Pemred Vogue Jadi Korban Rasisme, Disuruh Masuk Kantor Lewat Pintu Barang

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 18 Jul 2020 15:18 WIB
Enninful ditunjuk menjadi pemimpin redaksi majalah mode Vogue Inggris sejak 2017. (Getty Images)
London -

Pemimpin redaksi majalah gaya hidup dan mode Vogue Inggris, Edward Enninful, menceritakan pengalaman rasial yang dialaminya yaitu diberitahu untuk "melewati pintu bongkar muat" oleh petugas keamanan ketika ia masuk ke kantor.

Enninful, yang telah menjadi pemimpin redaksi majalah mode sejak 2017 itu mengatakan, insiden itu terjadi ketika ia berjalan ke kantornya pada hari Rabu (15/07).

Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia mengatakan Conde Nast, yang memiliki Vogue Inggris, langsung "bergerak cepat" dengan memberhentikan penjaga keamanan itu.

Namun Enninful mengatakan "perubahan perlu terjadi sekarang".

Enninful yang dianugerahi OBE (the Order of the British Empire) untuk jasanya dalam keragaman di industri fashion, menulis di Twitter, "Hari ini saya mengalami tindakan rasial oleh seorang penjaga keamanan ketika memasuki tempat kerja saya."

"Ketika saya masuk, saya diperintahkan untuk menggunakan pintu bongkar muat."

"Hanya karena garis jadwal dan akhir pekan kita kembali normal, maka kita tidak bisa membiarkan dunia kembali seperti semula."

Dalam sebuah unggahan terpisah kepada satu juta pengikut Instagram-nya, Enninful mengatakan, "Tindakan rasial itu menunjukkan bahwa kadang-kadang tidak penting yang telah Anda capai dalam perjalanan hidup Anda: karena hal pertama yang akan dinilai oleh beberapa orang adalah warna kulit Anda."

[Gambas:Instagram]

Akibat tindakan rasial itu, penjaga keamanan yang dipekerjakan oleh kontraktor pihak ketiga langsung diberhentikan dan diselidiki oleh atasannya.

Awal bulan Juli, ketika menerima penghargaan industri untuk karyanya di majalah itu, Enninful mengatakan, "Akan sangat tidak jujur bagi saya untuk tidak menunjukkan bahwa saya orang kulit hitam pertama yang pernah memenangkan penghargaan ini - orang kulit hitam pertama dalam 40 tahun."

"Keragaman sedang terjadi dalam pengujian [di kantor] kami dan menuju halaman [majalah] kami. Tetapi bagaimana dengan di dalam tempat kerja kami?"

"Siapa yang kita pekerjakan? Siapa yang kita didik? Siapa yang kita promosikan? Bagaimana lingkungan kantor kita memperlakukan orang? Siapa yang diizinkan naik ke puncak?"

Ketika dia memegang kemudi Vogue Inggris tiga tahun lalu, Enninful mengatakan dia berharap untuk membuat majalah yang lebih beragam yang "terbuka dan ramah".

"Vogue-ku adalah tentang menjadi inklusif," katanya pada saat itu.

"Ini tentang keberagaman - menunjukkan wanita yang berbeda, bentuk tubuh yang berbeda, ras yang berbeda, kelas yang berbeda [dan] menangani masalah gender."

(nvc/nvc)