Berwarna Pelangi, Es Krim Rusia Jadi Sumber Perdebatan 'Propaganda Gay'

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 18:33 WIB
Produsen es krim di Rusia dituding mempromosikan homoseksualitas setelah membuat es krim berwarna pelangi. (Chistaya Liniya)
Moskow -

Seorang pembuat es krim di Rusia dituding mempromosikan homoseksualitas setelah membuat es krim berwarna pelangi, demikian halnya dengan warna pada kemasan es krim itu.

Kepala Persatuan Wanita Rusia, Yekaterina Lakhova, mengatakan gambar tersebut merupakan "propaganda" untuk hubungan gay dan lesbian.

Hal itu dia utarakan dalam konferensi video dengan Presiden Vladimir Putin.

"Mereka secara diam-diam mempromosikan warna pelangi yang indah ini, menggunakan kata-kata yang indah, mereka mengiklankan produk es krim bernama Pelangi," ujar Yekaterina Lakhova, yang juga mantan anggota parlemen.

Lakhova menambahkan, hal itu berpotensi membuat anak-anak Rusia lebih bisa menerima bendera pelangi yang digunakan oleh komunitas LGBTQ.

Di Rusia, homoseksualitas tidak lagi menjadi tindakan kriminal sejak 1993, namun demikian mereka yang dianggap mempromosikan "perilaku homoseksual di bawah umur" menghadapi ancaman denda hingga 500.000 rubel atau setara Rp 101 juta.

Lebih lanjut Lakhova mendesak Putin agar mempertahankan apa yang disebut oleh orang-orang konservatif di Rusia sebagai "nilai-nilai tradisional",

Itu termasuk definisi pernikahan sebagai persatuan antara seorang pria dan perempuan, yang akan diabadikan dalam Konstitusi Rusia, setelah pemungutan suara baru-baru ini - yang juga membuka jalan bagi Putin untuk memimpin Rusia dua masa jabatan lagi.

Dalam wawancara lanjutan, Lakhova mengatakan: "Saya tidak suka pelangi, sama seperti saya tidak suka swastika."

Gay rights activists march in Russia's second city of St Petersburg on 1 May 2013

Homoseksualitas bukan lagi kriminal di Rusia sejak 1993, tapi masih banyak sentimen anti-gay. (AFP)

'Propaganda' LGBT

Menanggapi pernyataan Lakhova, Presiden Putin mengatakan: "Jika ada alasan untuk percaya bahwa ini adalah propaganda untuk nilai-nilai yang tidak tradisional bagi kita, maka ... itu harus dikelola oleh masyarakat, tetapi tidak secara agresif."

Dia mengatakan dia tidak keberatan dengan homoseksualitas, tapi terhadap "propaganda" tentangnya.

Dalam pertemuan sama, Presiden Putin mengkritisi Kedutaan Amerika Serikat di Moskow yang memajang bendera pelangi baru-baru ini, mengatakan bahwa simbol itu mengatakan "sesuatu tentang mereka yang bekerja di sana".

President Putin at a news conference

Rossiya 24

Homofobia tersebar luas di Rusia dan, setelah bendera itu dipajang, aktivis konservatif menempatkan bendera serupa di trotoar di luar kedutaan AS agar orang yang lewat dapat menyeka kaki mereka di bendera itu.

Pihak berwenang di Rusia dituding mentolerir pelecehan anti-gay, dan ada tuduhan pembersihan yang sangat kejam di wilayah Kaukasus Utara Chechnya.

Pelangi 'bukan bendera'

Pembuat es krim yang terlibat dalam perdebatan tentang propaganda gay itu mengatakan, pelangi pada kemasannya tidak ada hubungannya dengan hak LGBT.

"Perusahaan kami menganjurkan hubungan keluarga tradisional, dan pasti tidak setuju dengan Lakhova. Kami percaya bahwa pelangi adalah sinar matahari setelah hujan, bukan bendera LGBT," kata Armen Beniaminov, yang adalah wakil presiden Chistaya Liniya.

"Sebagai kepala keluarga besar, saya secara terbuka memilih amandemen konstitusi secara khusus karena salah satu dari mereka membela nilai-nilai tradisional," katanya kepada kantor berita resmi RIA Novosti.

Klaim Lakhova bahwa es krim digunakan untuk mempromosikan homoseksualitas telah menyebabkan kegemparan di media Rusia.

Harian populer Moskovsky Komsomolets dengan sarkastik menyarankan bahwa pelangi sekarang harus dilarang muncul setelah hujan turun di Rusia, dan bahwa Kementerian Pertahanan dapat direkrut untuk melawan pelangi jahat apa pun.

"Kalau tidak, anak-anak akan melihat mereka!" surat kabar itu memperingatkan.

Seorang pengguna Twitter dengan bercanda menuntut agar penyebaran cahaya dilarang di Rusia karena "itu membuat sindiran homoseksual menjadi sinar matahari normal".

Wartawan Andrei Loshak mengambil pandangan yang jauh lebih serius tentang situasi ini, menuduh Putin mencoba menggunakan homofobia "sebagai alat populis yang efektif".

"Seseorang mengatakan kepadanya bahwa waktu telah berubah dan Rusia lebih menerima hak-hak gay," tulis Loshak di Facebook.

Jajak pendapat menunjukkan sikap yang meningkat terhadap hak-hak LGBT di Rusia.

Sebuah jajak pendapat pada tahun 2019 menunjukkan bahwa 47% orang Rusia mendukung hak yang sama untuk orang gay dan lesbian, dengan 43% yang lain menentangnya.

Laporan oleh Vitaly Shevchenko

(nvc/nvc)