Siapa Zoomer dan Mengapa Mereka Bikin Trump 'Sakit Kepala'?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 18:08 WIB
Sejumlah survei menyebut zoomer progresif pada isu gender dan LGBTQ. Namun mereka lebih konservatif tentang persoalan imigrasi. (Getty Images)
Washington DC -

Tim sukses Donald Trump pekan lalu mengira bakal mencetak rekor jumlah pendukung terbanyak yang hadir dalam sebuah kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pada 20 Juni lalu, dari total 19 ribu bangku di arena kampanyenya di Tulsa, Oklahoma, hanya satu pertiga saja yang terisi.

Belakangan muncul kabar, kampanye Trump itu sepi karena pengaruh sekelompok muda-mudi pecinta K-Pop dan orang muda yang aktif di TikTok.

Melalui media sosial TikTok, muda-mudi itu meyakinkan kawan-kawan mereka untuk mendaftar ke kampanye Trump -- bukan untuk benar-benar hadir, tapi mengelabui calon presiden dari Partai Republik tersebut.

Trump speaking in Tulsa with rows of empty seats in the background

Zoomer diyakini sebagai pihak yang mengacaukan kampanye kontroversial Trump di Tulsa, Oklahoma. (Getty Images)

Soal bangku-bangku kosong itu, tim sukses Trump menyalahkan media massa dan pendemo yang berunjuk rasa di luar arena kampanye.

Orang-orang di balik Trump mengklaim, pendukung muda mereka tidak terpengaruh situasi yang terjadi.

Namun perbincangan publik kini berfokus tentang bagaimana para muda-mudi penggila musik pop Korea terlibat dalam upaya mengelabui Trump.

Kejadian di Tulsa itu juga disebut sebagai cermin seberapa besar kekuatan Zoomer alias generasi Z. Kelompok demografi baru ini diyakini bakal membuat Trump dan banyak politikus lainnya pening.

Siapakah zoomer?

Ini adalah panggilan untuk Generasi Z alias orang-orang yang lahir pada pertengahan dekade 1990-an hingga awal tahun 2010-an. Rentang waktu lahir generasi ini masih menjadi perdebatan akademis.

Terminologi Zoomer berkaitan dengan boomer, panggilan untuk orang-orang yang lahir antara tahun 1944 dan 1964.

Composite image of K-Pop's Hope and BTS, and Black Lives Matter protesters

Sejumlah artis dan penggemar K-Pop diketahui mendukung gerakan Black Lives Matter. (Getty Images)

Mengapa Zoomer penting?

Generasi Z menguasai dunia dalam konteks jumlah. Beberapa penelitian menyebut mereka adalah populasi terbesar saat ini, sekitar 32% dari total penduduk dunia.

Walau generasi milenial yang lahir antara 1981-1996 masih menjadi kelompok orang dewasa terbesar di dunia. Menurut Bank Dunia, 41% angkatan kerja dunia kini diisi oleh Zoomer.

Apakah zoomer benar-benar berbeda?

Menurut sejumlah sosiolog, Generasi Z unggul dalam beberapa hal.

Young black girl holidng a mobile phone

Zoomer dianggap 'terlahir digital'. (Getty Images)

Perihal yang paling penting adalah bahwa mereka merupakan generasi pertama yang 'terlahir digital'. Artinya, mereka datang ke dunia yang secara cepat berubah karena inovasi teknologi seperti internet.

Faktanya, di seluruh dunia, zoomer adalah kelompok orang yang paling intensif menggunakan media sosial. Mereka mengalahkan milenial soal jumlah jam dalam sehari untuk mengakses berbagai platform tersebut.

Sebuah kajian menunjukkan, hampir 60% zoomer menggunakan media sosial sebagai sumber utama meraih berita.

Penelitian mengindikasikan bahwa Zoomer lebih berpeluang mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi ketimbang generasi sebelum mereka.

Seperti milenial, Zoomer juga tidak malu terlibat dalam aktivisme. Mereka bahkan terjun di usia yang lebih awal ke pergerakan sosial.

Pada tahun 2018, jajak pendapat di Inggris menunjukkan bahwa Zoomer dua kali lebih mengedepankan konsep konsumerisme etis daripada milenial.

A group of youngsters

Zoomers merupakan kelompok orang yang beragam di berbagai negara. (Getty Images)

Dua aktivis paling terkenal dari generasi ini adalah pemenang Nobel Perdamaian asal Pakistan, Malala Yousafzai (22 tahun) dan aktivis lingkungan dari Swedia, Greta Thunberg (16), yang memenangkan Tokoh Tahun 2019 versi Majalah Time.

Apakah Zoomer lebih beragam?

Ini merupakan fakta di sejumlah negara. Sepanjang sejarah Amerika Serikat, Zoomer adalah kelompok yang paling beragam dari segi etnis.

Tahun 2019, lembaga kajian Pew Research Centre memperkirakan 52% Zoomer di AS berkulit putih. Sementara pada populasi AS secara keseluruhan, persentase kelompok kulit putih mencapai 60%.

Zoomer juga semakin beragam di banyak negara yang kedatangan imigran sepanjang dua dekade terakhir.

Photo collage showing Malala Yousafzai and Greta Thunberg

Zoomer cenderung terlibat dalam aktivisme, seperti Malala dan Greta. (Getty Images)

Apakah Zoomer lebih toleran daripada generasi sebelumnya?

Salah satu survei tentang Zoomer yang paling dibicarakan dilakukan Varkey Foundation tahun 2016. Badan amal pendidikan itu mewawancarai 20 ribu orang yang berusia 15-21 tahun di 20 negara di lima benua berbeda.

Hasil jajak pendapat itu memperlihatkan berbagai sudut pandang Generasi Z terkait sejumlah isu.

Mereka sangat mendukung kesetaraan gender (89%), hak untuk aborsi (63%), dan pernikahan sesama jenis (63%) -- walau ada variasi persentase yang tajam di beberapa wilayah.

Di sisi lain, hanya 31% Zoomer di survei itu yang yakin bahwa imigran harus mendapat peluang yang lebih besar untuk bekerja dan tinggal secara legal di negara mereka.

Bagaimana tentang politik?

Apakah Generasi Z yang sangat menggilai teknologi lebih terlibat dalam aktivitas politik?

Woman preparing to hope

Apakah Zoomer menggunakan hak pilih mereka? (Getty Images)

Sebagian besar Zoomer di AS belum menentukan sikap mereka.

Kelompok pemilih berusia 18-29 tahun pada Pilpres AS merupakan yang paling sedikit menggunakan suara mereka.

Pada Pilpres AS tahun 2016 yang dimenangkan Trump, hanya 50% Zoomer yang menggunakan hak pilih.

Sementara itu, Zoomer yang menggunakan suara meningkat dalam pemilu paruh waktu meningkat dari 20% pada 2014 menjadi 36% tahun 2018.

Akademisi menilai perbedaan persentase itu dipengaruhi seberapa banyak Zoomer yang telah mencapai batas usia pemilih.

Pemilih muda berada di balik sejumlah perubahan politik, seperti terpilihnya Alexandria Ocasio-Cortez (30 tahun) menjadi anggota perempuan termuda yang pernah duduk di Kongres AS.

Tidak mengherankan bahwa Ocasio-Cortez memuji Zoomer yang berperan membuat Trump malu soal kampanye di Tulsa, akhir pekan lalu.

Pada Pilpres AS tahun 2016, hanya 37% pemilih muda yang memilih Trump. Sementara kandidat lainnya, Hillary Clinton, meraih 55% suara muda-mudi.

Namun banyak kalangan menilai anggapan bahwa Zoomer cenderung berpikiran 'kiri' sebagai sesuatu yang keliru.

Dari total suara Jair Bolsonaro yang memenangkan Pilpres Brasil tahun 2018 misalnya, 60% di antaranya berasal dari pemilih berusia 18-24 tahun.

Sementara itu, walau politik dan penggemar K-Pop sepertinya bukan perpaduan yang wajar, keberadaan muda-mudi itu di internet menunjukkan kedekatan mereka dengan isu sosial serta politik.

Begitu pula kontribusi mereka pada kerja sosial yang terjadi belakangan ini.

Di tengah protes menentang rasisme dan brutalitas polisi, kelompok pecinta K-Pop muncul sebagai sekutu dekat gerakan Black Lives Movement. Mereka menggalang dana dan menggerakkan orang di seluruh dunia melalui media sosial.

Dengan basis penggemar yang terus membesar di berbagai negara, kehadiran penggemar K-Pop dalam isu politik akan semakin diperhitungkan.

Dan mereka sepertinya akan membuat Trump serta politikus lainnya pening.

Tonton video 'Popularitas Menurun, Trump Mainkan Isu Rasial di Kampanyenya':

(nvc/nvc)