Kenaikan Kasus Corona Sangat Signifikan, WHO Ingatkan Eropa Bisa Kewalahan

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 08:37 WIB
Kawasan Eropa yang dipantau WHO telah mencatat sekitar 20.000 kasus baru Covid-19. (PA Media)
Jakarta -

Kasus Covid-19 mingguan di Eropa meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan pelonggaran aturan karantina wilayah atau lockdown, ujar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di 11 tempat, termasuk Armenia, Swedia, Moldova dan Makedonia Utara, percepatan penularan telah menyebabkan "kebangkitan kasus yang sangat signifikan", kata Direktur Regional Dr Hans Henri Kluge.

Peringatannya tentang risiko kebangkitan kasus telah menjadi kenyataan, katanya.

Jika dibiarkan, dia memperingatkan sistem kesehatan akan "terdorong ke jurang".

Lebih dari 2,6 juta kasus Covid-19 dan 195.000 kematian telah dilaporkan di wilayah Eropa yang dipantau WHO, yang mencakup 54 negara dan tujuh wilayah di Eropa, Timur Tengah dan Asia Tengah.

Hampir 20.000 kasus baru dan lebih dari 700 kematian baru dicatat setiap hari.

"Selama berminggu-minggu, saya telah berbicara tentang risiko peningkatan kasus ketika negara-negara menyesuaikan aturan-aturannya [terkait lockdown]," kata Dr. Kluge dalam konferensi pers virtual pada hari Kamis.

"Di beberapa negara di Eropa, risiko ini kini menjadi kenyataan - 30 negara telah mencatat peningkatan dalam kasus kumulatif baru selama dua minggu terakhir.

"Di 11 negara ini, transmisi cepat telah menyebabkan kebangkitan kasus yang sangat signifikan sehingga jika dibiarkan itu akan 'mendorong sistem kesehatan ke jurang' sekali lagi."

Sebanyak 11 negara dan teritori yang kemudian diidentifikasi oleh WHO adalah Armenia, Swedia, Moldova, Makedonia Utara, Azerbaijan, Kazakhstan, Albania, Bosnia-Herzegovina, Kirgistan, Ukraina dan Kosovo.

Kluge mengatakan negara-negara seperti Polandia, Jerman, Spanyol dan Israel telah menanggapi dengan cepat wabah yang menyebar di sejumlah tempat, seperti sekolah, tambang batu bara, dan tempat produksi makanan. Negara-negara itu, dikatakan Kluge, mengendalikan wabah dengan intervensi cepat.

Meskipun ada peringatan tentang kebangkitan kasus, dia mengatakan WHO mengantisipasi bahwa situasi akan lebih tenang di sebagian besar negara selama musim panas.

"Tapi kita memang harus bersiap untuk musim gugur, ketika Covid-19 dapat bertemu influenza musiman, pneumonia, penyakit lain juga, karena pada akhirnya virus masih aktif beredar di komunitas dan tidak ada pengobatan yang efektif, tidak ada vaksin yang efektif, belum ada. "

Jerman dan Prancis menjanjikan dukungan

Dalam perkembangan terpisah pada hari Kamis, Jerman dan Prancis menjanjikan dukungan mereka kepada WHO setelah mengadakan pembicaraan dengan direktur jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, di Jenewa.

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negaranya berencana untuk memberikan lebih dari 500 juta (Rp 7,9 triliun) bantuan dalam bentuk uang dan peralatan untuk WHO tahun ini.

Jens Spahn, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Olivier Veran in Geneva

Menteri Kesehatan Jerman dan Prancis berjanji akan memberi bantuan pada WHO. (Reuters)

Dia menekankan bahwa pandemi global membutuhkan tanggapan terkoordinasi global dan menambahkan: "Tanggapan nasional yang terisolasi untuk masalah internasional pasti akan gagal."

Menteri kesehatan Perancis, Olivier Veran, menjanjikan 50 juta dana langsung untuk WHO dan 90 juta lainnya untuk pusat penelitiannya di Lyon.

"Saya benar-benar percaya bahwa dunia membutuhkan, lebih dari sebelumnya, sebuah organisasi multilateral. Saya percaya dunia tidak dapat menyingkirkan mitra-mitranya," katanya.

Para pemimpin Eropa ingin menunjukkan dukungan publik kepada WHO setelah AS menyebut badan itu "boneka China" dan mengatakan akan memotong dana untuk badan itu, bahkan meninggalkannya.

Tonton video 'Corona di Dunia Tembus 9,4 Juta, AS Masih Tertinggi':

(ita/ita)