Kisah Pria Interseks di Thailand yang Punya Dua Alat Kelamin

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 13:34 WIB
Ek terlahir dengan alat kelamin laki-laki dan perempuan. (Rachaphon Riansiri/BBC Thai)
Jakarta -

"Seumur hidup saya, saya memakai identitas palsu. Jika mereka tahu siapa saya, mereka akan menghina dan mencemooh saya. Saya masih dihantui oleh situasi ini," kata Ek, bukan nama sebenarnya.

Ek terlahir dengan alat kelamin perempuan dan laki-laki yang tersembunyi secara fisik, dan ia diperlakukan sebagai perempuan sejak ia lahir.

Saat tumbuh dewasa, ia tidak sadar ia memiliki penis di dalam vaginanya.

Ia dibesarkan sebagai perempuan, sehingga ia memakai rok ke sekolah, tapi ia ingat saat itu ia tidak menyukai hal-hal yang dianggapnya "terlalu perempuan".

Ia kerap bermain dengan anak laki-laki lainnya, dan ingat kalau ia "berharap" bisa menjadi laki-laki.

Ek memulai perjalanan panjangnya untuk membuat masyarakat menghargai harapannya tersebut.

Diskualifikasi

Ek berdiri di depan kamera

Ek telah lama merasa dirinya laki-laki, namun masyarakat masih melihatnya sebagai perempuan. (Rachaphon Riansiri/BBC Thai)

Saat SMA, tubuhnya membesar dan ia memiliki fisik yang berotot.

Perubahan ini membuatnya berhadapan dengan pengalaman yang mengubah hidupnya.

Ia adalah calon atlet dan mencatatkan prestasi baik di lari cepat jarak pendek 100 meter, ia sangat cepat sampai-sampai ia menorehkan rekor sekolah.

Ia bersaing --sebagai perempuan-- di setiap turnamen di provinsi tempat tinggalnya dan ia hampir saja mewakili Thailand, ketika ia harus kehilangan kesempatan tersebut.

Seseorang komplain agar Ek membuktikan gendernya. Hasil tes menunjukkan ia memiliki kromosom pria, sehingga ia langsung didiskualifikasi dari kompetisi.

Kegirangan lantas berubah menjadi kesedihan.

Kebingungan

Ek sedang berjalan

Ek bergumul dengan identitas gendernya selama bertahun-tahun. (Rachaphon Riansiri/BBC Thai)

"Saya adalah perempuan seumur hidup saya, dan saya memiliki genital perempuan seperti perempuan lainnya," kata Ek.

"Siapa saya? Menjadi apa saya? Saya bingung dan malu. Saya lalu menarik diri."

Ia lalu diejek oleh teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya. Mereka memanggilnya "orang yang penisnya terbelah."

Pada saat ini, ia sadar bahwa ia terangsang secara seksual oleh teman perempuan yang ia suka.

Ia merasakan penisnya mengeras dan keluar dari vaginanya.

"Saya merasa takdir saya hancur. Saya bukan perempuan atau laki-laki. Saya tidak lagi tahu tempat saya di dunia ini. Saya menutup diri saya, bolos sekolah agar tidak diejek oleh teman-teman saya. Keluarga saya tahu ini tapi tidak berbuat apa-apa. Saya benar-benar hancur."

Hidup baru

Ek di kantor pencatatan penduduk

Ek mengganti atribusi resminya dari Ibu ke Bapak. (Rachaphon Riansiri/BBC Thai)

Ek memutuskan untuk pindah ke Bangkok dan memulai hidup baru. Ia mendapatkan pekerjaan, setelah melamar sebagai seorang perempuan.

Di Thailand, nama seseorang biasanya didahului dengan panggilan sesuai gendernya, seperti Tuan, Nona, atau Nyonya. Ini diakui secara resmi dan sangat susah diganti.

Namun, rekan-rekan kerjanya melihat Ek sebagai seorang laki-laki. Ketika mereka tahu bahwa ia melamar pekerjaan itu sebagai seorang perempuan, mereka menjauhkan diri darinya.

Kolega perempuan, yang sebelumnya genit, kini menghindarinya karena khawatir orang-orang akan bergosip bahwa mereka lesbian.

Ia mengalami isolasi dan pengawasan selama tiga bulan, sampai ia menemukan pekerjaan baru.

Namun, di sana ia masih menemukan masalah.

'Identitas palsu'

"Awalnya semuanya baik-baik saja, tapi mereka tahu masalah saya lagi dalam waktu beberapa minggu. Kali ini benar-benar buruk. Laki-laki menyudutkan saya untuk melihat atau meraba alat kelamin saya karena mereka penasaran. Saya sangat terpukul."

Pengalaman-pengalaman buruk ini menjadi tak tertahankan, sehingga Ek memilih untuk menyembunyikan gendernya dan melamar pekerjaan dengan identitas palsu.

Ia mengganti titel Nona menjadi Tuan. Untuk menghindari deteksi otoritas, ia berganti pekerjaan setiap tiga bulan sekali.

Ia melakukan ini selama beberapa tahun, sehingga ia punya banyak teman, salah satunya seorang perempuan yang ia gambarkan sebagai "cinta dalam hidup saya".

"Hidup saya memiliki arti baru begitu saya mengenalnya. Ia suportif dan selalu berada di samping saya. Meski saya berganti pekerjaan setiap tiga bulan sekali, ia tetap menerima saya."

Ek bisa menabung dan membuat toko kelontong kecil. Ia juga mendapat pemasukan tambahan dari bekerja sebagai tukang listrik. Hidup berjalan tanpa gangguan selama beberapa tahun.

Lalu pacarnya meninggalkan dirinya tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Krisis

Ek duduk di kantor catatan pendudukRachaphon Riansiri/BBC ThaiProses untuk mengganti atribusi gender secara legal panjang dan sulit.

"Saya tertegun. Kesalahan apa yang saya lakukan terhadapnya? Kenapa dia tiba-tiba meninggalkan saya? Saya mencoba melacaknya, tapi keluarganya mengatakan mereka tidak tahu keberadaannya. Saya telepon nomornya tapi tidak ada jawaban. Saya mencarinya selama seminggu. Tiba-tiba, saya sangat merasa, jika saya tidak bisa memiliki hidup layak, saya lebih baik mati."

Ia memutuskan untuk bunuh diri, tapi dalam percobaannya, ia tidak sengaja mengaktifkan alarm di sebuah ATM yang berada di dekatnya. Polisi pun datang ke lokasi.

Ia lalu ditahan dan dikenai tuntutan perampokan lantaran polisi tidak percaya alasan bunuh dirinya. Pengadilan mendapatinya bersalah dan mengirimnya ke penjara selama enam bulan.

Di penjara, ia menjalani pemeriksaan medis menyeluruh. Setelahnya, dokter dan petugas penjara berdiskusi panjang untuk menentukan gendernya.

Ia lalu dikirim ke penjara perempuan karena mereka khawatir soal keselamatannya di penjara pria.

"Mereka takut saya akan diperkosa karena saya punya vagina," kata Ek.

Kehidupan penjara

Meski demikian, hidupnya berjalan baik di penjara. Ia dimanjakan oleh teman perempuannya di sel. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia memiliki hidup yang baik.

"Hidup di penjara membahagiakan," kata Ek.

"Mereka ingin tahu saya, bicara dengan saya, mereka repot-repot untuk memuaskan saya. Saya belum pernah diperlakukan seperti itu dalam hidup saya."

Setelah masa hukumannya habis, ia mendapati dirinya dalam situasi yang sama sebelum masuk penjara.

Catatan kriminal menghambatnya ketika melamar pekerjaan, karena penahanannya diberitakan oleh media. Ia tidak tahu bahwa pers ternyata ada saat ia ditanyai polisi,

Ek memutuskan ia ingin kembali ke penjara, jadi ia memotong sejumlah kabel ATM. Ia lalu ditangkap dan dijatuhi hukuman dua tahun tiga bulan penjara.

"Kali ini mereka mengirim saya langsung ke penjara perempuan. Saya bertekad untuk tidak mau keluar penjara lagi, jadi saya melanggar setiap aturan penjara untuk memaksa mereka memenjara saya lagi dalam waktu lama."

Rencananya gagal dan ia lantas dibebaskan.

Jalan keluar

Ek memeluk seorang temanRachaphon Riansiri/BBC ThaiTeman masa kecil dibutuhkan agar Ek bisa mengganti atribusinya.

Di penjara, Ek menghadiri sebuah diskusi oleh sebuah organisasi nonpemerintah tentang masalah gender.

Di sana, ia mendengar kata "interseks" untuk pertama kalinya. Dengan bantuan dan saran mereka, ia mengetahui bahwa ia bisa melepaskan identitas perempuannya secara resmi dan diakui sebagai laki-laki.

Ek lalu bekerja sebagai petugas keamanan selama beberapa bulan. Ia berusaha untuk tidak menonjol karena tengah mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk mengganti titel perempuannya menjadi laki-laki.

Untuk melakukan ini, Ek membutuhkan sertifikat medis yang menunjukkan ia memiliki kromosom pria, selain penilaian kesehatan mental. Ia menghabiskan lima bulan untuk mendapatkan dokumen kesehatan yang dibutuhkan.

Akhirnya, hari yang dinantikan telah tiba.

Heboh

Pada 24 Juni pagi, ia memeriksa dokumennya berulang kali untuk memastikan tidak ada yang luput.

Ia lalu pergi ke sebuah kantor kecamatan di tempat kelahirannya, Udon Thani, untuk mendaftarkan perubahan titel gender resminya.

Ek, bertekad namun pasrah, takut impiannya selama ini akan hancur dalam sekejap.

Sayangnya, kekhawatirannya terbukti.

Petugas berwenang mengatakan ia tidak memiliki dokumen yang mengonfirmasi identitasnya. Selain itu, ia harus membawa orang tua atau temannya di masa kecil untuk memberi kesaksian.

Ek harus pulang dan mencoba lagi.

Pengakuan

Ek memegang dokumen dan kartu identitasnyaRachaphon Riansiri/BBC ThaiEk dengan dokumen resmi yang mengakui gendernya.

Keesokan harinya, ibunya --yang masih belum menerima gendernya-- dan teman dekat lamanya menemani Ek ke kantor kecamatan.

Petugas bercakap dengan pejabat berwenang di Bangkok lewat panggilan telepon yang cukup lama. Mereka berdiskusi soal bagaimana mereka mengurus permintaan yang tidak biasa tersebut.

Setelah menunggu sekian lama, permintaan pergantian atribusi Ek dikabulkan, namun tidak sebelum ia dipaksa menjalani pemeriksaan medis ulang untuk menentukan bahwa alat kelaminnya konsisten dengan kondisi interseks yang dijabarkan dalam sertifikat medisnya.

Ek lantas bisa mengubah namanya untuk mencerminkan maskulinitasnya.

"Saya sekarang bisa bebas dari penderitaan, saya sangat bahagia. Saya ingin berteriak dengan keras bahwa babak baru dalam hidup saya telah dimulai. Saya bisa membuang 'identitas palsu' saya dan tidak lagi dipandang sebagai orang yang aneh."

(ita/ita)