Tim China Daki Gunung Everest, Satu-satunya Pendaki di Tengah Pandemi Corona

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 08:27 WIB
Jakarta -

Gunung Everest

Gunung Everest dilihat dari base camp di China (Getty Images)

Sekelompok pendaki dari China telah mencapai puncak Gunung Everest, satu-satunya kelompok yang mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut di tengah pandemi virus corona.

Media China melaporkan tim China ini melakukan pengukuran ulang ketinggian Everest, yang berada di perbatasan China dengan Nepal.

Sampai sekarang, tinggi Everest menurut China empat meter lebih rendah dari versi Nepal. Hal itu mungkin dipengaruhi oleh gempa bumi besar tahun 2015 lalu.

Tahun ini, China dan Nepal sama-sama melarang pendaki asing menaiki Everest karena pembatasan perjalanan akibat virus corona.

China hanya mengijinkan warganya untuk mendaki pada musim semi ini, sementara Nepal telah membatalkan semua ekspedisi.

Tim asal China tersebut memulai pendakiannya pada April, meski demikian upayanya untuk mencapai puncak sempat terhambat oleh cuaca buruk.

Tayangan langsung oleh Televisi Sentral China (CCTV) menunjukkan tim survei berupaya mencapai puncak di tengah angin.

"Setelah mencapai puncak, tim mulai mendirikan penanda survei di puncak Everest yang tertutup salju, yang luasnya kurang dari 20 meter persegi," kata kantor berita Xinhua.

Anggota tim survei dari China.

Tim survei dari China di Base Camp Everest (10/05) (Getty Images)

Pemandu tim baru berhasil menancapkan tali-temali menuju puncak pada Selasa (26/05), sehingga tim bisa naik, kata Xinhua.

"Dua surveyor profesional telah ditarik dari tim yang mencapai puncak lantaran ketidakpastian soal cuaca dan pasokan beberapa hal, seperti oksigen, yang kurang," kata Xinhua.

Berdasarkan catatan pendakian, sangat jarang pendaki China berada seorang diri di puncak.

"Pada musim semi 1960, hanya pendaki asal China yang sukses mencapai puncak. Pendaki dari India juga mencoba namun gagal," kata Richard Salisbury dari Himalayan Database, sebuah organisasi yang mencatat semua ekspedisi di Himalaya.

"Ada beberapa pendakian untuk mengintai, riset, dan latihan dari China dari 1958 sampai 1967 ketika tidak ada pendaki lain di gunung Everest, namun mereka tidak sampai puncak."

Kesuksesan tim survey dari China mencapai puncak Everest diraih saat China merayakan 60 tahun kesuksesan pendakian puncak Everest pertamanya.

Operator ekspedisi dari Barat mengatakan kewajiban karantina bagi pendaki asing dan pemberhentian sementara penerbangan ke Tibet karena lockdown mengakibatkan mereka menunda ekspedisinya.

Mengukur kembali Everest

Ketinggian Everest versi China adalah 8.844,43 meter (tidak mencakup bagian puncak yang ditutup salju) setelah gunung itu diukur pada 2005.

Grafik ketinggian EverestBBC

Namun ketinggian Everest versi Nepal adalah 8.848 meter, yang dihitung oleh Survey of India selama masa penjajahan Inggris. Ketinggian ini mencakup puncak salju.

Dampak gempa bumi besar 2015 terhadap Gunung Everest belum diketahui. Beberapa pakar geologi yakin bahwa gempa itu menyusutkan puncak salju Everest.

Beberapa ahli gunung melaporkan Hilary Step, bagian berliku sebelum puncak, tidak lagi ada, mungkin karena gempa bumi. Otoritas Nepal membantah pengamatan tersebut.

Pada 2017, pemerintah Nepal mengukur sendiri ketinggian Everest. Mereka hampir menyelesaikan pemrosesan data yang diperoleh melalui teknik-teknik modern dan tradisional.

"Kami hanya perlu memberi sentuhan akhir sekarang," kata Damodar Dhakal, juru bicara departemen survei Nepal, kepada BBC.

"Rencananya kami akan menyelenggarakan workshop internasional saat ini dan mengumumkan hasil pengukuran kami. Namun lockdown karena Covid-19 menunda semuanya."

Dalam kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Nepal Oktober silam, kedua negara merilis pernyataan gabungan yang mengatakan mereka akan mengumumkan ketinggian baru Gunung Everest bersama-sama.

Belum diketahui apa yang akan dilakukan kedua negara jika hasil pengukuran mereka berbeda.

China sebelumnya mengukur ketinggian Gunung Everest dua kali--pertama pada 1975 dan kedua kalinya tahun 2005.

Anggota tim survei pada 2005 memasang perangkat GPS di puncak, menurut Himalayan Database.

Kali ini, tim survei dari China memakai sistem navigasi satelit BeiDou buatan China, yang diyakini adalah rival dari Global Positioning System milik AS.

"Dengan memakai sistem ini, kedalaman salju, cuaca, dan kecepatan angin juga akan diukur untuk membantu pengawasan glasier dan perlindungan ekologis," kata Xinhua.

(ita/ita)