getty Images)

Namun pada 2015 semuanya berubah. Raja Abdullah meninggal dan saudara tirinya Salman naik takhta, menunjuk putranya yang masih muda dan belum teruji, Mohammed bin Salman, yang dikenal sebagai MBS, sebagai menteri pertahanan.

Pada tahun 2017, Mohammed bin Salman merebut posisi pewaris takhta, yang sebelumnya dimiliki oleh Pangeran Mohammed bin Nayef. Dia kemudian menjadi putra mahkota Arab Saudi.

Pangeran yang digulingkan itu saat ini ditahan, asetnya telah disita dan mereka yang bekerja untuknya telah disingkirkan dari jabatan mereka. Jabri kemudian melarikan diri ke Kanada.

Tonton video 'CIA: Putra Mahkota Dalang Pembunuhan Khashoggi, Bagaimana Bisa?':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)