Mengapa Aksi Demo Damai Kasus George Floyd Bisa Berubah Jadi Kerusuhan?

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 18:51 WIB
Para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di banyak kota di AS. (Getty Images)
Washington -

Sejumlah kebijakan jam malam diberlakukan di beberapa kota di AS setelah kerusuhan dan unjuk rasa menyebar ke seluruh negara bagian terkait kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd saat ditangkap polisi.

Sebagian besar unjuk rasa ini berlangsung damai, namun dalam mayoritas kasus, para pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan polisi, membakar mobil-mobil polisi, merusak properti atau menjarah toko-toko.

Garda Nasional mengerahkan 5.000 personelnya di 15 negara bagian dan Washington DC.

Para ahli membandingkannya dengan kerusuhan di Inggris pada 2011 silam, ketika aksi damai terkait kematian seorang pria yang ditembak polisi berubah menjadi kericuhan selama empat hari, disertai penjarahan besar-besaran dan gedung-gedung yang dibakar.

Bagaimana demonstrasi itu bisa meluas begitu cepat dan mengapa beberapa di antaranya berubah menjadi kerusuhan?

Unjuk rasa meluas jika ada kesamaan identitas

Orang unjuk rasa

Banyak unjuk rasa yang berlangsung di siang hari berlangsung secara damai. (AFP)

Insiden seperti kematian Floyd bisa "menjadi momen pemicu karena mewakili pengalaman yang lebih luas di antara banyak orang, tentang hubungan antara polisi dan komunitas kulit hitam", kata Profesor Clifford Stott, seorang ahli yang mempelajari perilaku kerumunan dan ketertiban umum di Universitas Keele, Inggris.

Konfrontasi sangat mungkin terjadi ketika ada ketidaksetaraan struktural, tambahnya.

Stott mempelajari secara luas soal kerusuhan di Inggris pada 2011, dan mendapati bahwa kerusuhan di sana meluas karena para pengunjuk rasa di kota-kota yang berbeda saling mengidentifikasi - baik karena etnis mereka, atau karena mereka memiliki rasa benci yang sama terhadap polisi.

Ini berarti bahwa, ketika polisi tampak kewalahan, para perusuh di berbagai distrik merasa diberdayakan untuk melakukan mobilisasi.

Bagaimana polisi bereaksi terhadap sebuah demonstrasi?

Kericuhan mungkin tidak akan terjadi jika polisi menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat, namun yang tak kalah penting, menurut para ahli, bagaimana polisi bereaksi terhadap demonstrasi tersebut.

Unjuk rasa

Para pengunjuk rasa berhadapan dengan polisi di Los Angeles pada hari Sabtu (30/5). (EPA)

"Kerusuhan adalah produk interaksi, sebagian besar berkaitan dengan sifat cara polisi memperlakukan orang banyak," kata Prof Stott.

Sebagai contoh, katanya, dalam kerumunan besar para pengunjuk rasa, ketegangan bisa muncul hanya karena beberapa orang melawan polisi.

Namun, "polisi sering bereaksi terhadap massa secara keseluruhan" dan jika orang merasa bahwa penggunaan kekerasan oleh polisi terhadap mereka tidak dapat dibenarkan, ini meningkatkan mentalitas "kita lawan mereka".

Ini "dapat mengubah cara orang merasakan tentang kekerasan dan konfrontasi - misalnya, mereka mungkin mulai merasa bahwa kekerasan itu sah-sah saja karena situasi yang ada."

Darnell Hunt, dekan ilmu sosial di UCLA, yakin polisi di AS "meningkatkan agresivitas mereka" selama akhir pekan.

"Mengerahkan garda nasional, menggunakan peluru karet, gas air mata, dan semprotan merica. Ini adalah serangkaian taktik polisi yang dapat memperburuk situasi yang sudah tegang."

Ini adalah pola yang juga sudah terlihat dalam sejumlah aksi unjuk rasa lainnya di seluruh dunia. Misalnya, pada 2019, selama tujuh bulan Hong Kong dilanda protes antipemerintah, yang sebagian besar awalnya berlangsung damai dan berakhir dengan kericuhan.

Para pakar menyoroti serangkaian taktik polisi yang dipandang sebagai tangan kosong - termasuk penembakan gas air mata dalam jumlah besar terhadap para demonstran muda - sebagai langkah yang bisa membangkitkan emosi para pengunjuk rasa dan membuat mereka lebih konfrontatif.

Prof Stott berpendapat bahwa pasukan polisi yang telah berinvestasi dalam pelatihan deeskalasi lebih mungkin untuk menghindari kekerasan saat berlangsungnya unjuk rasa.

Dia merujuk berbagai unjuk rasa yang bisa tetap berlangsung damai di AS selama akhir pekan, seperti di Camden, New Jersey, ketika para petugas kepolisian bergabung dengan warga dalam pawai melawan rasialisme.

Kepolisian Camden mengunggah foto di Twitter yang menunjukkan kepala kepolisian berdiri dengan para pengunjuk rasa: Chief Wysocki dalam aksi hari ini, bergabung bersama warga untuk mengenang George Floyd.

https://twitter.com/CamdenCountyPD/status/1266882383980216320

Tergantung pada apa yang diyakini

Psikologi moral dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa unjuk rasa berubah menjadi kericuhan, kata Marlon Mooijman, seorang asisten profesor dalam perilaku organisasi di Rice University, Amerika Serikat.

Moralitas seseorang adalah pusat bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Jadi "ketika kita melihat sesuatu sebagai tidak sesuatu yang tidak bermoral, itu menciptakan perasaan yang kuat, karena kita merasa pemahaman kita tentang moralitas harus dilindungi".

"Ini dapat mengesampingkan kekhawatiran orang lain tentang menjaga perdamaian", karena "jika Anda berpikir sistemnya rusak, Anda akan benar-benar ingin melakukan sesuatu yang drastis untuk menunjukkan bahwa itu tidak dapat diterima."

Ini dapat berlaku untuk berbagai kepercayaan, misalnya, dalam kasus yang ekstrem, seseorang yang menganggap aborsi adalah penghinaan moral mungkin lebih cenderung mengatakan tidak apa-apa untuk mengebom klinik aborsi, katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial juga bisa membuat orang lebih rentan untuk mendukung kekerasan, jika mereka percaya bahwa teman sebaya mereka memiliki pandangan moral yang sama dengan mereka, tambahnya

Penjarahan dan vandalisme bisa menjadi target

Di AS, ratusan bisnis mengalami kerugian, dan penjarahan pun meluas di Los Angeles dan Minneapolis selama akhir pekan.

Namun, Prof Stott memperingatkan meskipun mudah untuk berasumsi bahwa kerusuhan dan kerumunan itu "tidak rasional dan kacau, tak ada satupun yang benar - itu sangat terstruktur dan bermakna bagi orang-orang yang mengambil bagian".

"Sampai batas tertentu, penjarahan adalah ekspresi dari kekuatan - warga kulit hitam mungkin merasa tidak berdaya dalam kaitannya dengan polisi - tetapi dalam konteks kerusuhan, para perusuh sejenak menjadi lebih kuat daripada polisi."

Berbagai penelitian yang mempelajari tentang kerusuhan sebelumnya menunjukkan bahwa tempat-tempat yang dijarah sering kali terkait dengan bisnis-bisnis besar, dan bahwa penjarahan "sering kali berkaitan dengan perasaan ketidaksetaraan yang terkait dengan hidup dalam ekonomi kapitalistik", katanya.

Toko Apple

Toko elektronik Apple di Los Angeles menjadi sasaran penjarahan. (AFP)

Prof Hunt mempelajari kerusuhan Los Angeles tahun 1992, yang dipicu oleh pembebasan empat petugas polisi kulit putih terkait rekaman video yang memperlihatkan pemukulan terhadap pengendara motor kulit hitam, Rodney King.

Dia mengatakan ada "sejarah panjang penargetan, atau selektivitas", dalam vandalisme dan penjarahan.

"Dalam pemberontakan LA, anda melihat para pengunjuk rasa menyemprotkan cat dengan tulisan 'milik minoritas' di pusat-pusat bisnis.

Namun, baik Prof Stott dan Prof Hunt mengingatkan bahwa masalah penjarahan ini adalah hal yang pelik, terutama karena banyak orang dengan motivasi berbeda ikut serta, termasuk orang miskin, atau penjahat terorganisir.

Gagasan bahwa kerusuhan menjadi sasaran dan peristiwa yang berarti bagi mereka yang ikut serta juga dapat menjelaskan mengapa penjarahan terjadi dalam beberapa protes, tetapi tidak pada yang lain.

Di Hong Kong misalnya, para pengunjuk rasa menghancurkan jendela toko, melemparkan bom bensin ke polisi, dan merusak lambang nasional - namun tidak ada penjarahan.

Lawrence Ho, seorang spesialis pemolisian dan ketertiban umum di Education University of Hong Kong, meyakini unjuk rasa ini dipicu oleh perkembangan politik dan kemarahan pada polisi, bukan diskriminasi dan ketidaksetaraan sosial.

"Vandalisme ditargetkan pada toko-toko yang tampaknya memiliki koneksi kuat dengan daratan China," kata Dr Ho. "Itu adalah upaya yang disengaja untuk menyampaikan pesan."

Bagaimana kekerasan bisa dicegah?

Para pakar ketertiban umum mengatakan bahwa bagi polisi, dianggap sah dan mampu melibatkan para pengunjuk rasa dalam dialog adalah kuncinya.

"Pemolisian yang baik mencoba untuk menghindari mentalitas 'kita' dan 'mereka', dan juga berusaha menghindari perasaan bahwa polisi dapat bertindak dengan cara yang oleh orang-orang dianggap tidak sah," kata Prof Stott.

Mobil polisiKendaraan-kendaraan milik polisi termasuk yang ada di New York dibakar massa pengunjuk rasa. (Reuters)

Dr Ho juga yakin bahwa negosiasi adalah cara terbaik - tetapi menunjukkan bahwa "salah satu hal tersulit hari ini adalah bahwa banyak unjuk rasa berlangsung tanpa pemimpin. Jika Anda tidak dapat menemukan pemimpin, Anda tidak dapat bernegosiasi dengan mereka."

Secara umum, tambahnya, para politisi bisa membuat masalah menjadi lebih baik - atau lebih buruk - berdasarkan pendekatan mereka terhadap dialog, dan apakah mereka menggunakan undang-undang darurat.

Namun, pada akhirnya, kerusuhan bisa menjadi gejala ketegangan yang mendalam dan masalah rumit yang tidak memiliki solusi yang mudah.

Prof Hunt mengatakan kerusuhan AS pekan ini adalah yang paling serius sejak 1968 - setelah Martin Luther King dibunuh.

"Anda tidak dapat berpikir tentang kebrutalan polisi, dan profil komunitas tertentu, tanpa memikirkan ketidaksetaraan yang ada di masyarakat dan menyulut keprihatinan itu," katanya.

"Kasus George Floyd bukanlah penyebabnya - ini lebih seperti peristiwa pemuncak. Anda dapat berargumen bahkan pembunuhan yang dilakukan polisi adalah gejala - penyebab utamanya adalah supremasi kulit putih, rasisme, dan hal-hal yang secara mendasar belum ditangani oleh AS. "

Tonton video 'Kerusuhan Tidak akan Membawa George Floyd Kembali':

(ita/ita)