Apa yang Bisa Dipelajari dari 'Gelombang Ketiga' Corona di Hong Kong?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 31 Jul 2020 15:39 WIB
Hong Kong mencapai puncak kasus Covid-19, yakni sebanyak 149, pada hari Kamis. (Reuters)
Jakarta -

Hong Kong sempat dianggap sebagai panutan dalam penanganan pandemi Covid-19. Namun, 'gelombang ketiga' kasus Covid-19 melanda wilayah itu.

Meskipun berbagi perbatasan dengan China daratan, tempat kasus Covid-19 pertama dilaporkan, jumlah penularan virus corona di Hong Kong rendah dan kawasan itu mampu menghindari kebijakan karantina wilayah ekstrem, yang diperkenalkan di beberapa bagian China, Eropa, dan AS.

Tapi sekarang, bukan hanya gelombang kedua, Hong Kong menghadapi gelombang ketiga penularan Covid-19.

Pemerintah telah memperingatkan sistem rumah sakit bisa kolaps. Hong Kong juga baru saja mencatat jumlah infeksi baru dalam sehari.

Apa yang salah, dan pelajaran apa yang bisa dipetik oleh negara-negara yang tengah menghadapi pandemi dan penurunan ekonomi akibat karantina wilayah?

Pengecualian karantina dan adanya 'celah'

Hong Kong mencatat kasus Covid-19 pertamanya pada akhir Januari, yang menyebabkan kekhawatiran yang meluas dan panic buying. Tetapi jumlah infeksi tetap relatif rendah dan penyebaran virus dapat dikendalikan dengan cukup cepat.

Hong Kong mengalami apa yang kemudian dikenal sebagai "gelombang kedua" pada bulan Maret, setelah mahasiswa dan penduduk dari luar negeri mulai kembali ke wilayah itu, yang menyebabkan lonjakan infeksi impor.

Akibatnya, Hong Kong menerapkan kontrol perbatasan yang ketat, melarang semua warga negara asing memasuki perbatasannya, dan semua orang yang kembali dari luar negeri diharuskan menjalani tes Covid-19 dan karantina 14 hari.

Bahkan, orang-orang yang baru datang diminta mengenakan gelang elektronik untuk memastikan mereka tinggal di rumah.

Kebijakan itu, ditambah dengan penggunaan masker yang masif dan penerapan pembatasan jarak sosial berhasil. Selama berminggu-minggu, tak ada penularan kasus secara lokal di Hong Kong, dan kehidupan tampaknya kembali normal.

hong kongEPASeorang warga Hong Kong berjalan dengan mengenakan penutup transparan pada wajahnya (face shield), Rabu (29/07).

Lantas, bagaimana "gelombang ketiga" - dengan lebih dari 100 kasus baru selama sembilan hari berturut-turut - terjadi?

"Ini cukup mengecewakan dan membuat frustrasi karena Hong Kong benar-benar mengendalikan banyak hal," kata Malik Peiris, Ketua Virologi di Universitas Hong Kong.

Dia percaya ada dua kelemahan dalam sistem yang diterapkan.

Pertama, banyak orang yang kembali dari luar negeri memilih untuk karantina selama 14 hari di rumah - pengaturan yang umum di banyak negara termasuk Inggris - alih-alih di kamp karantina.

"Ada kelemahan dalam sistem itu karena orang lain di rumah tidak dibatasi pergerakannya, dan masih akan masuk dan keluar rumah," kata Prof Peiris.

Namun, ia percaya masalah yang lebih serius muncul ketika pemerintah mengecualikan beberapa kelompok orang dari pengujian dan karantina saat mereka memasuki Hong Kong.

Hong Kong telah mengecualikan sekitar 200.000 orang, termasuk pelaut, awak pesawat, dan eksekutif perusahaan yang terdaftar di bursa saham, dari karantina.

Pengecualian disebut dilakukan untuk memastikan operasi normal sehari-hari berlanjut di Hong Kong, dan karena perjalanan mereka dianggap diperlukan untuk pembangunan ekonomi kota.

Sebagai kota internasional dan pelabuhan dagang, Hong Kong memiliki banyak jalur udara, dan banyak pesawat berganti awak di sana.

Wilayah ini juga bergantung pada impor dari China daratan dan dari wilayah lain untuk mendapat makanan dan barang-barang penting.

hong kongReutersSejumlah pengunjung mal di Hong Kong menyantap makanan yang baru mereka beli setelah makan di restoran dilarang pemerintah setempat, Kamis (30/07).

Joseph Tsang, seorang spesialis penyakit menular dan dokter, menggambarkan pengecualian itu sebagai "celah" yang signifikan yang meningkatkan risiko infeksi, terutama dari pelaut dan kru penerbangan yang juga mengunjungi tempat-tempat wisata dan menggunakan transportasi umum.

Pemerintah awalnya mengatakan bahwa pengecualian karantina tidak bisa disalahkan, tetapi kemudian mengakui ada bukti bahwa kebijakan itu menyebabkan gelombang infeksi terbaru.

Mereka sekarang telah memperketat aturan untuk kru udara dan laut - tetapi mungkin sulit untuk menegakkannya.

Ada peringatan awal pekan ini setelah seorang pilot asing dilaporkan melihat jalan-jalan sambil menunggu hasil tes Covid-19.

Menyeimbangkan urusan kesehatan masyarakat, masalah praktis dan ekonomi bisa jadi sulit.

Serikat pekerja yang mewakili pilot di FedEx telah meminta perusahaan itu untuk menghentikan penerbangan ke Hong Kong karena langkah-langkah pencegahan Covid-19 yang lebih ketat, termasuk kewajiban dirawat di rumah sakit wajib bagi pilot yang dites positif, telah menciptakan "kondisi yang tidak dapat diterima oleh pilot".

hong kongEPAAturan jaga jarak di Hong Kong dilonggarkan.

Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi di Universitas Hong Kong, mengatakan pengalaman Hong Kong dengan masalah karantina juga bisa terjadi di negara lain.

"Di Inggris, Anda juga memiliki aturan karantina selama 14 hari di rumah, sehingga Anda memiliki potensi masalah yang sama terkait dengan kebocoran."

Sementara itu, Selandia Baru dan Australia memiliki kebijakan karantina hotel wajib, yang merupakan "konsep yang baik ... meskipun ada masalah terkait siapa yang membayarnya", tambahnya.

Seperti Hong Kong, Inggris juga membebaskan penumpang tertentu dari aturan kontrol perbatasan, termasuk pengemudi kendaraan barang, pelaut, dan awak pesawat.

Aturan jaga jarak sosial dicabut

Pengecualian karantina Hong Kong telah diterapkan selama berbulan-bulan, tetapi gelombang ketiga tidak terjadi sampai Juli.

Prof Peiris percaya ini adalah karena faktor penting kedua - yakni aturan jarak sosial yang dikendurkan secara signifikan pada bulan Juni.

"Selama langkah-langkah menjaga jarak sosial diterapkan, sistem yang ada dapat mengatasinya - tetapi begitu langkah-langkah jaga jarak direlaksasi" infeksi impor menyebar dengan cepat, katanya. "Ini pelajaran untuk semua orang."

A staff member wearing a face mask following the coronavirus disease (Covid-19) outbreak hands takeaway food to a customer outside a restaurant in Hong Kong, ChinaReutersPemerintah melarang lebih dari dua orang berkumpul dan melarang restoran melayani makan di tempat.

Dr Tsang mengatakan bahwa pada akhir Juni, pemerintah mengizinkan pertemuan publik hingga 50 orang, sementara ada perayaan untuk Hari Ayah dan peringatan penyerahan Hong Kong dari Inggris ke China.

"Banyak warga yang lelah setelah berbulan-bulan diharuskan menjaga jarak sosial, jadi ketika pemerintah mengatakan hal-hal tampak sudah membaik dan aturan jaga jarak direlaksasi, mereka mulai bertemu dengan teman dan keluarga.

"Saya pikir ini sangat disayangkan - banyak faktor-faktor yang terjadi pada saat yang sama."

Namun, Prof Peiris menekankan warga Hong Kong "sangat patuh" dengan langkah-langkah menjaga jarak dan kebersihan selama gelombang pertama dan kedua - "bahkan, mereka selangkah lebih maju dari instruksi pemerintah dengan mengenakan masker sebelum diwajibkan. "

Dia percaya penerapan kembali aturan jaga jarak sosial sekarang sudah berpengaruh, dan berharap Hong Kong akan kembali menekan penularan lokal hingga mencapai nol kasus dalam waktu empat hingga enam minggu.

Pada titik itu, ia menambahkan, tantangannya adalah untuk menghentikan infeksi dari luar negeri- terutama setelah langkah-langkah sosial jarak dicabut.

Ini adalah tantangan yang juga akan dihadapi negara-negara lain setelah mereka berhasil menekan penularan virus di dalam perbatasan mereka, karena "ketika Anda mencapai tingkat penularan yang rendah di dalam populasi Anda, kedatangan dari luar negeri yang tidak diatur dapat menyebabkan bencana."

(ita/ita)