Remaja Iran Diduga Dibunuh Ayah karena Kabur dengan Kekasih

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 18:20 WIB
Teheran -

Polisi di Iran menangkap seorang pria yang dituduh membunuh putrinya, Romina Ashrafi yang berusia 14 tahun dalam apa yang disebut 'honour killing' atau pembunuhan demi kehormatan, yang memicu kemarahan luas di negara itu.

Romina Ashrafi melarikan diri dari rumahnya di provinsi Gilan dengan pacarnya yang berusia 35 tahun setelah ayahnya menyatakan tidak sepakat jika pasangan itu menikah, lapor media setempat.

Pasangan itu ditemukan oleh polisi. Lalu Romina dipulangkan ke rumahnya meskipun dilaporkan ia sudah mengatakan kepada petugas bahwa dia takut akan keselamatan nyawanya.

Kamis malam lalu, Romina diduga diserang oleh ayahnya di kamarnya.

Outlet berita Gilkhabar.ir melaporkan bahwa Romina 'dibunuh ayahnya' dan setelah itu sang ayah berjalan ke luar rumah "dengan sabit di tangannya dan menyerahkan diri ke polisi".

Pada hari Rabu (27/05), sejumlah surat kabar nasional mengangkat kisah Romina di halaman depan mereka.

"Rumah 'patriarki' yang tidak aman" adalah tajuk utama surat kabar Ebtekar yang pro-reformasi, menyesalkan kegagalan undang-undang yang ada untuk melindungi perempuan dan anak perempuan.

Sementara itu, tagar #Romina_Ashrafi telah digunakan lebih dari 50.000 kali di Twitter, dengan sebagian besar pengguna mengutuk pembunuhan itu dan sifat patriarkal masyarakat Iran secara umum.

Apa itu honour kiling atau 'pembunuhan demi kehormatan'?

'Honour Killing' diartikan sebagai pembunuhan yang dilakukan terhadap seorang anggota keluarga yang dianggap telah memalukan keluarga.

Human Rights Watch mengatakan alasan paling umum terjadinya 'honour killing' adalah:

  • seseorang menolak perkawinan yang terjadi karena perjodohan
  • seseorang menjadi korban kekerasan seksual atau pemerkosaan
  • seseorang melakukan hubungan seksual di luar nikah, meskipun jika hal itu baru dugaan

Tetapi pembunuhan dapat dilakukan untuk alasan yang lebih sepele, seperti seseorang yang berpakaian dengan cara yang dianggap tidak pantas atau menunjukkan perilaku yang dianggap tidak taat.

Shahindokht Molaverdi, mantan wakil presiden untuk urusan perempuan dan keluarga dan sekretaris organisasi Iran Society for Protecting Women's Rights menulis: "Romina bukanlah yang pertama dan juga tidak akan menjadi korban terakhir pembunuhan demi kehormatan."

Dia menambahkan bahwa pembunuhan seperti itu akan berlanjut "selama hukum dan budaya dominan di komunitas lokal dan global tidak membuat efek jera".

Hukum pidana Islam Iran mengurangi hukuman bagi ayah dan anggota keluarga lainnya yang dipidana karena pembunuhan atau secara fisik melukai anak-anak dalam kekerasan rumah tangga atau "pembunuhan demi kehormatan".

Jika seorang pria dinyatakan bersalah membunuh putrinya di Iran, hukumannya antara tiga hingga 10 tahun penjara, lebih rendah dibandingkan hukuman untuk kasus pembunuhan lain yakni hukuman mati atau pembayaran diyeh (uang darah).

Tidak ada statistik tentang seberapa sering "pembunuhan demi kehormatan" telah dilakukan di Iran, tetapi aktivis hak asasi manusia melaporkan tahun 2019 bahwa hal itu terus terjadi, terutama di daerah pedesaan, menurut departemen negara AS.

'Honour Killing' di Palestina dan Pakistan

Pada bulan September tahun 2019, kejadian serupa diduga terjadi pada Israa Ghrayeb, perempuan Palestina berusia 21 tahun.

Israa berasal dari keluarga konservatif, yang mengatur ketat hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dia dilaporkan mengunggah foto dirinya dan tunangannya di sebuah kedai di media sosialnya- foto yang kemudian dihapus.

Israa Ghrayeb

Israa Ghrayeb, make-up artist tenama di Tepi Barat, meninggal setelah dipukuli tiga saudara laki-lakinya karena unggahan foto di media sosial (BBC)

Menurut liputan media setempat, anggota keluarganya menganggap apa yang dilakukan Israa di media sosial tidak terhormat, meski mereka telah menyetujui hubungan itu.

Ia kemudian dilaporkan dipukuli tiga saudara laki-lakinya, hingga kemudian meninggal dunia.

Saudara laki-lakinya itu kemudian diproses secara hukum.

Di Pakistan, juga di tahun 2019, tiga laki-laki dihukum setelah membunuh tiga perempuan, yang sebelumnya terlihat dalam rekaman video tengah bernyanyi dan bertepuk tangan dalam sebuah pernikahan di tahun 2011.

Video itu juga menunjukkan seorang pria menari - meskipun tidak dalam adegan yang sama dengan para perempuan itu.

Ada pula laki-laki lain yang disebut mengambil video itu.

Di distrik Kohistan utara yang terpencil di mana masalah kehormatan keluarga diselesaikan dengan darah, video itu cukup untuk menjadi dasar setidaknya kematian tiga perempuan itu.

Menurut adat setempat, anggota keluarga laki-laki dari seorang perempuan yang dicurigai memiliki hubungan di luar nikah - bahkan hubungan yang tampaknya tidak berbahaya - pertama-tama harus membunuh perempuan itu, dan kemudian mengejar pria yang terlibat.

Itu berarti semua orang dalam video - yang dilihat sebagai "melanggar kehormatan" keluarga perempuan - berada dalam bahaya.

(nvc/nvc)