Kenangan Seorang Perempuan yang Selamat dari Bom Atom Hiroshima

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 13:36 WIB
Michiko (kanan) dulu bekerja di pabrik amunisi di Hiroshima ketika berusia 14 tahun (Sanae Hamada)
Tokyo -

Pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, Michiko ketiduran.

"Saya ingat pada saat itu saya berpikir, 'Saya bisa berangkat kerja tepat waktu jika saya naik kereta jadwal berikutnya, tapi saya mungkin masih bisa mengejar kereta jadwal saya biasanya jika saya lari ke stasiun," tulisnya, beberapa tahun kemudian ketika menuturkan kisahnya pada hari naas itu.

"Saya lari ke stasiun Yokogawa, dan saya naik kereta saya biasanya dengan tepat waktu."

Upaya Michiko untuk lari telah menyelamatkan nyawanya. Itu artinya dia aman berada di dalam tempat kerjanya, ketika kota tempat dia tinggal - Hiroshima - dihantam bom nuklir pertama yang pernah digunakan dalam perang.

"Jika saya ketinggalan kereta saya biasanya, saya akan mati di suatu tempat antara stasiun Yokogawa dan stasiun Hiroshima," tuturnya.

Short presentational grey lineBBC

Michiko Yoshitsuka, 14 tahun, adalah pelajar di sekolah khusus perempuan di jantung kota Hiroshima. Tapi ketika kota itu mendaftarkan anak-anak sekolah demi kepentingan perang, dia mulai bekerja di pabrik Toyo Kogyo, yang berjarak 8 kilometer dari pusat kota, membuat senjata untuk Tentara Kekaisaran Jepang.

Jika dia ketiduran hari itu, itu adalah karena kelelahan, bukan karena malas.

Dia menghabiskan waktu berjam-jam di pabrik.

Perang telah menyebabkan kurangnya pasokan makanan yang luas, dia pun mengalami kelaparan dan malam sebelumnya - seperti malam-malam sebelumnya - pesawat pembom AS terbang di atas Hiroshima, memicu sirene serangan udara.

Sirene yang nyaring berbunyi sekitar pukul tujuh pagi.

Tetapi tidak seorang pun di luar Proyek Manhattan - kelompok penelitian pemerintah AS yang mengembangkan bom atom - dapat meramalkan kehancuran yang akan datang.

Ground crew of the Enola Gay

Awak darat dan pilot Enola Gay yang menjatuhkan bom di Hiroshima (US Air Force)

Pesawat Enola Gay telah terbang dari pangkalan AS di Tinian, di Kepulauan Mariana, ke Hiroshima beberapa jam sebelumnya.

Pada pukul 8.15 pagi pesawat itu menjatuhkan bom yang oleh orang Amerika dijuluki "Little Boy", melenyapkan kota.

Diperkirakan 140.000 orang meninggal di Hiroshima, baik segera atau setelah beberapa bulan mendatang.

Michiko selamat, berkat Hijiyama, bukit tinggi antara pabriknya dan pusat kota.

Dalam kekacauan yang terjadi setelah ledakan bom, dia menuju Nakayamatoge, jalan setapak pegunungan menuju rumah kerabatnya di Gion.

Di jalan, dia melintasi ribuan orang meninggalkan kota yang hancur.

"Orang terluka di mana-mana. Saya melihat puluhan orang yang tubuhnya terbakar atau bernanah, yang bola matanya menyembul karena tekanan akibat ledakan, atau yang organ dalamnya menyembul dari tubuh dan mulut," tulisnya.

"Ketika saya berjalan, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan kaki saya dan memohon, 'Nona muda, bisakah Anda memberi saya air?' Saya menepis tangannya... dan berkata, "Maafkan saya, maafkan saya!" Saya dipenuhi rasa takut dan terus berjalan untuk melarikan diri."

Mushroom cloud over Hiroshima on 6 Aug 1945

Getty Images

Di Gion, Michiko merasa lega karena ibunya masih hidup. Namun tidak ada waktu untuk memulihkan diri.

"Selama 10 hari, ibu dan saya berjalan di sekitar Hiroshima, mencari kakak laki-laki saya, yang adalah seorang tentara. Kami kemudian menemukan... dia telah meninggal di pusat ledakan... Jenazah kakak saya tidak pernah ditemukan."

Dia mungkin selamat, tapi Michiko jatuh sakit segera setelah itu. Gejala yang dia alami menjadi familiar bagi para dokter yang masih hidup.

"Saya mulai munjukkan gejala penyakit radiasi... Saya mengalami pendarahan dari gusi dan hidung saya, saya mengalami diare parah, rambut saya rontok dan bintik-bintik ungu muncul di seluruh tubuh saya," tulisnya kemudian.

"Saya dimasukkan ke dalam isolasi di gudang milik kerabat teman dan saya antara hidup dan mati. Semua orang di sekitar saya mengira saya akan mati, tetapi secara ajaib, saya selamat."

Short presentational grey lineBBC

Pemboman Hiroshima dan Nagasaki tiga hari sesudahnya tidak serta merta mengakhiri Perang Dunia II.

Blokade laut AS, invasi Rusia yang akan segera terjadi dan Deklarasi Postdam yang disusun ulang - syarat untuk penyerahan diri Jepang - untuk memungkinkan berlanjutnya pemerintahan Kekaisaran juga menentukan.

Pada 15 Agustus, penyerahan diri Kaisar Hirohito disiarkan di seluruh negeri.

Ketika dia mengumumkan bahwa Jepang akan "menanggung beban berat", banyak warga Hiroshima yang terkejut, bukankah mereka sudah menanggungnya?

Dalam beberapa hari, pekan dan bulan kemudian, Hiroshima dengan penuh ketabahan perlahan pulih

Tiga hari setelah pemboman, kereta, trem dan bus beroperasi kembali.

Dua bulan setelah itu, sekolah dibuka kembali meski kegiatan belajar mengajar dilakukan di gedung yang setengahnya hancur dan kelas di ruangan terbuka.

Dan dengan semua bank di seluruh kota hancur, kecuali Bank Jepang - satu-satunya yang selama - mengundang pesaingnya untuk membuka kembali kantor cabangnya.

Hiroshima bangkit dari abu.

Michiko in her 20s

Michiko sebagai perempuan muda berusia 20-an (Sanae Hamada)

Michiko juga membangun kembali hidupnya.

"Pada 1948, ketika berusia 18 tahun, saya menikah. Pada April 1949, saya melahirkan bayi perempuan. Namun dia meninggal dua pekan kemudian. Saya percaya kematian bayi saya karena efek samping bom atom."

Dia melahirkan dua anak yang sehat, namun segera mendapat masalah lain. Suaminya kerap menghilang untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya, membawa serta penghasilan Michiko bersamanya.

Karena kelelahan akibat penyakit radiasi, frustrasi dengan perselingkuhan suaminya dan keinginan untuk bebas dari situasinya, Michiko sering menitipkan anak-anaknya ke kerabatnya. Ketika mereka kembali, dia akan melampiaskan rasa frustrasinya pada putrinya, Sanae.

"Pada tahun 1964, ibu saya meninggal karena kanker. Dalam keluarga saya, saya ditinggalkan sendirian. Ibu saya telah menerima tunjangan kehilangan akibat perang. Pemerintah Jepang menariknya setelah kematian ibu saya."

Ketika Michiko akhirnya menghadapi suaminya, dia mengaku berselingkuh dan meninggalkannya untuk kekasihnya. Tanpa dukungan keuangan dari suaminya atau negara, Michiko berjuang keras.

Namun dia mendapatkan pekerjaan sebagai pendamping tamu di sebuah restoran tradisional Jepang; setiap malam, dia mengenakan kimononya dan melayani pelanggan hingga larut malam.

Setiap tahun, pada 6 Agustus, Hiroshima mengadakan Upacara Peringatan Perdamaian, dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Bunda Theresa, Fidel Castro dan Mikhail Gorbachev.

Tetapi Michiko tidak dapat mendamaikan pidato perdamaian dengan apa yang dia alami pada saat itu dan tidak pernah menghadiri upacara pagi.

Painting of the Hiroshima peace memorial by Kaori, Michiko's granddaughter

Cucu Michiko melukis pemandangan lentera yang melayang melewati tugu peringatan perdamaian Hiroshima (BBC)

Dia akan hadir di sana pada malam hari untuk menyaksikan lentera mengambang, yang melambangkan jiwa mereka yang meninggal, dilepaskan ke Sungai Motoyasu.

Ketika Sanae memiliki anak - perempuan dan laki-laki - hubungannya yang renggang dengan putrinya berangsur-angsur sembuh.

Selama Obon, liburan bulan Agustus ketika keluarga menghormati arwah nenek moyang mereka, dia akan mengunjungi keluarga Sanae. Bersama-sama mereka akan menonton drama TV tentang bom atom. Michiko menganggap drama TV itu tidak meyakinkan.

"Anna mono janai!" - "Bukan seperti itu!" - keluarganya ingat ucapannya.

Selama sebagian besar hidupnya, Michiko tidak banyak berbicara tentang pengalamannya pada tahun 1945.

Tetapi menjelang peringatan 50 tahun pemboman, pada tahun 1995, dokter Michiko menyarankan agar dia menulis sendiri tentang kejadian-kejadian tersebut, untuk membantunya menemukan jalan keluar.

Awalnya Michiko enggan, tapi akhirnya dia setuju; dia takut jika tidak, ingatannya akan hilang selamanya.

Pada saat itu, Hiroshima adalah kota modern yang berkembang pesat dengan jalan raya yang lebar, toko-toko mewah, dan sedikit peninggalan masa lalu yang tragis.

Michiko tinggal di sebuah flat di dekat pusat kota ketika dia dipindahkan ke Hesaka, pinggiran timur.

Apartemen barunya berada di dekat Nakayamatoge, jalur pegunungan yang dia lintasi pada hari pemboman.

Sosok yang mencengkeram pergelangan kakinya kembali menghantuinya.

"Saya tidak akan pernah bisa menghapus suara orang tersebut dari kenangan saya," ujarnya.

Ketika saya pindah ke Hiroshima, saya hanya tahu sedikit tentang sejarah tersebut. Namun, saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Kaori, yang menuturkan kisah Michiko, cucunya. Beberapa tahun kemudian, sebagai suami dan istri, kami menerjemahkan tulisan Michiko - tergerak oleh kisahnya yang sedih dan kegigihan untuk bertahan.

Istri saya ingat Michiko mengalami depresi di tahun-tahun berikutnya.

Sebagai perempuan yang berpikiran kuat dalam masyarakat yang menghargai tatemae (sanjungan) daripada honne (kejujuran), dia selalu berjuang untuk mencari teman.

Tapi sekarang dia merasa benar-benar terisolasi. Kemudian, karena menderita demensia, dia pindah ke panti jompo. Michiko meninggal pada Januari 2012.

Catatan tertulisnya sekarang telah ditempatkan di Peace Memorial Hall di Hiroshima - kenangan seorang perempuan tentang hari yang mengubah sejarah dan mengubah jalan hidupnya sendiri selamanya.

Karya terakhirnya mengisyaratkan kemampuan manusia untuk mengatasi kesulitan dan membangun kehidupan kembali.

"Sekarang, pada peringatan 50 tahun bom atom, saya merasakan kembali betapa berharganya hidup."

(ita/ita)