FBI Sebut Operasi Spionase China Jadi Ancaman Terbesar AS

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 13:26 WIB
Direktur FBI, Christopher Fray (Reuters)
Washington DC -

Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI) mengatakan operasi spionase oleh China merupakan "ancaman terbesar" bagi Amerika Serikat (AS) dalam jangka panjang.

Direktur FBI Christopher Wray mengatakan, pemerintah China mendalangi operasi untuk mencuri rahasia dagang, dan mengancam tatanan hidup AS.

Dia menambahkan, FBI membongkar satu kasus kontra-intelijen baru yang melibatkan China setiap sepuluh jam.

"China terlibat dalam upaya [yang dilakukan seluruh] negara itu untuk menjadi satu-satunya negara adikuasa di dunia dengan segala cara yang diperlukan," ujarnya ketika berbicara di Institut Hudson di Washington, Selasa (07/07).

Dalam pidato selama hampir satu jam, Wray menguraikan gambaran yang jelas tentang campur tangan China, kampanye spionase ekonomi yang luas, pencurian data dan moneter serta kegiatan politik ilegal, menggunakan suap dan pemerasan untuk mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat.

"Kami sekarang sudah mencapai titik di mana FBI kini membuka kasus kontra-intelijen baru terkait China setiap 10 jam," kata Wray.

"Dari hampir 5.000 kasus kontra-intelijen aktif saat ini yang sedang berlangsung di seluruh negeri, hampir setengahnya terkait China," imbuhnya.

Direktur FBI tersebut mengatakan Presiden China Xi Jinping telah mempelopori program yang disebut "perburuan rubah", yang menargetkan warga negara China yang tinggal di luar negeri, yang dipandang sebagai ancaman bagi pemerintah China.

"Kita sedang berbicara tentang rival politik, pembangkang dan kritikus yang berusaha mengungkap pelanggaran HAM di China yang luas," ujarnya.

"Pemerintah China ingin memaksa mereka kembali ke China, dan taktik China untuk melakukan itu mengejutkan."

Dia melanjutkan: "Ketika mereka tidak bisa menemukan satu target perburuan rubah, pemerintah China mengirim utusan untuk mengunjungi keluarga target di sini di Amerika Serikat. Pesan yang mereka sampaikan? Target itu memiliki dua pilihan: kembali ke China segera, atau bunuh diri."

Washington kini melihat Beijing sebagai saingan dalam kepemimpinan global

Analysis oleh Zhaoyin Feng, BBC News China, Washington

Ini bukan kali pertama Direktur FBI Christopher Wray mengkategorikan China sebagai "ancaman intelijen utama" bagi AS, tetapi pada hari Selasa ia meningkatkan kritik dengan memfokuskan pada "upaya seluruh negara" Beijing untuk menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Ini jelas menandakan bahwa Washington sekarang melihat Beijing tidak hanya sebagai musuh yang agresif, tetapi juga pesaing ambisius dalam kepemimpinan global.

Sejak wabah COVID-19 terjadi di AS, pemerintahan Trump telah melampiaskan kemarahan terhadap China atas respon mereka terhadap virus Corona dan spionase ekonomi terhadap undang-undang keamanan nasional baru Hong Kong.

Pernyataan Wray merupakan salah satu dalam serangkaian kecaman keras oleh pejabat senior AS tentang topik tersebut.

Pemerintahan Trump mengatakan sekarang saatnya untuk bangun dari 40 tahun kegagalan kebijakan berkenaan dengan China, sementara para kritikus melihat ini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan Trump dalam menjalankan pemerintahan dan untuk meningkatkan peluangnya untuk memenangkan pemilu kembali.

Yang pasti adalah bahwa dinamika kekuatan antara China dan AS telah berubah secara fundamental, dan tidak peduli siapa yang akan menjadi presiden AS berikutnya, tensi yang tegang dalam hubungan China-AS pasti akan berlanjut.

Dalam pernyataan yang tak biasa itu, Wray meminta orang-orang kelahiran China yang tinggal di AS untuk menghubungi FBI jika pejabat China mencari mereka kembali.

Ancaman yang ditimbulkan oleh China akan dibahas lebih lanjut oleh jaksa agung dan Menteri Luar Negeri AS dalam beberapa minggu mendatang, kata Wray.

Pidato itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China.

Presiden AS Donald Trump sangat kritis terhadap China di tengah wabah virus Corona, berulang kali menyalahkan negara itu atas pandemi global.

Sementara, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pekan ini bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melarang aplikasi China - termasuk TikTok yang sangat populer.

Aplikasi ini "berfungsi sebagai pelengkap dari pengawasan Partai Komunis China", katanya.

(nvc/nvc)