Begini Cara Turki Kendalikan Corona dan Tak Bernasib Seperti Italia

ADVERTISEMENT

Begini Cara Turki Kendalikan Corona dan Tak Bernasib Seperti Italia

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 06 Jun 2020 17:31 WIB
Kematian akibat COVID-19 di Turki lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di Eropa. (EPA)
Ankara -

COVID-19 datang belakangan ke Turki, yaitu tanggal 11 Maret tapi dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Dalam sebulan, keseluruhan 81 provinsi di Turki sudah terpapar.

Ini merupakan penyebaran wabah paling pesat di dunia, lebih buruk ketimbang China, Italia dan Inggris.

Ada ketakutan, kematian di Turki akan melampaui Italia, yang ketika itu merupakan negara paling terdampak.

Tiga bulan berlalu, ketakutan tak terjadi. Bahkan tanpa adanya karantina menyeluruh.

Angka resmi kematian adalah 4.397. Beberapa dokter menyangsikannya, menyatakan angka sesungguhnya bisa dua kali lebih tinggi karena Turki hanya menghitung korban yang dites positif.

Meski begitu, dalam catatan di era pandemi COVID-19 ini, angka ini relatif rendah untuk jumlah penduduk 83 juta.

Karantina tak lazim

Para ahli mengingatkan sulit untuk menyimpulkan dan membandingkan statistik sementara banyak negara masih memakamkan korban meninggal. Namun Turki jelas "telah menghindar dari bencana yang lebih besar," menurut Dr Jeremy Rossman, dosen Virologi di University of Kent.

"Turki cocok dengan kategori beberapa negara yang merespons cukup cepat dengan tes, pelacakan, isolasi dan pembatasan pergerakan," katanya kepada BBC.

"Tidak banyak negara seperti itu yang berhasil secara efektif mengurangi penyebaran virus."

Selagi virus menyebar, pihak berwenang mengambil langkah terkait kegiatan sehari-hari. Warga dilarang ke kedai kopi, tak belanja ke pasar yang ramai, tak salat berjemaah di masjid.

Warga 65 tahun ke atas, dan 20 tahun ke bawah harus diam di rumah sepenuhnya. Akhir pekan warga tak boleh keluar rumah, dan kota-kota dikarantina.

Istanbul adalah pusat wabah. Kota ini kehilangan ritmenya, bagai jantung yang kehilangan detak.

Melacak virus

Kini pembatasan dilonggarkan, tetapi dr. Melek Nur Aslan tetap waspada. Ia adalah direktur kesehatan publik di distrik Fatih, daerah sangat padat penduduk di pusat kota Istanbul.

Dr. Aslan yang pintar bicara dan energik, memimpin operasi pelacakan kontak. Di seluruh Turki ada 6.000 tim lacak kontak.

"Kami merasa sedang dalam perang," katanya. "Orang tidak pulang. Sekalipun jam kerja delapan jam selesai, tim kami tak langsung pulang karena mereka tahu ini tugas yang harus selesai, sebelum menyebar ke semua orang."

Dr. Aslan mengatakan mereka mulai melacak virus sejak hari pertama, 11 Maret. Ini berkat pengalaman mereka selama berpuluh tahun melacak cacar.

"Kami siap," katanya. "Kami tinggal ambil program itu dari lemari, dan menggunakannya untuk COVID-19."

Saya dan dr. Aslan lalu bergabung dengan dua orang dokter di jalan yang sempit di Fatih. Mereka dilengkapi dengan aplikasi dan alat pelindung diri.

Mereka menuju sebuah blok apartemen tempat ditemukan penghuni berusia 20-an sedang dikarantina. Teman mereka positif COVID-19.

Kedua penghuni mengenakan masker dites di lokasi dan mendapat hasilnya dalam 24 jam. Itu adalah sehari sesudah keduanya memperlihatkan gejala ringan.

Salah seorang dari mereka, Nazli Demiralp, 29 tahun, gembira dengan tanggapan yang sigap.

"Kami ikuti berita dari luar negeri," katanya, "Dan ketika kami dengar tentang virus ini pertama kali, kami sangat takut. Namun Turki bertindak lebih cepat daripada yang kami duga. Lebih sigap daripada Eropa dan Amerika Serikat."

Turki menyambut hidroksiklorokuin

Turki punya pengalaman terkait kesehatan publik, menurut direktur WHO Turki, dr. Irshad Shaikh.

"Awalnya kami khawatir," katanya kepada BBC.

"Kasus positif di Turki 3.500 per hari. Namun strategi tes di sini berhasil. Mereka tak perlu menunggu lima atau enam hari untuk mendapat hasil."

Dr. Irshad juga memuji karantina, isolasi dan pelacakan kontak, sekalipun menurutnya terlalu cepat menilai keberhasilan Turki dalam menerapkan protokol perawatan pasien COVID-19.

Termasuk yang harus dinilai adalah penggunaan obat antimalaria yang masih diragukan, hidroksiklorokuin, sebagai standar perawatan. Seperti diketahui, obat ini dipuji oleh Presiden Trump dari AS, tapi ditolak oleh para ahli internasional.

WHO bahkan sementara ini menghentikan uji coba obat ini sebagai pengobatan virus, seturut riset yang diterbitkan di Lancet yang memperlihatkan hidroksiklorokuin bisa menyebabkan serangan jantung pada pasien COVID-19.

Kami mendapat akses ke rumah sakit yang menjadi perawatan standar bagi ribuan pasien COVID-19. Rumah sakit Dr Sehit Ilhan Varank merupakan rumah sakit berumur dua tahun, milik negara, dan sangat canggih. Ruangannya terang dan cukup luas.

Dokter kepala di sana, Nurettin Yiyit yang karya seninya juga dipajang di dinding rumah sakit mengatakan kuncinya adalah menggunakan hidroksiklorokuin.

"Negara lain terlambat menggunakan obat ini," katanya. "Khususnya Amerika Serikat. Kami langsung menggunakan sejak awal. Kami tak ragu tentang obat ini. Kami percaya ini efektif karena hasilnya demikian."

Dalam tur di rumah sakit, ia menjelaskan bahwa pendekatan Turki adalah "mendahului virus dengan perawatan cepat dan merawat secara agresif."

Mereka menggunakan hidroksiklorokuin dan obat lain, juga plasma darah dan oksigen berkonsentrasi tinggi.

Dr. Yiyit bangga bahwa tingkat kematian di rumah sakitnya di bawah 1%, dan tak ada pasien yang harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Sedapat mungkin, mereka mencoba agar pasien tidak masuk ke sana sehingga harus memakai ventilator.

Kami bertemu Hakim Sukuk, 40 tahun, yang baru meninggalkan ICU dan sedang menuju rumah. Ia tampak tersenyum syukur.

"Semua merawat saya dengan baik," katanya sambil duduk di tempat tidur. "Bagaikan berada di tangan ibu saya sendiri."

Belum usai

Penanganan COVID-19 oleh pemerintah tidak dianggap sepenuhnya berhasil oleh asosiasi dokter Turki.

Mereka berkata banyak kekeliruan dalam respons pemerintah, termasuk tidak segera menutup perbatasan.

Namun, Turki mendapat pujian dari WHO.

"Ini wabah yang masih belum diketahui," kata Dr Shaikh. "Kami menduga lebih banyak orang yang akan sakit. Ini sudah benar."

Turki memiliki keuntungan dalam perang melawan pandemi COVID-19, termasuk populasinya yang muda dan jumlah perawatan ICU yang banyak. Sementara itu, kasus-kasus baru terus terjadi, saat ini sekitar 1.000 per hari.

Turki saat ini dipandang sebagai negeri yang berhasil, tetapi masih banyak peringatan untuk mereka karena pandemi ini belum sepenuhnya usai.

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT