Salah Masuk Rumah, 2 Pria yang Disewa untuk Fantasi Seks Ditangkap Polisi

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 12:06 WIB
Sapu adalah bagian dari fantasi seks yang rencananya mau dilakukan. (Getty Images)
Jakarta -

Dua laki-laki yang disewa untuk sebuah aktivitas seks di Australia masuk ke rumah yang salah.

Salah satu dari mereka kemudian berhadapan dengan aparat hukum karena kedapatan membawa parang pada Juli 2019, sebagai bagian dari adegan fantasi seksual yang rencananya mau dia dilakukan.

Namun, kini ia sudah bebas, lapor media di Australia.

Cerita itu bermula ketika dua laki-laki itu disewa untuk melayani fantasi klien yang meminta "diikat, dengan dia mengenakan pakaian dalam, dan dibelai dengan sapu".

Hakim menyimpulkan bahwa "fakta-fakta dari kasus ini tidak biasa".

Permainan fantasi seksual itu diatur melalui Facebook oleh seorang pria yang tinggal dekat Griffith, New South Wales, yang memberikan alamatnya kepada kedua laki-laki itu dan kemudian menyewa mereka.

"Dia bersedia membayar 5.000 dolar Australia (sekitar Rp 48 juta) jika 'layanannya' itu benar-benar baik," kata hakim.

Namun, klien itu ternyata pindah ke alamat lain yang berjarak 50 km dari alamat sebelumnya, tanpa memberi tahu kedua orang itu.

Akibatnya, mereka memasuki rumah yang salah.

Ketika pemilik rumah itu melihat lampu menyala di dapur pada pukul 06:15, dia menganggap itu adalah temannya yang datang setiap hari ke rumahnya untuk membuat kopi pagi.

Ketika kedua laki-laki itu memanggil nama klien mereka, pemilik rumah menyalakan lampu, dan melihat mereka tengah berdiri di atas tempat tidurnya dengan parang.

Saat dua laki-laki itu menyadari kesalahan mereka, salah dari mereka mengatakan "Maaf, sobat" dan menjabat tangan pemilik rumah, menurut laporan media setempat.

Kedua lelaki itu kemudian pergi ke alamat yang benar, di mana si pemesan melihat satu dari laki-laki itu membawa "pisau besar" di celananya.

Klien itu kemudian memasak bacon, telur, dan mie, dan tidak lama kemudian, polisi tiba di rumahnya dan menangkap pasangan yang disewa itu.

Hakim memutuskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan tindakan pria itu disengaja.

"Mereka membawa parang sebagai properti atau sesuatu untuk digunakan dalam fantasi seks itu," katanya.

"Fantasi itu tanpa direncanakan dan ada diskresi tentang bagaimana aktivitas seks itu akan dilakukan."

Seorang pengacara untuk Terrence Leroy, salah satu terdakwa, mengatakan: "Ini adalah perjanjian komersial untuk mengikat dan membelai klien setengah telanjang dengan sapu. Maksudnya bukan untuk mengintimidasi."

(ita/ita)