Sosok Sarah Gilbert, Ilmuwan yang Pimpin Tim Vaksin Corona di Oxford

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 18:12 WIB
University of Oxford, John CairnsProfesor Gilbert dan timnya berharap vaksin akan segera tersedia.
Jakarta -

"Kami harus bekerja dengan sangat, sangat, cepat," kata Profesor Sarah Gilbert kepada BBC.

Ilmuwan dari Universitas Oxford itu tahu dia berkejaran dengan waktu.

Dia tengah mencoba mengembangkan vaksin untuk menghentikan virus corona, yang sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 15 juta orang dan menyebabkan lebih dari 630.000 kematian.

Tetapi dengan 300 anggota tim di Universitas Oxford, mereka telah berhasil "melewati banyak tahapan dalam pengembangan vaksin, yang biasanya akan memakan waktu sekitar lima tahun".

"Dan kami sudah melakukannya dalam empat bulan," kata sang ahli vaksin.

Hasil pertamanya menggembirakan: uji coba pada manusia menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan bahwa vaksin dapat bekerja dengan aman dan memicu respons kekebalan terhadap virus.

Meskipun hal itu tidak dapat menjamin vaksin akan siap digunakan sebelum akhir tahun, ada harapan bahwa kita sudah lebih dekat untuk memperoleh vaksin.

Dengan 22 vaksin potensial lainnya dalam tahapan uji klinis dan sekitar 100 vaksin lainnya pada tahap awal penelitian, tim Oxford juga menghadapi persaingan ketat.

Siapa Sarah Gilbert?

Prof Sarah Gilbert at Oxford UniversityUniversity of Oxford, John CairnsGilbert adalah ahli vaksin Institute Jenner Universitas Oxford.

Profesor Gilbert memimpin perlombaan untuk mengembangkan vaksin virus corona.

Timnya di Universitas Oxford - yang bermitra dengan perusahaan farmasi multinasional Inggris-Swedia, AstraZeneca - telah melakukan uji coba terhadap 1.077 orang.

Ketika berita tentang kesuksesan pertama mereka menyebar- yakni saat sukarelawan uji coba menunjukkan respons kekebalan yang kuat dengan memproduksi antibodi dan sel-T yang dapat melawan virus corona -, ia menjadi selebritas sains dalam waktu semalam.

Meskipun terlalu dini untuk mengetahui apakah hal itu cukup untuk menawarkan perlindungan, temuan ini sangat menjanjikan dan uji coba yang lebih besar sedang berlangsung.

Nama Prof Gilbert tercantum di seluruh media, dan dia dibanjiri permintaan wawancara.

Tetapi, seperti banyak rekan-rekannya, dia terbiasa melakukan pekerjaannya secara anonim- dan kebanyakan jauh dari kamera.

Dia terkenal di antara koleganya, sebagai salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

Ia telah menghabiskan lebih dari dua dekade di laboratorium untuk melakukan penelitian, memproduksi vaksin, dan mendapatkan dana untuk proyek-proyek masa depan.

Ilmuwan muda

Female scientist examining a sample on the microscopeGetty ImagesAda ruang untuk ilmuwan perempuan di bidang sains.

Profesor Gilbert mengatakan dia selalu tahu dia ingin bekerja dalam dunia penelitian medis, tetapi ketika dia berusia 17, dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Langkah pertamanya adalah mendapatkan gelar dalam bidang biologi dari University of East Anglia, diikuti oleh gelar PhD pada bidang biokimia.

Setelah itu, dia melakukan penelitian pasca-doktoral di industri bioteknologi, di mana dia belajar tentang pembuatan obat.

Pada tahun 1994, Prof Gilbert telah mendapatkan posisi senior di Universitas Oxford, di mana dia bekerja di bidang genetika, inang-parasit, dan malaria.

Penelitiannya mengarahkannya pada bidang pengembangan vaksin.

Seorang ibu

Scientist with full protection gear examining a sampleReutersMenyeimbangkan pekerjaan dan keluarga adalah hal yang rumit.

Prof Gilbert melahirkan anak kembar tiga pada 1998, dan setahun kemudian menjadi dosen.

"Sangat sulit untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi," katanya, "Sepertinya tidak mungkin ketika Anda tidak mendapat dukungan. Saya punya tiga anak. Biaya penitipan anak lebih besar dari gaji saya."

Pasangannya memutuskan untuk menunda kariernya dan merawat anak-anak, tetapi dia mengatakan hal itu sulit pada saat itu.

"Saya hanya mendapat cuti hamil selama 18 minggu. Saya memiliki tiga bayi prematur untuk dirawat, itu sangat menegangkan," kata ilmuwan itu.

Tetapi Prof Gilbert mengatakan bahwa salah satu hal terbaik ketika menjadi seorang ilmuwan adalah dirinya tidak selalu harus bekerja berjam-jam, meskipun ada kalanya kerumitan terjadi.

Pada 2004, dia adalah seorang reader (gelar untuk dosen senior di universitas), dan tiga tahun kemudian dia mulai mengerjakan proyek vaksin flu dari badan amal penelitian Wellcome Trust yang berbasis di London,

Badan itu memberinya dana untuk memimpin kelompok penelitiannya sendiri.

Bantuan keluarga

Biologist with nucleic acids isolated from human samples to be tested for infection with the Covid-19 coronavirus.Science Photo LibraryLaboratorium di Rusia yang tengah menguji vaksin virus corona: Sejauh ini ada 22 vaksin potensial yang masuk tahap uji coba klinis.

Saat anaknya yang kembar tiga tumbuh dewasa, dia mengatakan segalanya menjadi sedikit lebih mudah.

"Meskipun sekarang saya adalah kepala laboratorium, saya telah melihat sisi lain," tambahnya.

Anak-anak Prof Gilbert sekarang berusia 21 tahun.

Mereka semua belajar untuk menjadi ahli biokimia, sama seperti ibu mereka.

Bahkan, mereka sangat tertarik pada pekerjaan Gilbert menemukan vaksin melawan Covid-19, sehingga mereka bertiga memutuskan untuk menjadi sukarelawan untuk uji coba vaksin Oxford.

"Kami harus mengimunisasi orang sehat antara usia 18 dan 55," kata Prof Gilbert kepada BBC.

Dia berharap mendapatkan "kumpulan sukarelawan" yang berkualitas, jadi dia pasti senang dengan bantuan ekstra dari keluarganya.

Dia juga mengatakan dia tidak khawatir: "Kami telah menggunakan jenis vaksin ini berkali-kali sebelumnya, jadi kami tidak mengharapkan kejutan apa pun."

Saat ini, hal yang paling penting, katanya, adalah "berkonsentrasi pada uji klinis dan mempercepat produksi" sebanyak mungkin untuk menghentikan penyebaran pandemi.

(ita/ita)