Sengketa Bendungan Sungai Nil Antara Ethiopia, Mesir dan Sudan

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 17:01 WIB
Proyek ini menjadi sumber ketegangan diplomatik sejak pembangunannya dimulai di Ethiopia pada tahun 2011. (EPA/MAXAR TECHNOLOGIES)
Jakarta -

Target di tahun pertama untuk mengisi bendungan raksasa yang kontroversial di Sungai Nil sudah tercapai, kata Ethiopia.

Dengan ini rangkaian turbin pertama sudah bisa diuji coba.

Perdana Menteri Abiy Ahmed mengumumkan hal ini saat tiga negara Ethiopia, Mesir dan Sudan setuju untuk meneruskan perundingan terkait bendungan tersebut, sesudah diselenggarakannya pertemuan tingkat tinggi daring antar ketiga negara.

Proyek ini menjadi sumber ketegangan diplomatik sejak pembangunannya dimulai di Ethiopia pada tahun 2011.

Ethiopia memandang proyek pembangkit listrik ini sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi mereka dan sumber energi yang vital.

Namun Mesir dan Sudan, yang berada di hilir, mengkhawatirkan bendungan senilai US$4miliar itu akan mengurangi akses mereka terhadap air.

Bertahun-tahun negosiasi yang alot tetap gagal membawa pada kesepakatan mengenai bagaimana dan kapan mengisi bendungan, dan berapa banyak air yang akan dilepaskan oleh bendungan tersebut.

Saat beroperasi, bendungan yang diberi nama Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) akan menghasilkan 6.000 megawatt listrik, membuatnya menjadi bendungan penghasil tenaga listrik terbesar di Afrika. Bendungan ini akan menyediakan listrik bagi 65 juta warga Ethiopia yang kini mengalami kesulitan listrik secara reguler.

Apa kata Perdana Menteri Ethiopia?

"Terbukti dalam dua minggu terakhir di musim hujan bahwa pengisian GERD di tahun pertama telah tercapai dan bendungan yang sedang dalam pengerjaan sudah terpenuhi, kata PM Abiy.

Menteri pengairan Ethiopia Seleshi Bekele mengatakan hal ini akan memungkinkan dilakukannya pengetesan rangkaian turbin di bendungan.

Pernyataan ini tidak menyediakan angka-angka seputar jumlah air yang kini ada di bendungan. Namun sebelumnya Ethiopia menyebutkan target 4,9 milyar meter kubik air, yang akan mencapai ketinggian pada titik terendah dinding bendungan tersebut.

Ethiopia mengatakan akan mengisi bendungan itu bulan Juli, sementara Mesir memperingatkan agar menundanya sementara perundungan berlanjut.

Masih belum jelas apakah Ethiopia telah mempercepat proses pengisian bendungan, atau apakah bendungan itu terisi oleh air hujan.

Sudan sebelumnya mengatakan telah memperhatikan adanya penurunan aliran air Sungai Nil di wilayah mereka.

Ethiopia dam mapBBC

Apa yang terjadi dengan perundingan?

Kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan tercapai dalam pertemuan Uni Afrika (AU) yang dipimpin oleh Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa.

Ini terjadi sesudah pertemuan sebelumnya, yang dimediasi oleh AU, gagal menghasilkan kesepakatan antara tiga negara.

Awal tahun ini, Amerika Serikat juga berupaya mengantarai perundingan dan gagal.

Dalam pernyataannya, kantor kepresidenan Mesir mengatakan perundingan mengenai hal ini akan berfokus pada "mengembangkan kesepakatan hukum yang mengikat untuk mengisi dan mengoperasikan bendungan tersebut.

(ita/ita)