PBB: Penyakit yang Berpindah dari Hewan ke Manusia Akan Terus Bertambah

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 15:32 WIB
Kelelawar mungkin merupakan sumber pandemi virus corona, kata ahli penyakit menular (Reuters)
Jakarta -

PBB memperingatkan penyakit yang berpindah dari binatang ke manusia meningkat dan akan terus bertambah jika tak dilakukan upaya bersama untuk melindungi margasatwa dan lingkungan.

Laporan yang dikeluarkan PBB dan Badan Penelitian Hewan Ternak Internasional menyebutkan tren ini didorong oleh permintaan kita akan protein hewani, praktik pertanian yang tak ramah lingkungan, dan perubahan iklim.

PBB mengatakan penyakit yang berpindah dari binatang ke manusia, atau zoonosis, menewaskan dua juta orang di seluruh dunia per tahun.

Dikatakan pula, pandemi Covid-19 diperkirakan akan merugikan dunia sebesar US$9 triliun dalam kurun dua tahun ke depan.'

Ebola, virus West Nile dan SARS juga merupakan penyakit zoonosis: mereka berawal pada hewan, kemudian berpindah pada manusia

Apa yang dikatakan laporan tersebut?

Namun demikian, perpindahan penyakit dari hewan ke manusia itu bukanlah otomatis. Akan tetapi didorong oleh degradasi lingkungan, menurut Laporan yang dikeluarkan PBB dan Badan Penelitian Hewan Ternak Internasional.

Contohnya, degradasi lahan, eksploitasi alam liar, penambangan sumber daya alam dan perubahan iklim. Semua hal ini mempengaruhi cara interaksi hewan dan manusia.

"Selama beberapa abad terakhir kita telah melihat setidaknya enam wabah utama virus corona baru," kata Inger Andersen, wakil sekretaris jenderal dan direktur eksekutif Program Lingkungan PBB.

"Selama dua dekade terakhir dan sebelum Covid-19, penyakit zoonosis menyebabkan kerusakan ekonomi US$100 miliar."

A lone man and a cow are seen by a submerged house after a dam collapse in Minas Gerais, Brazil. Photo: January 2019

Seorang pria dan seekor sapi berdiri di samping sebuah rumah yang terendam setelah sebuah bendungan di Minas Gerais, Brasil, runtuh. (AFP)

Dia mengatakan bahwa "dua juta orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah meninggal setiap tahun akibat penyakit zoonosis endemik yang tak tertangani dengan baik - seperti antraks, tuberkulosis sapi dan rabies".

"Ini sering terjadi pada masyarakat dengan masalah pembangunan yang kompleks, ketergantungan yang tinggi pada ternak dan kedekatan dengan satwa liar."

Produksi daging, misalnya, telah meningkat 260% dalam 50 tahun terakhir, kata Andersen.

"Kita telah mengintensifkan pertanian, memperluas infrastruktur dan menambang sumber daya dengan mengorbankan alam liar kita," jelasnya.

"Bendungan, irigasi, dan peternakan terhubung dengan 25% penyakit menular pada manusia. Perjalanan, transportasi, dan rantai pasokan makanan telah menghapus perbatasan dan jarak. Perubahan iklim telah berkontribusi pada penyebaran patogen."

Laporan ini menawarkan strategi pemerintah tentang bagaimana mencegah wabah di masa depan, seperti memberikan insentif pengelolaan lahan berkelanjutan, meningkatkan keanekaragaman hayati dan berinvestasi dalam penelitian ilmiah.

"Ilmu pengetahuannya jelas bahwa jika kita terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem kita, maka kita dapat berharap untuk melihat aliran stabil penyakit ini melompat dari hewan ke manusia di tahun-tahun mendatang," kata Andersen.

"Untuk mencegah wabah di masa depan, kita harus menjadi lebih berhati-hati dalam melindungi lingkungan alam kita."

Tonton video 'WHO: Virus Flu Babi G4 di China Bukan Virus Baru':

(ita/ita)