Vaksin Corona yang Dikembangkan Universitas Oxford Terbukti Aman

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 08:30 WIB
Jakarta -

Vaksin virus corona yang dikembangkan Universitas Oxford terbukti aman dan dapat membentuk kekebalan, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, kata wartawan kesehatan dan sains BBC James Gallagher.

Uji klinis melibatkan 1.077 orang menunjukkan injeksi vaksin menyebabkan pembentukan antibodi dan sel T yang dapat memerangi virus.

Temuan ini sangat menjanjikan, namun masih terlalu awal untuk diketahui apakah vaksin ini dapat memberikan perlindungan cukup. Uji klinis dalam jumlah lebih besar tengah dilakukan.

Inggris telah memesan 100 juta dosis vaksin ini.

Tim Oxford juga telah melakukan uji coba di Afrika Selatan dan Brasil, dan ada juga rencana pengujian di Amerika Serikat.

Bagaimana cara kerja vaksin?

Vaksin yang disebut ChAdOx1 nCoV-19 dikembangkan secara sangat cepat.

Vaksin ini dibuat melalui rekayasa genetika virus yang menyebabkan pilek pada simpanse.

Vaksin ini direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi pada manusia.

Para ilmuwan mengembangkan vaksin ini "serupa" dengan virus corona dengan mengalihkan instruksi genetika "protein" virus corona, elemen penting untuk menyerang sel-sel manusia.

Dengan proses seperti ini, vaksin menyerupai virus corona dan sistem kekebalan tubuh dapat menyerang virus yang masuk.

Dimulai April lalu

Uji coba vaksin virus corona pada manusia dimulai di Oxford, saat itu yang pertama di Eropa, pada April lalu.

Kelompok pertama terdiri dari lebih 800 orang, setengahnya menerima vaksin Covid-19, dan separuhnya lagi vaksin lain yang melindungi dari penyakit meningitis dan bukan virus corona.

Rancangan uji coba ini berarti sukarelawan tidak akan tahu vaksin mana yang mereka dapatkan. Namun, dokter mengetahuinya

Elisa Granato, salah seorang sukarelawan yang menerima vaksin, mengatakan kepada BBC: "Saya seorang ilmuwan, jadi saya ingin berusaha mendukung proses ilmiah di mana pun saya bisa."

Elisa Granato menerima vaksin.

Elisa Granato menjadi salah satu relawan dalam uji coba vaksin Covid-19 di Inggris. (BBC)

Vaksin ini dikembangkan dalam waktu kurang dari tiga bulan oleh tim ilmuwan di Universitas Oxford. Sarah Gilbert, profesor vaksinologi di Jenner Institute, memimpin penelitian praklinisnya.

"Saya pribadi saya sangat percaya pada vaksin ini," katanya.

"Tentu saja, kita harus mengujinya dan mendapatkan data dari manusia. Kita harus menunjukkan ia benar-benar manjur dan mencegah orang terinfeksi virus corona sebelum digunakan pada populasi yang lebih luas."

Prof Gilbert sebelumnya mengatakan dia "percaya 80%" vaksin akan manjur, tetapi sekarang memilih tidak menyebutkan angka, dan hanya mengatakan ia "sangat optimistis" dengan peluangnya.

Jadi bagaimana cara kerja vaksin ini?

Vaksin ini dibuat dari versi lemah dari virus flu biasa (dikenal sebagai adenovirus) dari simpanse yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat berkembang biak pada manusia.

vaksin coronaBBC

Tim Oxford sebelumnya mengembangkan vaksin untuk melawan Mers, jenis lain virus corona, menggunakan pendekatan yang sama dan dengan hasil yang menjanjikan dalam uji klinis.

Wartawan BBC Fergus Walsh menggenggam sebotol vaksin.Koresponden kesehatan BBC, Fergus Walsh, memegang botol vial berisi vaksin yang dikembangkan oleh tim peneliti dari Oxford. (BBC)

Bagaimana mereka tahu kalau vaksinnya manjur?

Satu-satunya cara para peneliti mengetahui apakah vaksin Covid-19 manjur adalah membandingkan jumlah orang yang terinfeksi virus corona dalam kedua kelompok percobaan selama beberapa bulan ke depan.

Itu bisa menjadi masalah jika jumlah kasus turun dengan cepat di Inggris, karena bisa jadi tidak akan ada cukup data.

Profesor Andrew Pollard, direktur Kelompok Penelitian Vaksin Oxford, yang memimpin uji coba ini, mengatakan: "Kami mengejar akhir dari gelombang epidemi saat ini. Jika kami tidak bisa mengejarnya, kami tidak akan bisa memastikan apakah vaksin bekerja dalam beberapa bulan ke depan.

"Tapi kami memperkirakan akan ada lebih banyak kasus di masa depan karena virus ini belum hilang."

Para peneliti vaksin memprioritaskan perekrutan petugas layanan kesehatan dalam percobaan karena mereka lebih mungkin terkena virus daripada kelompok lain.

Uji coba yang lebih besar, dengan sekitar 5.000 sukarelawan, akan dimulai dalam beberapa bulan mendatang dan tidak memiliki batasan usia.

Orang yang lebih tua cenderung memiliki respons imun yang lebih lemah terhadap vaksin. Para peneliti sedang mengevaluasi apakah mereka membutuhkan dua dosis vaksin.

Tim Oxford juga mempertimbangkan uji coba vaksin di Afrika, mungkin di Kenya, tempat tingkat penularan tumbuh dari basis yang lebih rendah.

Jika jumlahnya bisa menjadi masalah, mengapa tidak sengaja menginfeksi sukarelawan dengan virus corona?

Itu akan menjadi cara yang cepat dan pasti untuk mengetahui keefektifan vaksin, namun secara etis dipertanyakan karena tidak ada perawatan yang sudah terbukti ampuh untuk Covid-19.

Tapi itu mungkin terjadi di masa depan. Prof Pollard mengatakan: "Jika kita mencapai titik saat kita punya semacam perawatan untuk penyakit ini dan kita bisa menjamin keselamatan sukarelawan, itu akan menjadi cara yang sangat baik untuk menguji vaksin."

Peneliti vaksin

Penelitian vaksin dimulai pada Januari. (Sean Elias - Oxford Vaccine trial)

Apakah vaksin ini aman?

Sukarelawan uji coba akan dimonitor dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang. Mereka telah diberi tahu bahwa beberapa orang mungkin mengalami sakit lengan, sakit kepala, atau demam dalam beberapa hari setelah vaksinasi.

Mereka juga diberi tahu bahwa secara teori ada risiko bahwa virus yang telah dilemahkan itu dapat memicu reaksi serius pertahanan tubuh terhadap virus corona, yang terjadi dalam beberapa penelitian awal vaksin Sars pada hewan.

Namun tim ilmuwan di Oxford mengatakan data yang ada menunjukkan risiko timbulnya penyakit parah karena vaksin sangat minim.

Para ilmuwan di sana berharap satu juta dosis bisa siap pada bulan September, dan secara dramatis meningkatkan produksi setelah itu, jika vaksin terbukti efektif.

Jadi siapa yang akan pertama kali mendapatkan vaksin ini?

Prof Gilbert mengatakan itu belum diputuskan: "Bukan peran kita untuk menentukan apa yang akan terjadi, kita hanya harus mencoba mendapatkan vaksin yang manjur dan memiliki cukup banyak dan kemudian orang lain yang akan memutuskan."

Prof Pollard menambahkan: "Kita harus memastikan bahwa kita memiliki dosis yang cukup bagi mereka yang sangat membutuhkan, tidak hanya di Inggris tetapi juga di negara-negara berkembang."

Tim lain di Imperial College London berharap untuk memulai uji coba manusia terhadap vaksin virus corona pada bulan Juni.

Tim Oxford dan Imperial telah menerima dana pemerintah sebesar lebih dari Pound 40 juta (sekitar Rp766 miliar).

Menteri Kesehatan Matt Hancock memuji kedua tim dan mengatakan Inggris akan "mengerahkan semua yang kami punya" untuk mengembangkan vaksin.

Kepala penasihat medis Inggris Prof Chris Whitty mengatakan vaksin, maupun obat Covid-19, kemungkinan tidak akan tersedia dalam setahun ke depan.

virus coronaBBC

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

PENCEGAHAN: Tips melindungi diri dan mencegah penyebaran virus corona

Laporan khusus BBC terkait Covid-19

Sudah pernah menyimak saluran YouTube BBC Indonesia? Silakan berlangganan

https://www.youtube.com/watch?v=UFSg66hbnTA&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=R_NXnQYSa_E&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=EJb082dBR1s&feature=youtu.be

Tonton video '9.000 Relawan Brasil Mulai Uji Coba Vaksin Corona dari China':

(ita/ita)