Wabah Pes Muncul di China, Rusia Larang Warganya Berburu Marmot

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 15:35 WIB
Wabah pes pernah menjadi penyakit yang paling ditakuti, namun kini penyakit tersebut bisa diobati dengan mudah (Science Photo Library)
Moskow -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sedang "mengawasinya dengan cermat" kasus wabah pes yang terjadi di wilayah otonomi Mongolia, China, namun memastikan bahwa wabah itu "tidak berisiko tinggi".

Seorang gembala yang terjangkit penyakit pes tersebut kini dalam kondisi stabil di rumah sakit setelah dinyatakan terinfeksi bakteri pada akhir pekan.

Seorang juru bicara WHO mengatakan kasus itu "dikelola dengan baik".

Wabah pes dulu merupakan penyakit yang paling ditakuti di dunia, tetapi sekarang dapat dengan mudah diobati.

Apa yang dikatakan WHO?

Juru Bicara WHO, Margaret Harris mengatakan: "Wabah pes telah ada bersama kita dan selalu bersama kita, selama berabad-abad. Kami memantau kasus [yang terjadi] di China. Itu dikelola dengan baik.

"Saat ini, kami tidak menganggapnya berisiko tinggi, tetapi kami memantau, mengawasinya dengan cermat."

WHO mengatakan telah diberitahu pada hari Senin tentang kasus pes yang melibatkan seorang gembala, yang saat ini sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Bayannur.

Kantor berita Xinhua mengatakan Mongolia juga melaporkan dua kasus lain pekan lalu - dua bersaudara yang memakan daging marmot di provinsi Khovd.

Pejabat Rusia memberi peringatan kepada penduduknya di wilayah Altai untuk tidak berburu marmot, seiring informasi bahwa daging yang terinfeksi menjadi rute transmisi.

Marmot, 2018 file pic

Perburuan marmot dilarang di Mongolia, namun terus berlangsung meskipun ada larangan (Getty Images)

Akan tetapi, beberapa gembala di wilayah Altai yang terletak di pegunungan di Rusia secara tradisional memburu marmot dan memakan dagingnya, menentang larangan.

Kampanye informasi publik di distrik Kosh-Agach Altai dipimpin oleh badan kebersihan makanan Rusia Rospotrebnadzor.

Leaflet didistribusikan di komunitas-komunitas terpencil dan sebuah laboratorium bergerak untuk diagnosa cepat telah dikirim ke Tashanta, dekat perbatasan. Sebagian besar lalu lintas lintas batas - selain dari pengiriman makanan - sudah dilarang karena karantina wilayah selama pandemi.

Pemerintah di negara tetangga Tuva, wilayah pegunungan lain yang berbatasan dengan Mongolia, juga telah memperingatkan warga akan risiko wabah, dan mengatakan kepada mereka untuk tidak memburu marmot.

Apa itu wabah pes?

Wabah pes, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, bertanggung jawab atas salah satu epidemi paling mematikan dalam sejarah manusia - Wabah Hitam - yang menewaskan sekitar 50 juta orang di seluruh Afrika, Asia dan Eropa pada abad ke-14.

Sejak itu ada beberapa wabah besar yang menewaskan sekitar seperlima dari populasi London selama Wabah Besar 1665, sementara lebih dari 12 juta tewas dalam wabah selama abad ke-19 di China dan India.

Tetapi saat ini dapat diobati dengan antibiotik. Jika tidak diobati, penyakit ini - yang biasanya ditularkan dari hewan ke manusia oleh kutu - memiliki tingkat kematian 30-60%.

Gejala pes termasuk demam tinggi, kedinginan, mual, lemas dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau selangkangan.

map

BBC

Mungkinkah akan ada epidemi lain?

Kasus-kasus penyakit pes jarang terjadi, tetapi masih muncul beberapa kasus dari waktu ke waktu.

Madagaskar mencatat lebih dari 300 kasus selama wabah pes pada 2017. Namun, sebuah studi dalam jurnal medis The Lancet menemukan kurang dari 30 orang meninggal.

Pada Mei tahun lalu, dua orang di Mongolia meninggal setelah makan daging marmot mentah.

Namun, kecil kemungkinan ada kasus yang mengarah ke epidemi.

"Tidak seperti di abad ke-14, kita sekarang memiliki pemahaman tentang bagaimana penyakit ini ditularkan," Dr Shanti Kappagoda, seorang dokter penyakit menular di Stanford Health Care, mengatakan kepada situs berita Heathline.

"Kami tahu bagaimana cara mencegahnya."

(nvc/nvc)